“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” (Ef. 5:8)
Apakah ada bintang yang gelap? Sebuah artikel melaporkan bahwa itu ada. “Bintang gelap adalah jenis bintang hipotesis yang mungkin telah ada di awal alam semesta sebelum bintang-bintang konvensional mampu terbentuk dan berkembang.” Matahari kita adalah contoh paling dekat dari bintang konvensional.” (Wikipedia, AI).
Paulus menggunakan bintang untuk menggambarkan kehidupan orang Kristen di tengah dunia yang gelap ini (Fil. 2:15). Orang percaya yang berjalan dalam terang kebenaran Kristus, seyogianya bercahaya di dunia ini. Yesus sudah bicara soal ini dalam Matius 5:14-16, bahwa setiap murid-Nya adalah terang dunia, karena mereka telah memiliki terang hidup dalam dirinya (Yoh. 8:12). Sebagaimana bintang tidak memiliki terang sendiri, tetapi ia dapat memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari, demikianlah sebenarnya orang Kristen sejati, dapat memancarkan terang Kristus di dalam dirinya. “Kepada jemaat di Efesus, Paulus mendorong jemaat itu tampil beda, karena mereka adalah orang-orang kudus (5:3-4), yang telah “dipisahkan” dan tidak lagi termasuk dalam dunia kegelapan di sekelilingnya. Selain itu, mereka juga merupakan raja (5:5-6), sehingga tidak pantas baginya untuk menikmati kebiasaan-kebiasaan orang dunia yang sesat, yang berada di luar Kerajaan Allah (cf. Gal. 5:21; 2 Tim. 4:1). Dan sebagai anak-anak terang (5:7-14), berarti mereka menghasilkan buah, yaitu buah yang berkenaan dengan hal-hal rohani. Sungguh tidak mungkin untuk berada dalam kegelapan dan terang sekaligus pada waktu yang sama.” (Warren Wiersbe).
Di dunia sekarang ini, eksistensi orang yang mau berjalan dalam terang, atau mau bercahaya bagaikan bintang, pasti selalu berbenturan dengan musuh besar; keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, yang bisa membuat cahaya menjadi redup (1 Yoh.2:16). Dunia, yang menurut Yohanes “sedang lenyap” ini adalah dunia yang gelap dengan system kehidupannya yang bertentangan dengan kebenaran Allah. “Yang jelas, tidak ada sikap netralitas; seseorang mesti mengasihi dunia atau mengasihi Allah. Yesus sendiri mengatakan; “Tidak akan ada seorang pun yang akan mengabdi pada dua tuan” (Mat.6:24). Pilihan yang tertinggi tetaplah sama. Adakah kita akan menerima standar-standar dunia atau standar-standar Allah?” (Westcott). Memang ada seorang pernah berkata: “Kita ini masih berada di dalam dunia. Kalau anda tidak mau dengan dunia, pergi saja ke sorga!” Tentu saja perkataan ini bukan perkataan seorang yang berjalan dalam terang, bukan? Lot, seorang percaya yang mencoba menjadi terang di kota Sodom, namun apa yang terjadi? Bukannya ia berpengaruh, malah nyaris terpengaruh (Kej. . Setiap orang percaya sejati akan berkata seperti rasul Paulus: “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi.” (2 Kor. 10:3). Setiap orang Kristen memang masih ada di dunia (kosmos), tetapi tidak hidup secara duniawi (sistem kehidupan di luar kehendak Allah). “Be spiritual, not carnal man!”
Inspirasi: Menjadi terang bagi dunia, berarti harus tampil - inklusif dalam pembangunan kultural, tetapi harus eksklusif dalam rangka pembaharuan spiritual.
