Tuhan Yesus dan Arah Hati Manusia

Tuhan Yesus dan Arah Hati Manusia

Kabar tentang Yesus tersiar begitu luas sejak peristiwa penyembuhan orang sakit kusta di Galilea. Yesus bahkan memberikan peringatan keras kepada orang sakit kusta tersebut agar jangan memberitahukan kepada siapa pun, tetapi orang ini tetap melakukan apa yang dikehendakinya, sehingga mulai saat itu Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya tidak dapat terang-terangan masuk ke dalam kota (Mrk. 1:43-45).

Maka mulai sejak saat itu Yesus harus tinggal di luar kota di tempat yang sepi, namun orang banyak tetap berdatangan dari segala penjuru.

Ketika Yesus mengajar di Kapernaum banyak orang berdatangan. Salah satu peristiwa yang sudah sering kita dengar adalah mengenai seorang yang lumpuh digotong empat orang dan diturunkan dari atap sebuah rumah. Akhir cerita, kita tahu bahwa orang ini pun sembuh dari penyakitnya dan dapat berjalan kembali.

Mulai dari Markus pasal kedua, kita melihat beberapa ahli Taurat juga hadir, ditambah orang-orang Farisi. Pada Markus 2:7-24 kita melihat bagaimana orang-orang ini mengkritik Tuhan Yesus. Timbullah suatu pertikaian keagamaan di sini; semacam apologetika tentang kepercayaan yang dipegang oleh Yesus yang berbeda dengan pengajaran ahli-ahli Taurat maupun golongan Farisi.

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menuduh bahwa Yesus menghujat Allah, bergaul dengan para pendosa, dan murid-murid-Nya tidak berpuasa dan tidak menjalankan Sabat menurut tradisi yang berlaku pada masa itu. Dalam hal ini kita melihat bahwa pelayanan Yesus mulai dipertanyakan mereka. Apa yang Yesus lakukan bukan menghujat Allah, melainkan menyatakan bahwa Dia adalah Allah. Tetapi sulit bagi mereka menerima hal itu, padahal Dia sudah menunjukkan di depan mereka bagaimana orang lumpuh yang sudah digotong oleh empat orang disembuhkan oleh-Nya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak melihat perbuatan baik yang Tuhan Yesus kerjakan, melainkan mereka cenderung melihat bagaimana Tuhan Yesus sudah mengganggu hidup mereka. Kenyamanan mereka sebagai pemimpin agama selama ini mulai diganggu dengan kehadiran Tuhan Yesus dan mereka marah, sebab orang banyak tidak lagi tertarik kepada mereka, mereka tidak lagi menjadi perhatian utama, melainkan Tuhan Yesus yang menjadi pusat perhatian orang banyak pada saat itu.

Yesus begitu banyak pengikutnya, membuat orang-orang beragama itu merasa heran, mungkin mereka iri hati dan sulit mempercayai apa yang Yesus kerjakan. Mereka mulai mencari-cari kesalahan-Nya. Tuhan Yesus tidak pernah berusaha mencari ketenaran dari pelayanan yang Dia lakukan, berbanding terbalik dengan apa yang dicari oleh orang-orang di dunia sekarang ini. Tanpa sadar orang-orang dunia ingin mencari ketenaran dengan menjadi daya tarik orang banyak, bahkan sebanyak-banyaknya, demi mendapatkan nama, uang, pujian dan banyak motivasi lainnya yang ditujukan kepada diri sendiri.

Kristus yang seharusnya menjadi daya tarik bagi semua orang tidak pernah berusaha menjadikan itu sebagai fokus. Tanpa sadar, kita sering menjadikan diri kita daya tarik bagi orang banyak. Tidak heran ketika kita memulai hari-hari kita, yang diutamakan adalah diri kita sendiri, mulai dari memeriksa status di media sosial, berapa banyak comments, likes, subscribers, views pada status media sosial kita yang mungkin bukan hanya di satu platform, mungkin bisa ada di dua atau tiga platform yang berbeda. Hal ini tanpa sadar menjadi gaya hidup yang dilakukan setiap pagi sebelum memulai hari dan bisa menghabiskan waktu mungkin berjam-jam. Maka tidak heran jika kita mulai mengesampingkan Tuhan Yesus, karena sekarang kita sudah menjadi daya tarik atau sedang berusaha menjadi pusat perhatian orang banyak, mungkin di sekolah, di universitas, di lingkungan kerja, bahkan di gereja. Lho, kok bisa? Tentu saja karena kita manusia berdosa. Dosa membuat arah hati kita bergeser tanpa kita sadari.

Mari kita memeriksa hati kita masing-masing di hadapan Tuhan. Mereka yang berdosa tidak pernah Tuhan Yesus tinggalkan, bahkan Dia mau duduk makan bersama orang berdosa. Bukankah kita orang berdosa tersebut? Sebagai sebuah praktik, mari kita memulai hari kita dengan bersaat teduh, kita datang ke hadapan Dia yang membenci dosa namun tidak membenci orang berdosa. Bersaat teduh dengan childlike faith, rendah hati dan menyerahkan sepenuhnya hidup kita ke dalam tangan Tuhan, agar hati kita terarah kembali kepada Dia yang seharusnya menjadi daya tarik kita, sebab Tuhan Yesus juga tertarik kepada Saudara dan saya. Dia tidak pernah tertarik kepada dosa. Orang banyak datang kepada Dia karena Dia lebih dulu tertarik datang kepada mereka yang berdosa. Kalau Dia tidak datang ke dalam dunia yang berdosa, maka semua orang pasti binasa.

Soli Deo Gloria.

Adhi Gusman Halim
Mahasiswa STTRII

Sumber: https://www.buletinpillar.org/renungan/tuhan-yesus-dan-arah-hati-manusia

Kejatuhan Manusia

Kejatuhan Manusia

Ketika diciptakan, Adam suci karena tidak berdosa. Namun, Adam diciptakan dengan kondisi dapat berbuat dosa. Apabila Adam memilih untuk terus taat kepada Tuhan, Adam tidak akan berdosa. Dalam hal inilah, banyak orang Kristen menyalahkan Tuhan dengan berkata, "Seharusnya Allah menciptakan Adamdengan kondisi tidak dapat berbuat dosa." Mari kita selidiki lebih dalam.

Pengertian Dosa

Konsep dosa merupakan salah satu ajaran yang dibahas secara panjang lebar dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB).

  1. Definisi Dosa
    Dalam PL, setidaknya ada 8 kata dasar yang merujuk pada pengertian dosa ("khata", "ra", "pasha", "awon", "shagag", "asham", "rasha", dan "taah"). Jika ditarik kesimpulan, dosa dalam PL adalah hal yang bertentangan dengan norma, dan pada dasarnya merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Tindakan dosa bukan hanya perbuatan yang tidak mencapai sasaran, tetapi juga tindakan yang mencapai sasaran yang keliru. Dalam PB, setidaknya ada 12 kata dasar yang menjelaskan pengertian dosa, yaitu: "kakos", "poneros", "asebes", "enokhos", "hamartia", "adikia", "anomos", "parabates", "agnoein", "planao", "paraptoma", dan "hipokrisis". Jika ditarik kesimpulan, dosa dalam PB adalah pemberontakan secara aktif terhadap Allah. Dosa berarti tidak mencapai sasaran, pemberontakan, memilih jalan yang tidak benar, kejahatan, pelanggaran terhadap hukum, dll.. Secara ringkas, dosa diartikan sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah (1Yoh. 3:4). Jadi, sifat utama dosa terletak pada arah yang bertentangan dengan Allah (Rm. 3:23).
  2. Asal-Usul Dosa
    Sudah sejak awal sejarah peradaban, manusia memperdebatkan pertanyaan dari mana datangnya kejahatan dan dosa di dunia. Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa dosa sebelumnya tidak ada dan bukan Allah yang menciptakan dosa. Sebab Alkitab sangat jelas mengungkapkan bahwa Allah itu suci dan segala sesuatu yang Tuhan ciptakan itu baik dan sempurna adanya (Kej. 1:31). Dosa berasal dari hati Lucifer. Lucifer adalah makhluk malaikat yang diciptakan Tuhan dengan berbagai kelebihan. Namun, hal itu membuatnya sombong dan ingin menjadi Tuhan sehingga dia memberontak melawan Tuhan (Yeh. 28:15-17; Yes. 14:1314) sehingga Tuhan mencopot jabatannya di surga dan mengusirnya ke dunia. Namanya diganti menjadi Iblis atau Setan, dan melaluinya, segala jenis dosa dan kejahatan ada di dunia ini. Pekerjaan Setan sekarang adalah menggoda manusia untuk jatuh ke dalam dosa dan menjadikan mereka pengikut Setan.

Bagaimana Manusia Jatuh ke dalam Dosa?

Ketika menciptakan manusia, Adam dan Hawa, Allah rindu agar manusia memiliki relasi yang harmonis dan akrab dengan Allah. Itu sebabnya, Allah membawa manusia untuk hidup berdampingan dengan-Nya di Taman Eden yang indah agar manusia mengalami kebahagiaan yang penuh bersama Allah. Untuk itu, Adam dan Hawa harus memercayai dan mengasihi Allah sehingga mereka dapat hidup berdampingan dengan Allah. Ini bukan suatu paksaan, melainkan kerelaan. Bagaimana Allah menguji bahwa Adam dan Hawa memercayai dan mengasihi Allah?

  1. Larangan Tuhan kepada Adam di Taman Eden
    Setelah menciptakan Adam dan Hawa, Tuhan menempatkan mereka di Taman Eden yang indah dan memberi mereka tanggung jawab untuk memeliharanya. Ada banyak jenis pohon di taman itu, dan Adam dan Hawa diperbolehkan makan buah apa pun dari semua pohon di taman itu, kecuali buah dari satu pohon yang disebut "pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat". Allah dengan jelas memberi peringatan dan larangan agar mereka tidak memakan buah dari pohon tersebut (Kej. 2:17).
  2. Setan Memperdaya Hawa dan Menjerumuskan Adam
    Pada suatu ketika, Setan dalam wujud ular masuk ke dalam taman dan Hawa memberi kesempatan kepada Setan untuk bercakap-cakap dengannya. Setan bertanya, "Apakah Allah benar-benar berfirman, ‘Kamu tidak boleh makan dari pohon mana pun di taman ini?'" (Kej. 3:1). Pertanyaan ini kedengarannya tidak berbahaya, tetapi Setan memiliki niat jahat. Hawa menjawab, "…. Kami boleh makan buah dari pohonpohon di dalam taman, tetapi dari buah pohon yang ada di tengah taman, Allah telah berfirman, ‘Kamu tidak boleh memakannya, kamu juga tidak boleh menyentuhnya, nanti kamu akan mati'" (Kej. 3:2, 3). Perkataan yang diucapkan Setan selanjutnya kepada Hawa adalah dusta belaka (Kej. 3:4, 5). Perkataan Setan itu meracuni pikiran dan hati manusia untuk meragukan Tuhan yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu dari Adam dan Hawa. Setan membuat Hawa memakan buah itu karena dia ingin menjadi seperti Allah. Ketika Allah berkata, "Pastilah engkau mati," Setan berkata, "Kamu tidak akan mati." Seperti yang kita ketahui, Hawa memilih untuk memercayai Setan! Rencana Setan berhasil. Hawa tertipu dan memercayai dusta Setan. Bagaimana bisa? Hawa tertipu karena lebih memercayai Setan daripada perkataan Allah. Kita pun akan tertipu apabila kita tidak memercayai firman Allah. Rencana jahat Setan tidak hanya berhenti di situ. Setan menunggu Hawa menularkan tipuan itu kepada Adam. Strategi Setan untuk berbicara dengan Hawa dahulu sangatlah hebat karena Hawa dengan mudah dapat mencapai Adam daripada Setan. Sekalipun Adam tahu apa yang Allah katakan kepadanya, bahkan tahu akibat dari memakan buah itu, yaitu kematian, hati Adam telah tertular dengan keinginan untuk menjadi seperti Allah. Bukannya mendapatkan kuasa, Adam justru tertipu dan jatuh ke dalam dosa. Inilah pemberontakan manusia pertama terhadap Allah, Sang Pencipta.
  3. Kehendak Bebas
    Manusia Mengapa Allah tidak menciptakan manusia dengan kondisi tidak dapat berbuat dosa? Karena Allah tidak membuat manusia robot. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Karena itu, manusia memiliki kemampuan intelektual untuk berpikir dan membuat pilihan bebas. Allah ingin manusia dengan kerelaan hatinya melakukan 36apa yang diperintahkan Tuhan dengan hati yang penuh syukur dan taat. Oleh karena itu, diberikanlah kehendak bebas kepada manusia supaya manusia dapat membuat keputusan sendiri bahwa dengan rela hati dia memercayai dan mengasihi Allah.
  4. Adam Menciptakan Dosa Asal bagi Seluruh Umat Manusia
    Karena Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, ketika dia jatuh ke dalam dosa, seluruh keturunannya pun menanggung akibat dari kejatuhan ini (Ef. 2:3; Rm. 6:20; 7:20). Anak Adam akan lahir dengan warisan dosa dari Adam, yang selanjutnya akan diturunkan lagi ke semua anak-anaknya yang lain, sampai kepada semua keturunannya hingga hari ini. Ini merupakan suatu akibat yang sangat mengerikan karena berarti seluruh umat manusia yang lahir di dunia tidak ada yang terlahir tanpa dosa; semua sudah mewarisi dosa dari Adam. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Kejadian 5:2 bahwa dari Adam, lahirlah seorang anak laki-laki yang "segambar" dengan Adam.

Hukuman atas Dosa

Setiap perbuatan memiliki konsekuensi, terlebih perbuatan dosa yang sudah dilakukan oleh Adam. Alkitab berkata, "… upah dosa ialah maut …" (Rm. 6:23). Apa artinya?

  1. Hukuman Kematian
    Akibat dari ketidaktaatan Adam adalah kematian! Namun, mengapa Adam tidak langsung mati pada saat dia memakan buah terlarang itu? Dalam Alkitab, ada tiga macam kematian yang disebutkan.
    a. Kematian Rohani Ini artinya terpisahnya roh manusia dengan Roh Allah. Dosa membuat manusia hidup terpisah dari Allah. Akibat dari ketidaktaatannya, Adam, seketika itu juga, tidak dapat lagi hidup berdampingan dengan Allah karena Allah membenci dosa dan Dia suci adanya.
    b. Kematian Jasmani Ini artinya terpisahnya tubuh dengan roh manusia. Dosa akan mengakibatkan kematian jasmani, walaupun tidak seketika itu juga. Itu sebabnya, Adam tidak langsung mengalami kematian jasmani saat dia memakan buah terlarang. Dia masih hidup untuk beberapa ratus tahun lagi sebelum akhirnya mengalami kematian tubuh.
    c. Kematian Kekal Ini artinya terpisahnya roh manusia dengan Roh Allah selamalamanya dalam penghukuman kekal. Hal ini akan terjadi jika manusia menolak Injil dan menolak keselamatan yang diberikan Allah melalui penebusan oleh Tuhan Yesus Kristus.
  2. Merasa Malu dan Takut
    Hal inilah yang pertama kali disadari oleh Adam dan Hawa saat mereka jatuh ke dalam dosa, yaitu mereka merasa malu karena mendapati diri mereka telanjang (Kej. 3:7). Mereka juga diliputi rasa bersalah dan takut sehingga mereka menyembunyikan diri dan tidak ingin bertemu dengan Allah. Mengapa mereka tidak merasa malu dan takut sebelumnya? Karena mereka telah kehilangan kemuliaan Allah yang selama ini menjadi pakaian dan perlindungan mereka.
  3. Diusir dari Taman Eden dan Mengalami Kesulitan Hidup
    a. Diusir dari Taman Eden Adam dan Hawa diusir oleh Tuhan dari Taman Eden (Kej. 3:23) karena mereka harus berpisah dari Allah dan kehilangan hak istimewa kedekatan relasi dengan Allah.
    b. Hawa Harus Melahirkan Keturunan dengan Kesakitan Kejadian 3:16 mengatakan: "… susah payahmu ketika mengandung; dalam kesakitan kamu akan melahirkan anak-anak …." Sesuatu yang seharusnya menjadi sukacita, sekarang menjadi kesakitan dan penderitaan.
    c. Manusia Akan Mencari Nafkah dengan Susah Payah Sebagai akibat bumi dikutuk oleh Tuhan, Adam harus mencari nafkah dengan susah payah seumur hidupnya (Kej. 3:19).
  4. Hukuman atas Ular dan Alam Semesta Selain Adam dan Hawa, ular juga mendapatkan hukuman (Kej. 4:14). Demikian juga alam semesta dan ciptaan yang lain. Manusia tidak lagi memiliki hubungan harmonis dengan alam dan binatang, malah kadang saling memusuhi dan merugikan (Kej. 3:19).

Janji Penebusan/Keselamatan Allah atas Manusia

Apakah untuk selamanya manusia dipisahkan dari Allah? Tidak.

  1. Dasar Alkitab
    Setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak meninggalkan Adam dan Hawa, Allah justru mencari mereka. Adam dan Hawa mencoba menyembunyikan diri dari Allah, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menyembunyikan diri dari Allah. Allah, yang kudus dan benar, memang tidak dapat membiarkan dosa tidak dihukum. Namun, karena kasih-Nya, Allah memanggil Adam dan Hawa untuk kembali datang kepada-Nya (Yoh. 3:16).
  2. Cara Tuhan Memenuhi Kebutuhan Manusia
    Setelah jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa merasa malu karena telanjang sehingga mereka mencari jalan keluar sendiri dengan membuat pakaian dari daun pohon ara dan bersembunyi (Kej. 3:7-10). Allah tahu yang mereka alami. Karena itu, Dia mencari mereka (Kej. 3:9) dan menyediakan jalan keluar yang lebih baik, yaitu dengan membuatkan pakaian dari kulit binatang (Kej. 3:21). Artinya, ada seekor binatang yang tidak bersalah yang harus mati agar kulitnya dapat menjadi pakaian bagi mereka. Jalan keluar Allah ini merupakan tindakan simbolis yang Allah tunjukkan kepada Adam dan semua orang percaya bahwa tanpa 39penumpahan darah dari orang yang tidak berdosa, tidak akan ada pengampunan dosa (Ibr. 9:22).
  3. Janji Anugerah Keselamatan
    Allah mempunyai rencana agar manusia kembali memiliki relasi dengan Allah. Rencana itu Allah wujudkan dengan cara memberi janji keselamatan kepada manusia (Kej. 3:15). Itulah yang telah digenapi Kristus ketika Dia mati di kayu salib dan bangkit dari kubur. Kristus memulihkan hubungan yang terputus. Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Jadi, kematian-Nya di atas kayu salib adalah dasar bagi pengampunan dosa manusia. Oleh kematian-Nya, tumit-Nya diremukkan, dan ketika Dia bangkit dari kematian, kepala Iblis, yaitu sengat maut, dikalahkan (Kej. 3:15).
Penciptaan Manusia

Penciptaan Manusia

Manusia adalah mahkota dari semua ciptaan Allah karena manusia diciptakan untuk tujuan agung yang Allah inginkan, yaitu untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam memelihara semua ciptaan Allah yang lain. Namun, sebelum mempelajari lebih lanjut tentang hubungan manusia dan Allah, mari terlebih dahulu melihat apakah manusia itu dan bagaimana Allah menciptakan mereka.

Pengertian Istilah "Adam"

Kata “adam” dalam bahasa Ibrani artinya 'manusia laki-laki', tetapi juga bisa berarti nama pribadi 'Adam', dan bisa juga sebagai 'umat manusia yang mewakili seluruh manusia'. Karenanya, mari kita melihat dengan lebih teliti penggunaan kata ini dalam Alkitab.

  1. "Adam" sebagai 'Manusia Laki-laki'
    Dalam Kejadian pasal 1-4, penulis banyak merujuk kata "adam" untuk dua arti yang berbeda. Yang pertama, sebagai nama jenis manusia laki-laki pertama yang Tuhan ciptakan. "…. Sekarang, mari Kita membuat manusia dalam rupa Kita, menurut keserupaan Kita." (Kej. 1:26)
  2. Nama Pribadi Manusia Pertama “Adam”
    Yang kedua, sebagai nama pribadi “Adam”, sebutan atau panggilan yang diberikan kepada manusia pertama ciptaan Tuhan. "Jadi, manusia itu memberikan nama untuk semua hewan, untuk burung-burung di udara, dan semua binatang liar di padang. Akan tetapi, bagi manusia itu (Adam), tidak ditemukan seorang penolong yang sepadan dengannya." (Kej. 2:20)
  3. “Adam” Mewakili Seluruh Umat Manusia
    Mulai Kejadian 5, penulis kitab Kejadian memakai arti lain untuk kata ‘Adam’, yaitu 'umat manusia' (human race), baik laki-laki maupun perempuan. "…. Pada hari Allah menciptakan manusia, Dia membuatnya dalam keserupaan dengan Allah. Dia menciptakan mereka, laki-laki dan perempuan, dan Dia memberkati mereka, dan menamai mereka manusia, pada hari mereka diciptakan." (Kej. 5:1-2)

Allah Adalah Pencipta Manusia

Keberadaan manusia di atas bumi ini tidak muncul dengan sendirinya atau sebagai hasil proses evolusi dari binatang. Dengan tegas, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan manusia. Berfirmanlah Tuhan: "Sekarang, mari Kita membuat manusia …. Lalu, Allah menciptakan manusia …." (Kej. 1:26, 27) Yesus berkata, "Namun, sejak permulaan penciptaan, Allah menciptakan mereka laki-laki dan perempuan." (Mrk. 10:6)

  1. Bagaimana Allah Menciptakan Manusia?
    Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan pada hari keenam dari seluruh rangkaian penciptaan. Manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. "Lalu, Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya. Menurut rupa Allah, Dia menciptakannya …. Inilah hari keenam" (Kej. 1:26-31). Bagaimana mereka diciptakan?
    a. Diciptakan dari Debu dan Tanah (Tubuh)
    Alkitab menjelaskan bahwa TUHAN Allah membentuk manusia dari debu di tanah. Inilah yang membrntuk tubuh (fisik) manusia. Kata ‘membentuk’ merupakan terjemahan dari kata Ibrani “yatsar”, yang berarti ‘memberi bentuk atau membentuk’. Penggunaan kata ini memunculkan gambaran seorang tukang periuk (potter) yang memiliki kecerdasan atau kuasa untuk membentuk karyanya.
    b. Allah Menghembuskan Napas-Nya (Roh)
    Setelah membentuk manusia, Allah menghembuskan napasNya (Naphes) ke dalam hidung manusia sehingga ia menjadi hidup. Ini berarti, manusia lebih dari sekedar “debu”, atau sekadar substansi 17fisik saja. Manusia memiliki roh (dari napas Allah). Inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Dan, Allah menempatkan manusia yang diciptakan-Nya itu di Taman Eden.
    c. Diciptakan Serupa dan Segambar dengan Allah
    Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti ada unsurunsur tertentu yang Allah ciptakan dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia itu menjadi makhluk seperti Allah. Unsurunsur tertentu tersebut di antaranya: spiritualitas, kecerdasan (kreativitas), moralitas (hati nurani) yang menyebabkan manusia bisa berpikir, memiliki hikmat, mengasihi, dan bersekutu seperti Allah Tritunggal. Namun, walaupun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, perlu diingat bahwa terdapat perbedaan kualitas antara ciptaan dan Penciptanya.
    d. Tidak Baik Sendirian
    Manusia pertama yang diciptakan Allah diberi nama Adam. Setelah menciptakan Adam, Tuhan memandang tidak baik jika Adam sendirian. Lalu, diciptakan-Nya seorang penolong yang sepadan dengan Adam. Ketika Tuhan membuat Adam tidur nyenyak, Tuhan mengambil salah satu dari rusuk Adam, kemudian menutup tempat itu dengan daging. Dari rusuk Adam itulah, diciptakan oleh Allah seorang perempuan, yang Adam beri nama Hawa (Kej. 2:22-24; 3:20). Demikianlah Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan.
  2. Allah Menciptakan Laki-laki dan Perempuan
    Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memperlihatkan kebutuhan Adam untuk memiliki pasangan dengan meminta Adam menamai semua makhluk hidup lainnya (Kej. 2:19-20). Allah kemudian membuat Hawa dari tulang rusuk Adam. Ketika Adam melihatnya, dia tahu kalau Hawa ini istimewa. Allah menciptakannya dengan sangat baik dan mereka memelihara Taman Eden.
    a. Memiliki Kesetaraan
    Laki-laki dan perempuan diciptakan Allah dengan kesetaraan untuk saling menghormati dan saling menghargai sebagaimana dicontohkan oleh Allah Tritunggal, yang mana Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus dalam kesetaraan-Nya saling mengasihi, bekerja sama, dan berbagi hidup.
    b. Perbedaan Peran Laki-laki dan Perempuan Namun, memang tidak dapat disangkal adanya perbedaan. Laki-laki diciptakan lebih dahulu daripada perempuan dan secara fisik laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Laki-laki memang diorientasikan Allah demikian karena Allah ingin laki-laki menjadi kepala sehingga ia dapat memimpin dan melindungi perempuan yang lebih lemah. Perempuan, sebagaimana dikehendaki Allah pada saat penciptaan, menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya.
    c. Tugas Manusia
    Allah memberikan tugas yang sederhana, tetapi juga menuntut tanggung jawab yang besar. Yang pertama, mereka harus beranak cucu dan berlipat ganda (Kej. 1:27). Dalam panggilan Allah untuk manusia berkembang biak dan memenuhi bumi ini, terdapat juga panggilan untuk manusia hidup bersosialisasi, bekerja sama, dan saling membantu sehingga tercipta persekutuan yang penuh cinta kasih sebagaimana yang Allah Tritunggal contohkan. Tugas yang kedua adalah menguasai segala yang hidup dan yang bergerak di bumi (Kej. 1:28). Manusia diciptakan sebagai ciptaan yang tertinggi karena berakhlak dan bermoral. Karena itu, kemampuan menguasai tidak seharusnya dipakai untuk menjajah dan mengeksploitasi alam ciptaan Allah. Sebaliknya, bagaimana manusia dan alam dapat berjalan secara harmonis untuk memenuhi tugas dan panggilan Penciptanya.
    d. Apa Tujuan Allah Menciptakan Manusia?
    Allah menciptakan manusia dengan adanya tujuan. Tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah untuk kemuliaan-Nya. Tuhan ingin manusia yang dibentuk menurut gambar dan rupa-Nya dapat bersekutu dengan-Nya dan memuliakan-Nya. Alkitab menyatakan: "… yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku …." (Yes. 43:7) "…. Segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia dan untuk Dia." (Kol. 1:16) Karena Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu, Dia juga adalah Pemilik segala sesuatu sehingga hanya Dialah yang patut atau layak dipuji dan disembah. Apakah arti penyembahan itu? Penyembahan adalah ungkapan kasih, penghormatan, dan ketaatan yang patut diberikan kepada Tuhan. Kita tidak boleh menyembah manusia, malaikat, makhluk, ataupun benda-benda lain karena mereka hanyalah ciptaan. Alkitab mengatakan: "…. 'Kamu harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada-Nya saja kamu beribadah.'" (Mat. 4:10) Ya, karena hanya Tuhanlah yang layak menerima pujian, hormat, dan kuasa (Why. 4:11).

Kondisi Adam pada Waktu Diciptakan

  1. Sempurna
    Kita telah mempelajari bahwa Adam diciptakan oleh Allah. Alkitab menyatakan bahwa kondisi Adam waktu diciptakan dalam keadaan sangat baik (Kej. 1:31). Keadaan Adam adalah sempurna dan suci atau tanpa dosa. Namun, bukan berarti Adam diciptakan dengan kemungkinan untuk tidak bisa berbuat dosa. Allah memberikan alat pengukur yang disebut kehendak bebas dalam diri manusia yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk taat dan menyembah Allah sesuai dengan pilihan dan kerelaan hatinya. Konsekuensi logis dari memiliki kemampuan memilih membuat manusia rentan untuk berbuat dosa (tidak taat) sebagaimana Allah kehendaki.
  2. Hubungan yang Akrab dengan Allah
    Jadi, Adam dan Hawa diciptakan dalam keadaan telanjang (Kej. 2:25), tetapi mereka tidak malu. Mereka menikmati persekutuan yang baik dengan Allah di Taman Eden. Namun, di sisi lain, Allah juga memberi mereka perintah yang sederhana untuk ditaati. Adam dan Hawa dilarang makan dari satu pohon; hanya dari satu pohon itu, dari seluruh isi Taman Eden. Dalam ketaatan mengikuti perintah Allah inilah, tergantung hubungan akrab manusia dengan Allah.

Perdebatan tentang Pembagian Natur Manusia

Dalam ilmu teologi, terdapat tiga teori tentang pembagian natur manusia, yaitu trikotomi, dikotomi, dan monokotomi. Mari kita telusuri satu per satu.

  1. Trikotomi
    Trikotomi adalah teori yang percaya bahwa ketika diciptakan, natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh adalah unsur lahiriah manusia yang dapat dilihat, yang melaluinya manusia dapat melihat, mendengar, menyentuh, dan sebagainya. Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia terdiri dari tiga unsur utama, yaitu pikiran, emosi (perasaan), dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir. Dengan perasaannya, manusia dapat mengasihi, dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih. Roh adalah unsur yang paling dalam dari manusia yang memungkinkannya untuk bersekutu dengan Tuhan. Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandangannya pada perkataan Paulus dalam 1Tes. 5:23 dan penulis Ibrani dari Ibr. 4:12, yang secara jelas menyebutkan tiga unsur tersebut: "…. Kiranya roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara seluruhnya, tanpa cacat pada kedatangan Tuhan kita, Kristus Yesus." (1Tes. 5:23) "Sebab, firman Allah … menusuk jauh sampai memisahkan jiwa dan roh, antara sendi dan tulang sumsum, …" (Ibr. 4:12)
  2. Dikotomi
    Dikotomi adalah teori yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari dua bagian saja, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Penganut teori ini percaya bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Allah hanya memerlukan dua bagian, tubuh manusia (jasmani yang kelihatan) dan embusan napas Allah (roh yang tidak kelihatan), lalu manusia menjadi hidup (Kej. 2:7). Alkitab sendiri memakai istilah jiwa dan roh bukan sebagai dua substansi yang berbeda, tetapi sering dipakai secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat. 6:25; 10:28 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pkh. 12:7; 1Kor. 5:3,5 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya adalah Kej. 41:8; Mzm. 42:6; Mat. 20:28; 27:50; Yoh. 12:27; Ibr. 12:23; Why. 6:9. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti dalam 1Tes. 5:23 dan Ibr. 4:12, tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika ditafsirkan demikian, manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi, melainkan lebih, misalnya dalam Mat. 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati, jiwa, dan akal budi (pikiran).
  3. Monokotomi
    Monokotomi adalah teori yang percaya bahwa manusia adalah pribadi yang utuh yang tidak terpisahkan. Manusia tidak akan bisa ada/hidup tanpa tubuh atau jiwa/rohnya. Tubuh tidak akan bisa hidup tanpa jiwa/roh, demikian juga sebaliknya. Menurut teori ini, istilah Alkitab "jiwa" dan "roh" hanyalah ekspresi lain dari pribadi atau hidup manusia itu sendiri.
Penciptaan Alam Semesta

Penciptaan Alam Semesta

Tuhan Sudah Ada Sebelum Segala Sesuatu Ada

Kapan dan sudah berapa lamakah Tuhan ada? Tuhan sudah ada dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya sebelum segala sesuatu ada. Alkitab mengatakan, “Pada mulanya Tuhan ….” (Kejadian 1:1; Yohanes 1:1) Keberadaan-Nya ialah dari kekal sampai kekal. Ia selalu ada, dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Dalam kitab Mazmur 90:2 menyatakan “… dari selama-selamanya sampai selama-lamanya, Engkaulah Tuhan.”

Tuhan bukanlah sekadar kuasa atau pengaruh yang dahsyat. Dia adalah Pribadi yang kita sebut sebagai Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus. Dialah yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada. Dia adalah Sang Pencipta (Bapa: 1 Korintus 8:6; Anak: Yohanes 1:30; Roh Kudus: Kejadian 1:2; Yesaya 40:12-13).

Alkitab adalah Jawaban

Sejak mulanya, manusia ingin tahu bagaimana segala sesuatu di dunia ini terjadi. Banyak pendapat telah diberikan mengenai asal usul alam ini, khususnya mengenai asal usul bumi. Namun, tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti jawabannya.

Bagaimanakah kita dapat mengetahuinya secara pasti? Dengan percaya atau mengimani firman Tuhan (Ibrani11:3). Di dalam firman Tuhan, kita menemukan jawabannya dengan pasti. Alkitab tidak pernah berspekulasi sebagaimana teori-teori yang diciptakan oleh manusia. Dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. (Kolose 1:16)

Walaupun Alkitab menjelaskan mengenai penciptaan dengan singkat, namun Tuhan telah memberitahukan kepada kita segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang permulaan alam semesta ini. Pernahkah Anda bertanya mengapa kitab pertama dalam Alkitab disebut Kitab “Kejadian”? Karena Kitab Kejadian menceritakan tentang permulaan atau asal usul segala sesuatu. Kata “Kejadian” berarti “permulaan”. Kitab ini menceritakan tentang permulaan langit, bumi dan segala isinya. Kitab ini dimulai dengan memberi informasi tentang asal mula alam semesta.

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1)

Tuhan adalah Pencipta Alam Semesta

Alkitab secara jelas memberikan jawabannya, yaitu Tuhan. Berikut ini adalah ayat-ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta.

  • “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian1:1)
  • “Dialah Tuhan … dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia menciptakannya untuk didiami.” (Yesaya 45:18)
  • “Kulah yang membentangkan langit dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya.” (Yesaya 45:12)
  • “… Ia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya: yang tetap setia untuk selama-lamanya.” (Mazmur 146:6)

Bagaimana Alam Semesta Diciptakan Tuhan?

Berbeda dengan Tuhan, alam semesta ini memiliki titik permulaan. Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini. Ia menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan seluruh keberadaan alam semesta ini bergantung kepada Tuhan. Dalam Kej. 1:1, kata “menciptakan” di sini tidak berarti memindahkan atau menghadirkan sesuatu yang sudah ada ke tempat lain yang pada mulanya tidak ada, tetapi membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada tanpa bahan (‘ex nihilo’). Ia menciptakan langit dan bumi dengan Firman-Nya. Alkitab mengatakan:

  • “Oleh firman Tuhan langit dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentara-Nya.” (Mazmur 33:6)

Firman Tuhan keluar dari mulut Allah yang berkuasa! Firman Tuhan mencipta segala sesuatu menjadi ada sesuai dengan yang difirmankan Allah itu. Seperti ada tertulis:

  • “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” (Mazmur 33:9)
  • “Berfirmanlah Allah: Jadilah ….” (Kejadian 1:3,6,9,11,14,20,24,26)

Keadaan Segala Sesuatu pada Waktu Diciptakan

Kondisi segala sesuatu pada saat Tuhan menciptakan mereka adalah tidak seperti sekarang ini. Kondisi segala hal yang Ia ciptakan adalah baik. Dalam Kejadian pasal 1, berkali-kali disebutkan bahwa setelah Tuhan menciptakan sesuatu, “Ia melihat semua itu baik.” (Kejadian 1:10,12,18,25,31)

Makhluk Hidup Diciptakan Sesuai dengan Jenisnya

Allah menciptakan semua makhluk hidup seperti burung, ikan, dan binatang, dan memberi kemampuan kepada mereka untuk berkembang biak menurut ketetapan-Nya, yaitu “berkembang biak menurut jenisnya masingmasing” (Kejadian 8:19). Tidak ada binatang yang dapat berganti jenis menjadi jenis binatang yang lain. Ketetapan ini masih berlaku hingga hari ini. Setiap makhluk hidup melahirkan keturunan atau anak menurut jenisnya.

Pemeliharaan Tuhan Atas Ciptaan-Nya

Beberapa orang beranggapan bahwa setelah Allah menciptakan dunia dan segala isinya, Ia menarik diri dan membiarkan ciptaan-Nya berjalan sendiri begitu saja. Paham ini disebut ‘Deisme’, bahwa Allah tidak peduli lagi dengan ciptaan-Nya, Ia lepas tangan setelah menciptakan mereka. Hal ini tidak benar. Sampai saat ini Allah masih memelihara ciptaan-Nya. Allah, selain Pencipta Agung dari segala sesuatu, Ia juga Pemelihara, Pemimpin, Pengatur, dan Pemerintah semua makhluk ciptaan, dan benda-benda ciptaan, mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil, dengan kebijaksanaan-Nya yang paling bijak dan pemeliharaan-Nya yang kudus, sesuai dengan pengetahuan yang tidak bisa salah dan kehendak-Nya yang bebas dan tidak berubah.

Apabila langit, bumi dan segala isinya ini masih ada sampai sekarang, ini semua karena pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya. II Petrus 3:7 mengatakan: “Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api ….” Semua ciptaan masih ada sampai sekarang karena Allah menopangnya. Ibrani 1:3 menjelaskan bahwa Kristus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa.

Kata “menopang” di sini tidaklah pasif, tetapi memiliki pemahaman yang aktif karena dengan maksud kehendak-Nya, Ia mengontrol semuanya secara terus-menerus. Jadi, Yesus secara aktif terlibat dalam karya pemeliharaan (Providensia). Hal serupa juga terdapat dalam Kolose 1:7 yang mengatakan bahwa di dalam Dia segala sesuatu ada. Bagaimana dengan kehidupan manusia di bumi ini? Apakah Allah masih memerhatikannya? Ya. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa Ia mengatur kehidupan di bumi ini. Mazmur 139:16 menjelaskan bahwa Allah mengatur kelahiran dan kehidupan manusia. Ia memberikan perlindungan kepada orang benar (Mazmur 5:12; Ulangan 33:12,25-28; I Samuel 2:9), memenuhi kebutuhan umat-Nya (Ulangan 8:3; Filipi 4:19) dan sebagainya. Sebenarnya kalau kita mau sadar, napas hidup yang masih Ia berikan kepada kita saat ini adalah bukti dari pemeliharaan-Nya terhadap manusia.

Ayub 34:14-15 mengatakan: “Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya dan mengembalikan nafas pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.” Demikian juga yang dikatakan Mazmur 104:29: “… apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu.”

Jadi, Allah masih campur tangan terhadap ciptaan-Nya. Semua keberadaan, sifat-sifat dan gerak segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidak bisa dilepaskan dari pemeliharaan Tuhan terhadapnya.

Bagaimana Keadaan Segala Sesuatu Sebelum Diciptakan?

  1. Tidak Berbentuk dan Kosong
    "Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi tidak berbentuk dan kosong, kegelapan menutupi permukaan samudra, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air." (Kej. 1:1-2)
  2. Penciptaan Waktu
    Aspek lain yang menjadi bagian dari ciptaan adalah waktu. Ketika kita berbicara bahwa "sebelum" segala sesuatu Allah sudah ada, bukan berarti bahwa waktu sudah ada dan tidak ada awal mulanya. Sebelum Allah menciptakan alam semesta, waktu tidak ada. Allah hidup dalam kekekalan dan Dia tidak dibatasi oleh waktu atau tempat. Waktu tercipta saat Allah berkata, "… 'Jadilah terang' …. Kemudian, Allah memisahkan terang itu dari gelap. Allah menyebut terang itu siang dan gelap itu malam …." (Kej. 1:3-5)

Bagaimana Allah Menciptakan Alam Semesta?

  1. Allah Menciptakan dari yang Tidak Ada
    Sebelumnya Berbeda dengan Allah, alam semesta ini memiliki titik permulaan. Allah menciptakannya dari yang tidak ada menjadi ada dan seluruh keberadaan alam semesta ini bergantung kepada Tuhan. Dalam Kej. 1:1, kata ‘menciptakan’ di sini tidak berarti memindahkan atau menghadirkan sesuatu yang sudah ada ke tempat lain untuk menggantikan yang sebelumnya. Sebaliknya, Ia membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada tanpa bahan ("ex nihilo"). Dia menciptakan langit dan bumi dengan Firman-Nya. Alkitab berkata: "Oleh firman TUHAN, langit dijadikan, dan oleh napas mulut-Nya, seluruh bala tentara-Nya." (Mzm. 33:6) Firman Tuhan keluar dari mulut Allah yang berkuasa! Firman Tuhan mencipta segala sesuatu menjadi ada sesuai dengan yang difirmankan Allah itu. Seperti ada tertulis: "Dia berbicara, dan hal itu terjadi; Dia memerintah, dan semua itu berdiri kukuh." (Mzm. 33:9) "Allah berfirman, 'Jadilah ….'" (Kej. 1:3, 6, 9, 11, 14, 20, 24, 26)
  2. Tujuh Hari Penciptaan
    Penciptaan selesai seluruhnya dalam waktu enam hari yang mengesankan dan menakjubkan. Enam hari secara harfiah, dengan 24 jam per hari, segala sesuatu diciptakan tanpa ada jeda. Dan, Allah menyatakan bahwa semua yang diciptakan-Nya sangat baik. Allah menciptakan semua makhluk hidup seperti burung, ikan, dan binatang, dan memberi kemampuan kepada mereka untuk berkembang biak menurut ketetapan-Nya, yaitu berkembang biak "menurut jenisnya masing-masing" (Kej. 8:19). Tidak ada binatang yang dapat berganti jenis menjadi jenis binatang yang lain, demikian juga manusia. Tidak ada binatang yang bisa menjadi manusia atau sebaliknya. Ketetapan ini masih berlaku hingga hari ini. Setiap makhluk hidup melahirkan keturunan atau anak menurut jenisnya.

Bagaimana Keadaan Setelah Penciptaan

  1. Semua yang Diciptakan Baik Adanya
    Dalam Kejadian pasal 1, setiap hari, setelah selesai menciptakan, selalu disebutkan bahwa, "… Allah melihat bahwa itu baik. " (Kej. 1:10, 12, 18, 25, 31) Kondisi alam pada saat diciptakan sungguh membuat Allah menyukainya dan menyatakan sukacita-Nya, terutama ketika selesai menciptakan manusia pada hari keenam, Allah berkata, "… itu sangat baik." (Kej. 1:31) Sekalipun saat ini dunia sudah dihukum Tuhan karena kejatuhan manusia dalam dosa, kebaikan keadaan ciptaan-Nya masih bisa dilihat sehingga kita masih terus bisa mengaguminya (Mazmur). Paulus pun menyebutkan bahwa segala sesuatu yang telah diciptakan Tuhan harus kita terima dengan ucapan syukur (1Tim. 4:4). Itu sebabnya, setiap orang percaya dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap semua kebaikan yang telah Allah ciptakan, terutama bumi tempat kita tinggal (1Tim. 6:17). Kita harus terus memeliharanya, bahkan mengembangkannya dengan kreativitas yang Allah berikan sebagai cara kita memuliakan Dia.
  2. Allah Memelihara Semua yang Diciptakan-Nya
    Beberapa orang beranggapan bahwa setelah Allah menciptakan dunia dan segala isinya, Dia menarik diri dan membiarkan ciptaan-Nya berjalan sendiri begitu saja. Paham ini disebut "Deisme", bahwa Allah tidak peduli lagi dengan ciptaan-Nya. Dia lepas tangan setelah menciptakan mereka. Hal ini tidak benar. Sampai saat ini, Allah masih memelihara ciptaan-Nya. Allah, selain Pencipta Agung dari segala sesuatu, Dia juga Pemelihara, Pemimpin, Pengatur, dan Pemerintah semua makhluk ciptaan, dan benda-benda ciptaan. Mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil, dengan kebijaksanaan-Nya yang paling bijak dan pemeliharaan-Nya yang kudus, sesuai dengan pengetahuan yang tidak bisa salah dan kehendak-Nya yang bebas dan tidak berubah. Kalau langit, bumi, dan segala isinya ini masih ada sampai sekarang, ini semua karena pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya (2Ptr. 3:7). Semua ciptaan masih ada sampai sekarang karena Allah menopangnya (Ibr. 1:3). Kata ‘menopang’ di sini tidaklah pasif, melainkan memiliki pemahaman yang aktif karena dengan maksud kehendak-Nya, Dia mengontrol semuanya secara terus-menerus. Jadi, Yesus secara aktif terlibat dalam karya pemeliharaan (providensia). Bagaimana dengan kehidupan manusia di bumi ini? Apakah Allah masih memperhatikannya? Ya. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa Dia mengatur kehidupan di bumi ini. Allah mengatur kelahiran dan kehidupan manusia (Mzm. 139:16), Dia memberikan perlindungan kepada orang benar (Mzm. 5:12; Ul. 33:12, 25-28; 1Sam. 2:9), memenuhi kebutuhan umat-Nya (Ul. 8:3; Flp. 4:19) dan seterusnya. Jika kita masih bernapas, ini adalah bukti dari pemeliharaan-Nya terhadap manusia. Jadi, Allah masih campur tangan terhadap ciptaan-Nya. Semua keberadaan, sifat-sifat, dan gerak segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidak bisa dilepaskan dari pemeliharaan Tuhan terhadapnya.
  3. Tujuan Allah Menciptakan Alam Semesta
    Kita telah sering mendengar bahwa Allah menciptakan manusia untuk tujuan kemuliaan-Nya (Yes. 43:7). Akan tetapi, bukan hanya manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Seluruh ciptaan-Nya diciptakan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya, bahkan termasuk bintang-bintang, bulan dan langit, sebab mereka menceritakan kemuliaan Allah (Mzm. 19:1; Why. 4:11). Namun, perlu diingat bahwa Allah tidak punya kewajiban untuk menciptakan dunia yang bisa membuat-Nya menjadi mulia. Allah sudah mulia bersama dalam 3 Pribadi dari kekal sampai kekal. Oleh karena itu, tidak ada apa pun yang bisa menambahkan apa pun dari Allah karena Allah tidak kekurangan apaapa. Jika Allah dengan keinginan-Nya sendiri menciptakan alam semesta, termasuk manusia, itu karena Dia ingin berbagi kebahagiaan kekal yang Dia miliki bersama dengan ciptaan-Nya.