by PKA STAN Prodip Keuangan | Fri, 11 Sep 2026 | Renungan
Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. Kisah 4:31
Peranan saksi dalam pengadilan sangat dibutuhkan untuk mengetahui tuduhannya benar atau palsu. Seorang saksi harus berani mengatakan apa adanya. Itu sama dengan orang yang menceritakan kasih Kristus kepada dunia, dia merupakan saksi yang berani. Gerakan penginjilan terjadi karena adanya pribadi-pribadi atau kelompok orang percaya yang dipenuhi oleh Roh Kudus secara aktif terus-menerus berdoa dan bersaksi.
Firman Tuhan hari ini, menceritakan teladan dari jemaat gereja abab mula-mula ketika mereka menghadapi ancaman dan penindasan dari pemimpin-pemimpin Yahudi, tua-tua dan ahli-ahli Taurat (Kis.4:5) dan juga Herodes dan Pontius Pilatus berserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus (ay 27). Yang menariknya adalah mereka tidak memilih untuk memprotes atau menggerakan masa untuk melawan para penindas mereka, sebaliknya mereka memilih untuk menyerahkan semua ancaman ini kepada Tuhan dengan sehati berdoa bersama (ay 24-31). Mereka tidak berdoa agar mereka terlepas dari kesulitan ini tetapi yang mereka doakan adalah agar Tuhan memberikan keberanian kepada mereka untuk memberitakan firman Tuhan (ay 29). Juga mereka berdoa agar Tuhan mengulurkan tangan-Nya untuk menyembuhkan orang dan Tuhan mengadakan tanda-tanda dan mujizat mujizat oleh nama Yesus. Mereka dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu memberitakan firman Allah dengan berani (ay 31).
Teladan jemaat gereja mula-mula ini menolong kita melihat bahwa doa yang sungguh sungguh dan mengijinkan kuasa Roh Kudus menguasai hidup kita, itulah yang memberikan keberanian kepada kita dalam bersaksi. Sejak ditempatkan melayani di kota Balikpapan, saya selalu mengambil waktu untuk berdoa untuk kota ini, baik secara pribadi maupun secara tim.
Beberapa minggu yang lalu saya bertemu dengan seorang cleaning service. Pada pertemuan itu, saya mengambil inisiatif untuk memulai percakapan. Dalam percakapan ini dia sangat senang dan kemudian saya melanjutkan ke percakapan tentang Yesus. Pada akhirnya ia bersedia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Beberapa minggu kemudian saya bertemu juga dengan seorang cleaning service yang lain, sebagaimana biasanya saya yang memulai percakapan dalam percakapan itu ia sangat senang, saya menceritakan tentang Yesus kepadanya, meskipun belum sampai kepada doa menerima Kristus. Pengalaman-pengalaman dalam menceritakan Yesus selalu membawa hati saya pada suatu ucapan syukur yang melimpah.
Tuhan memanggil kita untuk memberitakan Injil, dimanapun kita berada, mulai dari lingkup pengaruh dimana kita menghabiskan banyak waktu dalam beraktifitas, seperti keluarga, tetangga, tempat kita kuliah/sekolah atau tempat kerja kita. Percayalah bahwa Tuhan sudah mempersiapkan pribadi-pribadi untuk mendengarkan Injil. Roh Kudus memberikan kuasa, kepekaan dan keberanian untuk melakukan ini. Dan Langkah terbaik untuk memulainya adalah dengan terus-menerus menyerahkannya kepada Tuhan di dalam doa. Daftarkan nama-nama yang Tuhan taruh dalam hati kita dan kita mulai mendoakan mereka. Setelah itu ambilah langkah iman untuk menceritakan Kristus kepada mereka.
Inspirasi: Penginjilan selalu di mulai dengan doa yang sungguh-sunguh dengan mengijinkan Roh Kudus memimpin hidup kita. Saksi yang berani berbicara tentang Kristus adalah saksi yang diberi otoritas oleh Roh Kudus.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Thu, 10 Sep 2026 | Renungan
Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. (Roma 12:3)
Negara kita memiliki Tentara dengan 3 matra yaitu TNI AD, AL, dan AU. Masing-masing mempunyai beragam kesatuan dengan persenjataan berbeda-beda. Namun demikian semua prajurit TNI memiliki dasar pengabdian yang sama yaitu Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI. Dasar pemikiran dan sikap ini menjiwai setiap prajurit apapun spesifikasi tugasnya untuk bersatu\padu, bermanfaat menjadi tentara yang utuh bagi NKRI.
Roma 12 umumnya dipahami sebagai bagian dimulainya praktek hidup beriman. Namun 3 ayat pertama sesungguhnya merupakan prinsip teologis yang mendasari semua praktek secara personal dan berjemaat.
Pertama, mempersembahkan tubuh berdasar kemurahan Allah (ay. 1), "berubahlah oleh pembaharuan budimu." (ayat 2) lalu ayat 3 "berpikirlah dengan pikiran yang sehat" yang akan menghasilkan penilaian diri yang benar.
Kedua, Paulus kemudian membentuk cara berpikir / sikap hati terhadap karunia rohani (ayat 4–8).
Ketiga, barulah sikap terhadap jemaat/ sesama penerima karunia (ay 9-21). Di ayat 3, Paulus dalam bahasa Yunani menggunakan permainan kata yang indah dari akar yang sama, dan makna yang mendalam yaitu phroneō (berpikir, cara memandang diri, sikap batin). “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi (mē hyperphronein) dari pada yang patut kamu pikirkan (dei phronein), tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa (alla phronein), sehingga kamu menguasai diri (eis to sōphronein) menurut ukuran iman”.
Masalahnya bukan apakah kita berpikir tentang diri, tetapi bagaimana cara kita berpikir tentang diri dengan benar dengan ukuran iman (metron pisteōs) dari Allah Sang pemilik hidup dan pemberi karunia. Karena itu ayat ini adalah fondasi sekaligus jembatan antara teologi dan praktik. Jadi Allah menghendaki karunia-Nya bertumbuh optimal diatas lahan kerendahan hati yang benar.
Pikiran yang belum diperbarui bisa iri hati terhadap karunia orang lain, sombong, merasa paling hebat, meremehkan karunia pemberian Tuhan. Karunia rohani menumbuhkan kesadaran akan kasih karunia Allah, semakin percaya diri, dan rendah hati. Kita harus bertanggung jawab atas setiap karunia rohani milik-Nya sebagai laskar Kristus sesuai spesifikasi dan spesialisasi seperti seorang prajurit bagi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Dengan penuh syukur, mari kita saling membangun bukan mendominasi.
Inspirasi: “Tuhan menghendaki kita melayani sesuai karunia masing-masing bagi kemuliaan nama-Nya.”
by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 9 Sep 2026 | Renungan
"untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus," (Efesus 4:12)
Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus dari balik jeruji penjara di Roma untuk menguatkan gereja Tuhan agar tetap teguh dalam kesatuan dan panggilan surgawi. Di tengah tekanan zaman dan ancaman ajaran palsu, Paulus menegaskan bahwa Yesus memberikan karunia-karunia jabatan yang berbeda, seperti rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar, bukan untuk membentuk hierarki atau menimbulkan kebanggaan pribadi. Tujuan utamanya adalah untuk memperlengkapi (katartismos, yang merujuk pada proses memulihkan, melatih, dan menyiapkan perlengkapan) setiap orang percaya agar siap melangkah menjalankan pelayanan.
Paulus memandang gereja bukan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai tubuh yang saling terhubung, di mana setiap anggota memiliki peran vital dalam penginjilan, pemuridan, serta penopangan kebutuhan pelayanan. Pertumbuhan rohani yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak ilmu teologi yang kita himpun, melainkan dari sejauh mana kita memperjuangkan kebenaran dalam kasih dan berkontribusi aktif dalam memuridkan sesama. Ketika setiap bagian menjalankan fungsinya secara optimal, gereja tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran dunia. Sebaliknya, tubuh Kristus akan bertumbuh makin dewasa, kokoh, dan memancarkan kemuliaan Allah di tengah dunia yang membutuhkan penjangkauan jiwa.
Ambillah komitmen nyata minggu ini untuk melayani dalam salah satu bidang pelayanan gereja atau kelompok pemuridan. Gunakan setiap karunia, waktu, dan penopangan doa yang Saudara miliki untuk membangun serta memperlengkapi sesama demi kemajuan Injil.
Inspirasi: Gereja yang kuat tidak dilihat dari besarnya jumlah penonton, melainkan dari banyaknya anggota yang siap melayani Kristus.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Tue, 8 Sep 2026 | Renungan
Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Efesus 5:17-19).
Seseorang yang mabuk oleh karena pengaruh minuman ber-alkohol, seringkali mengalami hilangnya kesadaran diri, kemampuan untuk fokus dan tidak dapat mengendalikan kata-kata dan tindakannya. Ada orang yang ingin melupakan masalahnya dengan minum minuman beralkohol dan kemudian mendapati masalahnya semakin berat, di saat justru yang diperlukan adalah pikiran yang jernih untuk menemukan jalan keluar atas permasalahannya. Dan terlebih lagi yang paling diperlukan adalah pimpinan Roh Kudus agar dapat mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya.
Dalam Efesus 5:17 dikatakan agar kita mengusahakan untuk mengerti kehendak Tuhan. Ketidakmengertian akan kehendak Tuhan disamakan dengan suatu kebodohan. Berusaha artinya bukan tindakan sekedarnya atau sambil lalu tapi memerlukan suatu tekunan dan tekad yang kuat untuk bisa mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup ini.
Jauh sebelum waktunya Yesus disalibkan, dikuburkan dan naik ke surga, Yesus menyampaikan kepada para murid-Nya bahwa Roh Kudus akan menyertai mereka selama lamanya. Roh Kudus yaitu Roh Kebenaran, yang memimpin setiap orang percaya ke dalam seluruh kebenaran. Roh Kudus yang akan memuliakan Tuhan, sebab Roh Kudus memberitakan kepada kita apa yang diterima dari Tuhan (Yohanes 16:13-14). Karenanya hanya oleh pimpinan Roh Kudus-lah maka kita akan dapat mengerti kebenaran dan kehendak Tuhan. Karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Tuhan maka Roh Kudus juga yang memimpin kita untuk memiliki hati yang menyembah Tuhan. Jadi dengan pimpinan Roh Kudus, kita-pun dimampukan untuk memuliakan Dia dan menyembah-Nya.
Bagaimana seseorang dapat dipenuhi oleh Roh Kudus? Dalam Efesus 5:18 diperintahkan agar kita tidak mabuk oleh anggur tetapi hendaklah penuh dengan Roh. Dan sesuai dengan janji-Nya dalam 1 Yohanes 5:14 bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita. Adalah kehendak-Nya agar kita dipenuhi oleh Roh Kudus, maka sesuai dengan janji-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Karena itu, berdoalah kepada Tuhan agar senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus sebagaimana perintah-Nya. Maka sesuai dengan janji-Nya, Ia akan mengabulkan permohonan ini karena hal itu sesuai dengan kehendak-Nya.
Inspirasi: Tuhan sudah menyediakan pertolongan yang kita perlukan untuk mengerti dan menjalani hidup ini sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus juga yang akan memampukan untuk hidup dengan hati yang penuh penyembahan kepada-Nya. Hiduplah senantiasa dengan penyerahan diri untuk dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Mon, 7 Sep 2026 | Renungan
“… ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan… (Yakobus 1:3)
Ujian bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Dalam dunia pendidikan, ujian diperlukan salah satunya agar mereka dapat mengukur sejauhmana mereka telah memahami pelajaran yang selama ini diterima sehingga kelak dapat menerapkan ilmu yang mereka dapatkan. Saat menghadapi ujian akhir semester di sekolah atau di kampus, biasanya suasana serasa begitu mencekam. Saat kertas dibagikan, sebagian besar wajah terlihat cemas terutama bagi mereka yang kurang mempersiapkan diri dengan baik. Mereka ragu apakah akan bisa mengerjakan soal ujian dengan tepat. Sebagian yang lain ada yang merasa sangat siap karena telah belajar dengan tekun, dan mereka lulus dengan mendapatkan nilai yang mereka harapkan.
Jemaat mula-mula mengalami ujian iman yang tidak mudah. Mereka mengalami aniaya karena imannya kepada Tuhan Yesus. Akibatnya ada dari antara mereka yang undur dan mengikuti jalan dunia ini (2 Tim 4:10). Yakobus mengingatkan agar mereka bertekun dalam iman, sesulit apapun situasinya. Karena ujian terhadap iman pasti akan menghasilkan buah dari ketekunan itu.
Sebagai orang percaya pada masa ini, kita juga tidak luput dari ujian terhadap iman. Salah satunya ujian untuk tetap hidup sebagai seorang yang ber-integritas dan hidup dalam kebenaran. Kelulusan dari ujian iman, akan ditentukan oleh seberapa baik kita mempersiapkan diri. Persiapan ujian iman antara lain dengan memiliki persekutuan pribadi yang erat dengan Tuhan dan setia mengisi hati dan pikiran dengan firman Tuhan sebagai perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:17). Sehingga ketika ujian datang, kita akan dapat tetap berdiri teguh.
Saat ujian datang, hadapilah dengan kekuatan dan pimpinan Tuhan. Dengan mengingat janji dalam firman-Nya, Saudara akan menang menghadapi ujian tersebut. Miliki waktu saat teduh yang teratur dan konsisten. Bangunlah kehidupan doa pribadi dan terbuka kepada Tuhan tentang apa saja ujian yang sedang Saudara hadapi.
Inspirasi: Tuhan menjanjikan kemenangan terhadap ujian iman, asal saja kita tetap melekat kepada-Nya dan berakar di dalam firman Tuhan.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 6 Sep 2026 | Renungan
“Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:18)
Seorang petani bekerja keras. menanam benih, merawat sawah, dan berharap panen berlimpah. Namun ternyata, hujan tidak turun musim kemarau panjang membuat tanaman tidak tumbuh sesuai harapan. Sangat menyedihkan karena gagal panen. Bersyukur masih diberi kesehatan, kekuatan dan kreativitas untuk menanam kembali dengan jenis tanaman lain yang bisa bertahan di musim kemarau, yaitu kedelai dan jagung untuk menyambung hidup.
Habakuk menggambarkan keadaan yang jauh lebih berat. Pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil kebun zaitun mengecewakan, ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba terhalau dari kandang, dan lembu sapi tidak ada di kandang. Artinya, semua sumber pengharapan yang biasanya menopang kehidupan hilang lenyap. Tapi ia berkata: “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” Kata “namun”. mengubah arah kehidupan. Meski “Tidak ada hasil,” tetapi iman pada Tuhan memberi harapan sesuai cara-Nya. Kadang kita kehilangan sesuatu di dunia ini, namun yang terpenting masih memiliki Tuhan yang sanggup menopang dan menolong. Masa depan di dalam Tuhan itu pasti yang terbaik. Jadi sukacita Habakuk bukan pada keadaan yang bisa berubah-ubah. Ia bersukacita karena menemukan sumber sukacita sejati, yaitu Tuhan.
Habakuk 3, adalah bagian akhir kitab Habakuk. Sebelumnya, ia bergumul mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan orang benar mengalami penderitaan? Habakuk tidak memulai kitabnya dengan sukacita, tetapi dengan dengan pertanyaan, kegelisahan, dan pergumulan iman. Namun dalam perjalanan hidupnya, ia mengalami perubahan. Ia tidak memperoleh semua jawaban yang ia inginkan, tetapi ia belajar mempercayai Tuhan. Ayat 17, menggambarkan kondisi yang sangat ekstrem: pohon ara tidak berbunga, tidak ada buah anggur, hasil zaitun mengecewakan, ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba tidak ada, lembu sapi tidak tersedia. Ini gambaran krisis ekonomi, pangan, dan kehidupan yang sangat berat. Habakuk sedang berbicara tentang situasi yang aman dan nyaman, tetapi tiba-tiba hilang.
Ayat 18, dimulai dengan kata: “Namun…” bahasa Ibrani (wa'ani), “tetapi aku” atau “namun aku.” Habakuk menegaskan meskipun keadaannya sedang buruk, yang diharapkan hilang, tetapi ia memilih tetap bersorak-sorak di dalam TUHAN. Sukacita Habakuk hanya bersumber pada TUHAN. Inilah inti iman Habakuk. Sukacita sejati tidak berarti tidak boleh sedih. Ia tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia berani mengakui kenyataan bahwa keadaannya sangat rumit. Namun Ia berkeyakinan kokoh bahwa Tuhan jauh lebih besar dan berkuasa daripada semua permasalahan hidupnya.
Ayat 19, pengakuan iman, bahwa “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku.” Ia tidak terpengaruh dengan keadaan berhasil atau gagal. Sebab Allah adalah sumber kekuatan sejati. Keadaan sulit → Pergumulan iman → Memilih untuk percaya → Sukacita di dalam Tuhan → Tuhan menjadi sumber kekuatan sejati. Hal ini bukan mengajarkan “Bersukacitalah karena semua keadaan pasti baik atau baik-baik saja.” Melainkan, bersukacitalah dalam segala keadaan, karena Tuhan setia menopang dan memberkati.
Mungkin harapan kita meleset, tugas menumpuk, gagal mengerjakan proyek, arah masa depan masih semrawut, studi terhambat, dll. Mari belajar pada Habakuk, tetap fokus pada Allah sumber sukacita yang berdaulat penuh. Tuhan sedang berkarya dalam hidup kita. Tetap bersukacita dalam pengharapan pada-Nya.
Inspirasi: Selalu bersukacita dalam segala keadaan, sebab Tuhan sumber pertolongan dan kekuatan sejati.