Panggilan Tuhan

“Aku sangat menyayangkan kenapa baru mengenal Kristus sekarang.”
Mungkin statement itu yang paling tepat menggambarkan kondisiku yang baru mengenal Kristus setelah 18 tahun lebih hidup didunia ini. Aku bukan seorang mualaf yang pindah agama dari agama lain menjadi seorang kristen. Aku adalah seorang kristen sejak lahir dan aku pun dibesarkan dalam lingkungan kristen. Tapi sungguh disayangkan aku melalui hari-hariku dengan ‘kesia-siaan’. Kesia-siaan bukan berarti aku tidak melakukan hal-hal yang tidak berguna, atau aku tidak berprestasi di sekolah. Hanya saja banyak hal yang kulakukan tanpa menyadari kehadiran Tuhan didalamnya. Contoh sederhana saja, untuk kebutuhan sehari-hari aku tidak bersyukur, untuk nafas hidup yang Tuhan berikan aku tidak bersyukur, untuk prestasi akademis aku tidak bersyukur, dan berbagai berkat Tuhan lainnya dalam hidupku secara pribadi aku tidak bersyukur.

Di tengah-tengah kondisiku seperti itu, aku bersyukur diberikan kedua orangtua yang begitu baik oleh Tuhan. Mereka sangat mengasihi kami, 3 orang anak-anaknya. Aku sangat suka cara mereka membesarkan kami, sehingga sekalipun secara rohani aku kerdil tapi jujur aku memiliki kelakuan yang baik, begitu juga dengan saudara-saudaraku yang lain. Aku berharap, suatu saat nanti aku juga bisa membesarkan anak-anakku seperti orangtuaku membesarkanku. Banyak hal yang mereka lakukan untuk membentuk kami, mulai dari kecil kami disuruh masuk Sekolah Minggu dan aktif, terus memfasilitasi setiap keinginan kami dalam hal-hal yang positif misalnya beli gitar dan organ/keyboard, juga buku-buku pelajaran sehingga ini sangat membantu kami untuk berprestasi dalam dunia pendidikan, dan banyak lagi hal lainnya. Bukti nyata prestasi dalam dunia pendidikan ini sederhana aja sih, kami bertiga pasti selalu juara kelas, bahkan aku pernah ikut Olimpiade Sains Nasional Tingkat SMP Tahun 2004 di Pekanbaru, Riau.

Akupun bertumbuh dewasa (secara umur) dan ketika kelas 3 SMP aku masuk kelas Katekisasi, dan belajar selama kurang lebih 1 tahun, setelah itu naik Sidi. Aku rajin datang dan cukup menyukai kisah-kisah Alkitab, sampai-sampai aku yang ditunjuk jadi ketua pelaksana Persekutuan Doa sebelum kami naik Sidi. Mamaku mulai mewanti-wanti kalau setelah aku naik Sidi, maka aku bertanggungjawab atas dosaku sendiri.

Wah, ketakutan juga aku dibuatnya. Dan ketakutan itu tidak bertahan lama setelah aku naik Sidi, mengakui semua dosa-dosaku, dan mengucapkan pengakuan imanku. Waktu berlalu dan ketakutanpun berlalu. Hidup dijalani seperti biasa lagi, sampai aku menjalani SMA selama 3 tahun, dan lulus. Tetapi satu hal ku syukuri, aku tidak terpengaruh dengan kebandelan remaja saat itu, misalnya bolos, merokok, tawuran, dan lain-lain. Orangtuaku sangat memperhatikan kami.

Ada satu bagian yang terlupakan, ternyata setiap hal itu ada sisi baik dan buruknya. Perhatian orangtua kepadaku secara pribadi ternyata menimbulkan efek lain dalam pembentukan karakterku. Aku menjadi pribadi yang cukup asing dilingkungan, susah untuk bergaul dengan teman-teman, dan menciptakan kepribadianku yang tertutup. Setiap ada hal yang menjadi bebanku, kutanggung sendiri sampai masalah itu selesai. Dan itu berlangsung sangat lama. Hal lain lagi adalah dalam ketertutupanku itu aku menjadi seorang pribadi yang pendendam. Aku mendiamkan sesuatu yang tidak aku suka dan menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendamku. Itu juga berlangsung sangat lama. Dan masih banyak lagi dosa-dosa favoritku lainnya.

Tetapi aku bersyukur kepada Tuhan. Kenapa aku bersyukur? IA tidak membiarkanku hidup terus-menerus dalam keberdosaanku. Bukan suatu kebetulan IA menempatkanku di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Karena disinilah Tuhan memanggilku untuk mengenal DIA melalui Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) STAN Jakarta. Aku sangat menikmati persekutuan di kampus ini. Sungguh luar biasa!

Panggilan Tuhan dalam hidupku bukan langsung mengubahku. Butuh proses yang agak lama. Dimulai dari Bintal (itupun aku cuma ikut 1 hari, tidak ikut talent show-nya), dan di sini aku mulai diperkenalkan dengan Kelompok Kecil. Aku dulu masih lugu dan terheran-heran. Aku berkumpul dengan teman-temanku yang kemudian aku kenal dengan istilah SKK (Saudara Kelompok Kecil) yang juga kepalanya plontos seperti aku. Pertama kami diam-diaman, trus sesekali berbicara sampai ada seorang abang yang namanya bang Hasrun, dan selanjutnya dia menjadi PKK kami (Pemimpin Kelompok Kecil). Inilah awal panggilan itu.

Setelah perkuliahan dimulai, tiap Jumat PMK pun ada Kebaktian Jumat, terkenal dengan istilah KJ. Dulu, aku datang tapi tidak rajin-rajin amat, cuma kalo di-SMS sama PKK-ku saja. Satu hal yang kadang bikin aku malas selain mengganggu jam tidurku adalah aku belum punya Alkitab. Iya, jelas. Itulah salah satu tanda kalau sampai saat itu aku belum benar-benar menikmati Tuhan dalam hidupku. Dan pada saat yang bersamaan (awal semester 1) aku mengalami musibah atau masalah yang sangat besar yang menghubungkan aku dengan awal panggilanku. Aku sering berpikir bahwa Tuhan memanggilku dengan cara seperti ini diantara berbagai cara yang IA miliki.

Masih dengan metode kepribadian lamaku, aku menutupi masalah ini, walaupun sangat menyita pikiranku. Dan disaat-saat seperti inilah, aku mulai berdoa kepada Tuhan (didukung juga dengan proyek ketaatan di KKP: Saat Teduh dan Doa). Aku beli Alkitab, dan mulai rutin baca Firman Tuhan serta berdoa kepada Tuhan. Hampir setiap jam doa, aku doakan masalahku ini, terkadang dihiasi dengan tetesan air mata. Tuhanpun tidak tinggal diam, ia memakai orang-orang di sekitarku untuk memberikan aku jalan keluar, salah satunya adalah bang Hasrun, PKK-ku. Aku merasakan kasih Tuhan yang begitu besar dan sesamaku yang memperhatikanku. Aku mulai membuka hatiku, aku mulai membuka diriku. Satu demi satu aku meninggalkan dosa-dosaku, walau sangat sulit rasanya dan terkadang aku kembali melakukannya lagi. Tetapi aku percaya Tuhan selalu penuh dengan pengampunan jika aku datang padanya memohon ampun dengan segala kerendahan hati dan meminta kekuatan dari Roh Kudus.

Luar biasa Tuhan mengubahku, dan tidak sampai disitu, di waktu-waktu selanjutnya, IA pun memakai aku menjadi pelayan-Nya. Dan itu memberikan dampak yang luar biasa dalam hidupku. Mungkin inilah kata orang yang namanya LAHIR BARU, aku bukan dilahirkan kembali oleh Mamaku, tetapi dilahirkan kembali dalam Kristus. Mungkin ada orang yang mengatakan “titik awal” lahir baru adalah ketika kita naik Sidi. Menurutku tidak, aku baru merasakannya ketika aku ada di PMK STAN ini, sama seperti tertulis dalam kitab Roma 10:9 : “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”

Sungguh lembut Tuhan Yesus memanggil, memanggil aku dan kau… Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan dibangkitkan untuk mereka. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:15, 17). AMIN!

Please follow and like us:

Add a Comment

You must be logged in to post a comment