Kasih yang Aktif

“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yoh. 3:18)

Kalau ada kasih yang aktif, apakah berarti ada kasih yang pasif? Apakah kasih yang pasif itu maksudnya orang yang hanya bicara mengasihi tanpa perbuatan nyata? Mungkin saja, dan memang dalam kenyataan, seperti itulah yang terlihat. Orang bilang, kalau mengajar orang lain hebat, tetapi bagaimana dengan dia sendiri? Ada lagi orang, kelihatan mengasihi (aktif), tapi hanya berpura-pura, tidak tulus, punya motivasi supaya dilihat orang. Kalau yang ini bagaimana lagi?

Yang jelas Alkitab berbicara soal kasih yang tulus dan benar, dengan motivasi yang murni. Tuhan sendiri yang menilai dan memberkati setiap orang yang mengasihi dengan kesungguhan hati. Yohanes mengulangi bahwa mengasihi saudara adalah suatu keharusan, karena hal itu adalah perintah (ay. 11 - cf. Mat.22:39). Suatu perintah selalu menuntut kepatuhan, karena itu adalah sifat atau karakter setiap anak Tuhan. “Love, however, is incomplete alone; it requires action.” (Bill Bright). Bukan seperti Kain yang tanpa kasih, tega menghabisi nyawa adiknya sendiri. Kebenciannya yang begitu membara, sampai membunuh Habel yang tak bersalah itu. Benar-benar hatinya telah menjadi gelap, karena si jahat (Iblis), telah mengambil alih tahta hatinya. Yohanes mengingatkan agar jemaat waktu itu tidak berperilaku seperti itu. Hingga hari ini, tabiat “benci” akan kebenaran, semakin membara dalam hati orang yang belum mengerti dan percaya kepada Kristus. Namun dapatlah dimaklumi, seperti doa Yesus, orang-orang semacam itu tidak tahu apa yang diperbuatnya (Luk. 23:34). Seperti juga Paulus pernah mengakui bahwa apa yang ia perbuat, itu tanpa pengetahuan yaitu di luar iman (1 Tim. 1:13). Kasih yang dibicarakan Alkitab adalah kasih yang tanpa syarat (unconditional love), yaitu “kasih yang walaupun” bukan “kasih kalau.” Bicara soal kasih ini, William Barclay menulis, “Itulah suatu kewajiban yang telah dimasukkan dan diajarkan terus menerus di dalam kekristenan, mulai dari saat pertama seseorang masuk ke dalam gereja. Etika Kristen dapat diikhtisarkan dalam satu kata kasih, dan sejak seseorang mengangkat sumpah untuk mengikut Kristus, maka ia menempatkan dirinya sendiri untuk menjadikan kasih sebagai dorongan utama dari kehidupannya.”

Kita sendiri bagaimana? Entah berapa kali kita pernah mengingatkan atau mengajar orang untuk mengasihi, bukan? Dan mungkin orang yang kita ajari, malah sudah melakukannya lebih dari kita sendiri. Tentu saja ironis. Namun masih ada kesempatan bagi kita untuk menyatakan kasih kita pada mereka, yang harus kita kasihi. Mungkin itu dalam keluarga, dalam komunitas pelayanan dan profesi kita, bahkan dengan mereka yang ‘memusuhi’ kita sekalipun.

Inspirasi: Dunia di sekitar kita, ingin melihat kasih yang visible (nyata di mata mereka), bukan kasih yang verbal, yang hanya audible, yang segera berlalu.