“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)
Saat kecelakaan, dahi kanan saya terluka dan harus dijahit 12 jahitan. Saya sedih sekali, berdoa agar dimampukan untuk bersyukur, cepat sembuh dan bekas jahitan bisa bagus. Pada saat bersyukur, proses pengobatan berjalan wajar dan bekas jahitan hampir 9 tahun pun tidak hilang. Namun rasa syukur membuat hati lebih damai sejahtera menerima kenyataan yang tidak menyenangkan. Dalam segala hal yang sulit dipahami, Allah setia menolong. Saat semua kondusif pekerjaan berhasil, studi lancar, sehat, dll mudah sekali kita bersyukur. Tetapi ketika keadaan berubah usaha macet, sakit, proyek gagal dll, sering kali berat hati untuk mengucap syukur.
Paulus mengajarkan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” Bukan: “… karena semua hal.” Artinya, ketika kita sedang sakit, usaha berantakan, proyek mangkrak, studi terhambat, dll tidak perlu berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Kita boleh sedih. kecewa. menangis. namun secepatnya mengucap syukur dalam segala keadaan sepahit apapun, sebab Allah selalu setia menolong. Ketika kita bersyukur, kita sedang mempercayai Allah yang peduli.
Surat 1 Tesalonika ditulis Paulus untuk jemaat di Tesalonika yang sedang mengalami tantangan dan tekanan karena iman mereka. Paulus menguatkan mereka agar tetap hidup dalam iman, kasih, pengharapan, dan kekudusan sambil menantikan kedatangan Tuhan. Di dalam nasihat tersebut ada tiga kalimat pendek yang sangat kuat: “Bersukacitalah senantiasa.” “Tetaplah berdoa.” “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” Sukacita mengarahkan hati kepada pengharapan. Doa menjaga komunikasi dengan Allah. Ucapan syukur menolong kita melihat karya dan penyertaan Allah.
Ayat 16–18, tiga perintah yang saling berkaitan. Bersukacita → Berdoa → Bersyukur. Ayat 18, “Dalam segala hal, bersyukurlah.” Kita harus mengucap syukur, berterima kasih, atau menyatakan rasa syukur. Sedangkan ἐν παντί (en panti) berarti: “dalam segala hal” atau “dalam setiap keadaan.” Paulus tidak mengatakan bahwa semua hal yang terjadi adalah baik. Ada penderitaan yang tidak baik, ketidakadilan, kehilangan yang menyakitkan, kegagalan yang melukai. Paulus mengajarkan bahwa: Dalam keadaan apa pun, kita tetap harus bersyukur kepada Allah. Keadaan bisa berubah, tetapi Allah tidak pernah berubah. Mengucap syukur adalah ekspresi iman kepada Allah yang setia dalam segala hal.
1 Tesalonika 5:18, ada dua bagian penting: “Mengucap syukurlah dalam segala keadaan.” dan: ” Sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu dalam Kristus Yesus. Jadi ucapan syukur bukan sekadar kebiasaan positif dan optimis, tapi merupakan kehendak Allah yang harus ditaati. Ketika kita bersyukur, kita sedang mengakui, bahwa hidup kita tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh kasih dan kuasa Allah.” Bersyukur bukan berarti menolak kesulitan dan penderitaan, tidak boleh sedih, pura-pura bahagia, semua masalah pasti langsung selesai, dll. Namun bersyukur adalah meyakini bahwa Allah selalu baik dan setia menopang. Mungkin kita belum memahami semua rencana Tuhan, tetapi kita harus tetap percaya bahwa Ia menolong tepat pada waktu-Nya.” Rancangan-Nya pasti yang terbaik.
Inspirasi: Mengucap syukur dalam segala keadaan membuat hati kita damai merasakan kekuatan, penghiburan, kebaikan, dan pertolongan Allah.
