by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 13 Sep 2026 | Renungan
"Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12)
Mazmur 90 merupakan doa yang ditulis oleh Musa, pemimpin bangsa Israel yang menuntun umat Tuhan melintasi padang gurun yang ganas selama empat puluh tahun. Di tengah bayang-bayang kematian, kerapuhan manusia, dan pengembaraan yang tak kunjung usai, Musa menyadari betapa singkatnya hidup manusia dibandingkan dengan kekekalan. Doa ini lahir bukan dari keputusasaan, melainkan dari kesadaran yang mendalam akan batasan diri di hadapan Sang Pencipta. Kata "menghitung" (manah) dalam konteks ini berarti menimbang, menilai, dan menyadari nilai setiap detik yang Allah percayakan. Musa tidak sekadar meminta umur panjang, melainkan hati yang bijaksana (chokmah), sebuah hikmat rohani yang memimpin manusia untuk hidup selaras dengan kehendak Allah. Dalam konteks pelayanan dan penjangkauan, hikmat ini mendesak kita untuk tidak membuang waktu dalam kesia-siaan, melainkan menginvestasikan setiap kesempatan untuk memajukan Kerajaan-Nya. Musa menutup doanya dengan memohon agar "kemurahan Tuhan" dan "perbuatan tangan" mereka diteguhkan. Hal ini mengajarkan bahwa segala usaha penginjilan, pemuridan, dan pengorbanan kita hanya akan berdampak kekal jika dikerjakan dalam kemurahan dan penyertaan Yesus. Ketika kita menyadari betapa terbatasnya waktu kita di bumi, setiap sumber daya, doa, dan tenaga yang kita miliki akan kita fokuskan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan dan memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus.
Evaluasi penggunaan waktu Saudara minggu ini dan prioritaskan setidaknya satu tindakan nyata untuk mendukung pelayanan penginjilan atau pemuridan. Ingatlah bahwa setiap detik yang diserahkan untuk pekerjaan Allah adalah investasi kekal yang tidak akan pernah sia-sia.
Inspirasi: Menghitung hari dengan bijaksana berarti mempersembahkan setiap hembusan napas untuk pekerjaan kekal Allah.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sat, 12 Sep 2026 | Renungan
Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! (Roma 12:9a)
Pernahkah kita mendengar kasih “karena” dan kasih “walaupun”. Kasih “karena” adalah kita mengasihi sesama karena mereka telah berbuat baik kepada kita. Misalnya: Saya mengasihinya karena ia telah menolong saya waktu saya mengalami masa-masa sulit. Ini yang disebut kasih bersyarat – conditional love. Sedangkan kasih “walaupun”: saya mengasihinya walupun ia membenci dan mengutuk saya. Saya mengasihi walaupun ia mengecewakan saya. Dan kasih walaupun inilah yang Yesus berikan bagi kita orang berdosa. Ia menebus dosa kita dan menyelamatkan kita. Itulah kasih agape. Kasih ini disebut kasih tanpa syarat – unconditional love
Bagian firman Tuhan hari ini, merupakan prinsip-prinsip penting yang ditulis oleh Rasul Paulus tentang bagaimana kita membangun hubungan dan persekutuan dengan orang lain. Paulus menekankan bahwa kasih adalah dasar utama dalam berelasi dengan orang lain. Motivasi yang didasarkan pada kasih Allah kepada kita melalui pengorbanan Kristus di kayu salib yang akan menolong kita menerapkan perilaku kasih bagi sesama.
Berikut ini adalah prinsip-prinsip penting kasih yang Paulus tulis bagi kita: Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. (ay 9); Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. (ay 10); Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. (ay 11); Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! (ay 12); Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! (ay 13); Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! (ay 14); Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!(ay 15) ; Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! (ay 16); Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! (ay 17); Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!(ay 18);… janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. (ay 19); Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. (ay 20) Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan! (ay 21)
Sebagai orang berdosa untuk menerapkan prinsip-prinsip kasih di atas tentunya kita tidak bisa. Hanya Allah yang bisa. Ini kemampuan supranatural. Karena itu Allah sendiri telah memberikan jalan keluar bagi kita melalui kuasa Roh Kudus. Roh Kudus yang ada di dalam hati kita yang akan memampukan kita melakukannya (baca Yoh. 14:15-17). Mari kita berdoa, kiranya Tuhan Yesus melalui kuasa Roh Kudus yang memampukan kita menerapkan prinsip prinsip kasih di atas.
Inspirasi: Kasih Allah kepada kita melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus menjadi dasar dan motivasi utama kita mengasih Allah dan sesama.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Fri, 11 Sep 2026 | Renungan
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. Kisah 4:31
Peranan saksi dalam pengadilan sangat dibutuhkan untuk mengetahui tuduhannya benar atau palsu. Seorang saksi harus berani mengatakan apa adanya. Itu sama dengan orang yang menceritakan kasih Kristus kepada dunia, dia merupakan saksi yang berani. Gerakan penginjilan terjadi karena adanya pribadi-pribadi atau kelompok orang percaya yang dipenuhi oleh Roh Kudus secara aktif terus-menerus berdoa dan bersaksi.
Firman Tuhan hari ini, menceritakan teladan dari jemaat gereja abab mula-mula ketika mereka menghadapi ancaman dan penindasan dari pemimpin-pemimpin Yahudi, tua-tua dan ahli-ahli Taurat (Kis.4:5) dan juga Herodes dan Pontius Pilatus berserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus (ay 27). Yang menariknya adalah mereka tidak memilih untuk memprotes atau menggerakan masa untuk melawan para penindas mereka, sebaliknya mereka memilih untuk menyerahkan semua ancaman ini kepada Tuhan dengan sehati berdoa bersama (ay 24-31). Mereka tidak berdoa agar mereka terlepas dari kesulitan ini tetapi yang mereka doakan adalah agar Tuhan memberikan keberanian kepada mereka untuk memberitakan firman Tuhan (ay 29). Juga mereka berdoa agar Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk menyembuhkan orang dan Tuhan mengadakan tanda-tanda dan mujizat mujizat oleh nama Yesus. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu memberitakan firman Allah dengan berani (ay 31).
Teladan jemaat gereja mula-mula ini menolong kita melihat bahwa doa yang sungguh sungguh dan mengijinkan kuasa Roh Kudus menguasai hidup kita, itulah yang memberikan keberanian kepada kita dalam bersaksi. Sejak ditempatkan melayani di kota Balikpapan, saya selalu mengambil waktu untuk berdoa untuk kota ini, baik secara pribadi maupun secara tim.
Beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang cleaning service. Pada pertemuan itu, saya mengambil inisiatif untuk memulai percakapan. Dalam percakapan ini dia sangat senang dan kemudian saya melanjutkan ke percakapan tentang Yesus. Pada akhirnya ia bersedia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Beberapa minggu kemudian saya bertemu juga dengan seorang cleaning service yang lain, sebagaimana biasanya saya yang memulai percakapan dalam percakapan itu ia sangat senang, saya menceritakan tentang Yesus kepadanya, meskipun belum sampai kepada doa menerima Kristus. Pengalaman-pengalaman dalam menceritakan Yesus selalu membawa hati saya pada suatu ucapan syukur yang melimpah.
Tuhan memanggil kita untuk memberitakan Injil, dimanapun kita berada, mulai dari lingkup pengaruh dimana kita menghabiskan banyak waktu dalam beraktifitas, seperti keluarga, tetangga, tempat kita kuliah/sekolah atau tempat kerja kita. Percayalah bahwa Tuhan sudah mempersiapkan pribadi-pribadi untuk mendengarkan Injil. Roh Kudus memberikan kuasa, kepekaan dan keberanian untuk melakukan ini. Dan Langkah terbaik untuk memulainya adalah dengan terus-menerus menyerahkannya kepada Tuhan di dalam doa. Daftarkan nama-nama yang Tuhan taruh dalam hati kita dan kita mulai mendoakan mereka. Setelah itu ambilah langkah iman untuk menceritakan Kristus kepada mereka.
Inspirasi: Penginjilan selalu di mulai dengan doa yang sungguh-sunguh dengan mengijinkan Roh Kudus memimpin hidup kita. Saksi yang berani berbicara tentang Kristus adalah saksi yang diberi otoritas oleh Roh Kudus.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Thu, 10 Sep 2026 | Renungan
Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. (Roma 12:3)
Negara kita memiliki Tentara dengan 3 matra yaitu TNI AD, AL, dan AU. Masing-masing mempunyai beragam kesatuan dengan persenjataan berbeda-beda. Namun demikian semua prajurit TNI memiliki dasar pengabdian yang sama yaitu Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI. Dasar pemikiran dan sikap ini menjiwai setiap prajurit apapun spesifikasi tugasnya untuk bersatu\padu, bermanfaat menjadi tentara yang utuh bagi NKRI.
Roma 12 umumnya dipahami sebagai bagian dimulainya praktek hidup beriman. Namun 3 ayat pertama sesungguhnya merupakan prinsip teologis yang mendasari semua praktek secara personal dan berjemaat.
Pertama, mempersembahkan tubuh berdasar kemurahan Allah (ay. 1), "berubahlah oleh pembaharuan budimu." (ayat 2) lalu ayat 3 "berpikirlah dengan pikiran yang sehat" yang akan menghasilkan penilaian diri yang benar.
Kedua, Paulus kemudian membentuk cara berpikir / sikap hati terhadap karunia rohani (ayat 4–8).
Ketiga, barulah sikap terhadap jemaat/ sesama penerima karunia (ay 9-21). Di ayat 3, Paulus dalam bahasa Yunani menggunakan permainan kata yang indah dari akar yang sama, dan makna yang mendalam yaitu phroneō (berpikir, cara memandang diri, sikap batin). “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi (mē hyperphronein) dari pada yang patut kamu pikirkan (dei phronein), tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa (alla phronein), sehingga kamu menguasai diri (eis to sōphronein) menurut ukuran iman”.
Masalahnya bukan apakah kita berpikir tentang diri, tetapi bagaimana cara kita berpikir tentang diri dengan benar dengan ukuran iman (metron pisteōs) dari Allah Sang pemilik hidup dan pemberi karunia. Karena itu ayat ini adalah fondasi sekaligus jembatan antara teologi dan praktik. Jadi Allah menghendaki karunia-Nya bertumbuh optimal diatas lahan kerendahan hati yang benar.
Pikiran yang belum diperbarui bisa iri hati terhadap karunia orang lain, sombong, merasa paling hebat, meremehkan karunia pemberian Tuhan. Karunia rohani menumbuhkan kesadaran akan kasih karunia Allah, semakin percaya diri, dan rendah hati. Kita harus bertanggung jawab atas setiap karunia rohani milik-Nya sebagai laskar Kristus sesuai spesifikasi dan spesialisasi seperti seorang prajurit bagi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Dengan penuh syukur, mari kita saling membangun bukan mendominasi.
Inspirasi: “Tuhan menghendaki kita melayani sesuai karunia masing-masing bagi kemuliaan nama-Nya.”
by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 9 Sep 2026 | Renungan
"untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus," (Efesus 4:12)
Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus dari balik jeruji penjara di Roma untuk menguatkan gereja Tuhan agar tetap teguh dalam kesatuan dan panggilan surgawi. Di tengah tekanan zaman dan ancaman ajaran palsu, Paulus menegaskan bahwa Yesus memberikan karunia-karunia jabatan yang berbeda, seperti rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar, bukan untuk membentuk hierarki atau menimbulkan kebanggaan pribadi. Tujuan utamanya adalah untuk memperlengkapi (katartismos, yang merujuk pada proses memulihkan, melatih, dan menyiapkan perlengkapan) setiap orang percaya agar siap melangkah menjalankan pelayanan.
Paulus memandang gereja bukan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai tubuh yang saling terhubung, di mana setiap anggota memiliki peran vital dalam penginjilan, pemuridan, serta penopangan kebutuhan pelayanan. Pertumbuhan rohani yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak ilmu teologi yang kita himpun, melainkan dari sejauh mana kita memperjuangkan kebenaran dalam kasih dan berkontribusi aktif dalam memuridkan sesama. Ketika setiap bagian menjalankan fungsinya secara optimal, gereja tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran dunia. Sebaliknya, tubuh Kristus akan bertumbuh makin dewasa, kokoh, dan memancarkan kemuliaan Allah di tengah dunia yang membutuhkan penjangkauan jiwa.
Ambillah komitmen nyata minggu ini untuk melayani dalam salah satu bidang pelayanan gereja atau kelompok pemuridan. Gunakan setiap karunia, waktu, dan penopangan doa yang Saudara miliki untuk membangun serta memperlengkapi sesama demi kemajuan Injil.
Inspirasi: Gereja yang kuat tidak dilihat dari besarnya jumlah penonton, melainkan dari banyaknya anggota yang siap melayani Kristus.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Tue, 8 Sep 2026 | Renungan
Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Efesus 5:17-19).
Seseorang yang mabuk oleh karena pengaruh minuman ber-alkohol, seringkali mengalami hilangnya kesadaran diri, kemampuan untuk fokus dan tidak dapat mengendalikan kata-kata dan tindakannya. Ada orang yang ingin melupakan masalahnya dengan minum minuman beralkohol dan kemudian mendapati masalahnya semakin berat, di saat justru yang diperlukan adalah pikiran yang jernih untuk menemukan jalan keluar atas permasalahannya. Dan terlebih lagi yang paling diperlukan adalah pimpinan Roh Kudus agar dapat mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya.
Dalam Efesus 5:17 dikatakan agar kita mengusahakan untuk mengerti kehendak Tuhan. Ketidakmengertian akan kehendak Tuhan disamakan dengan suatu kebodohan. Berusaha artinya bukan tindakan sekedarnya atau sambil lalu tapi memerlukan suatu tekunan dan tekad yang kuat untuk bisa mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup ini.
Jauh sebelum waktunya Yesus disalibkan, dikuburkan dan naik ke surga, Yesus menyampaikan kepada para murid-Nya bahwa Roh Kudus akan menyertai mereka selama lamanya. Roh Kudus yaitu Roh Kebenaran, yang memimpin setiap orang percaya ke dalam seluruh kebenaran. Roh Kudus yang akan memuliakan Tuhan, sebab Roh Kudus memberitakan kepada kita apa yang diterima dari Tuhan (Yohanes 16:13-14). Karenanya hanya oleh pimpinan Roh Kudus-lah maka kita akan dapat mengerti kebenaran dan kehendak Tuhan. Karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Tuhan maka Roh Kudus juga yang memimpin kita untuk memiliki hati yang menyembah Tuhan. Jadi dengan pimpinan Roh Kudus, kita-pun dimampukan untuk memuliakan Dia dan menyembah-Nya.
Bagaimana seseorang dapat dipenuhi oleh Roh Kudus? Dalam Efesus 5:18 diperintahkan agar kita tidak mabuk oleh anggur tetapi hendaklah penuh dengan Roh. Dan sesuai dengan janji-Nya dalam 1 Yohanes 5:14 bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita. Adalah kehendak-Nya agar kita dipenuhi oleh Roh Kudus, maka sesuai dengan janji-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Karena itu, berdoalah kepada Tuhan agar senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus sebagaimana perintah-Nya. Maka sesuai dengan janji-Nya, Ia akan mengabulkan permohonan ini karena hal itu sesuai dengan kehendak-Nya.
Inspirasi: Tuhan sudah menyediakan pertolongan yang kita perlukan untuk mengerti dan menjalani hidup ini sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus juga yang akan memampukan untuk hidup dengan hati yang penuh penyembahan kepada-Nya. Hiduplah senantiasa dengan penyerahan diri untuk dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus.