Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (1 Korintus 3: 7)
Jemaat Korintus sedang mengalami perselisihan dan pengelompokan (ay 1-3). Paulus melihat persoalan ini bukan sekadar masalah memilih tokoh favorit. Di balik semua itu ada persoalan yang lebih mendalam, manusia mulai mengambil kemuliaan yang seharusnya diberikan kepada Allah.
Dalam perikop ini Paulus tidak merendahkan para pelayan dan pelayanannya. Ia sedang menempatkan pelayanan pada tempat yang benar. Manusia adalah instrumen. Allah adalah sumber kehidupan. Kata ho auxanōn Theos (Allah, Dia yang memberi pertumbuhan) memakai bentuk imperfect menggambarkan suatu tindakan yang berlangsung pada masa lampau sebagai Allah sedang/terus bekerja memberikan pertumbuhan. Selanjutnya ayat 9 adalah puncak identitas perikop: “… kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Ada dua gambaran: ladang Allah, artinya jemaat adalah milik Allah bukan milik Paulus atau Apolos. Jemaat juga digambarkan sebagai bangunan milik Allah, bukan tempat untuk membangun nama kita sendiri, melainkan membangun umat Allah. Jika pelayanan membuat nama kita makin besar tetapi Allah semakin kecil, kita sudah melenceng. Ada 4 Prinsip hidup yang dapat diterapkan:
Prinsip 1 - Setiap orang mempunyai bagian. Tidak semua orang dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang sama. Jangan berkata: “Karena saya tidak seperti dia, berarti saya tidak berguna.” Paulus menanam. Apolos menyiram. Bagiannya berbeda, tapi tujuan sama.
Prinsip 2 - Kesetiaan lebih penting daripada popularitas. Kita sering ingin melihat hasil secepat mungkin. Tetapi benih tidak langsung menjadi pohon. Dalam pelayanan pun demikian. Kita mungkin sudah mengajar seseorang bertahun-tahun tetapi belum melihat perubahan. Jangan buru-buru mengatakan:“Pekerjaan saya sia-sia.” Mungkin kita sedang menanam, orang lain yang menyiram. Dan Allah akan memberikan pertumbuhan.
Prinsip 3 - Jangan mengambil kemuliaan Allah. Ketika pelayanan berhasil, mudah sekali hati berkata sombong: “Karena saya.” Paulus mengingatkan, pusat semuanya bukan penanam dan penyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.
Prinsip 4 - Jangan iri terhadap bagian orang lain. Kalau kita hanya melihat hasil pelayanan orang lain, kita bisa iri. Kita tidak tahu berapa banyak benih yang mereka tanam. Kita dipanggil untuk setia pada bagian kita, bukan iri hati pada orang lain. Manusia bekerja pada tahap, waktu, dan area tertentu, tetapi Allah bekerja atas seluruh bumi, secara berkelanjutan, dan memakai beragam manusia. Mari terus bekerja keras menanam benih Firman Tuhan, kasih, keteladanan, dan kebaikan. Lakukan bagian yang dipercayakan Tuhan dengan setia. Kita tidak mungkin mengendalikan semuanya, hanya Allah yang berkuasa memberikan pertumbuhan yang sempurna.
Inspirasi: Apa yang sudah kita tanam, siram dan rawat, percayalah bahwa Allah berkuasa memberi pertumbuhan.
