Doa yang Konstan

“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihannya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk. 18:7).

Apakah ada orang Kristen yang doanya tidak konstan atau labil, dengan kata lain tidak tekun? Ada seseorang pernah berkata, “Sepertinya saya sudah kehilangan semangat untuk berdoa. Habis, sudah sekian lama saya berdoa dan bergumul minta Tuhan buka jalan, sampai hari ini, tidak ada tanda-tanda jawaban.” Tidak mudah juga untuk segera meresponi pernyataan semacam ini, bukan? Bila dia dinasihati, mungkin dia akan berkata, “Coba anda yang mengalaminya, bagaimana?”

Memang setiap orang percaya diuji juga, lewat permintaan doa yang belum dijawab oleh Tuhan. Akibatnya bisa terjebak pada konsep “mengukur” jawaban Tuhan yang supranatural, dengan standar berpikir manusiawi yang natural. Mungkin bahasa yang lebih bebas lagi, seolah-olah ‘mengatur’ atau ‘mempertanyakan’ Tuhan, mengapa tidak menjawab doa. Bagi orang percaya yang benar, ia mengerti kedaulatan Tuhan dalam menjawab doa, sehingga ia belajar untuk “berserah” kepada-Nya, karena Dia tahu kehendak Tuhan yang terbaik.

Gambaran Yesus tentang sikap seorang hakim yang tak takut akan Tuhan, tetapi akhirnya ia menjawab juga, untuk menunjukkan suatu perbandingan yang kontras (argumentum fortiori - AI), apalagi Allah sendiri, Bapa yang adil dan penuh kasih, yang pasti bertindak membela janda, yang tak kenal putus asa itu. Gambaran dengan mengambil contoh yang ekstrim itu, untuk menekankan prinsip (dalam ayat 7); bahwa Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya, yang terus bertekun (tak jemu-jemu) dalam berdoa dihadapan-Nya. Melalui 1 Tesalonika 5:17, “Tetaplah berdoa” - yang dikenal sebagai ayat tersingkat tetapi sangat padat muatannya itu, Paulus juga mau menekankan prinsip yang sama. Seorang anak Tuhan sadar bahwa, berdoa bukan sekedar terus meminta, tetapi senantiasa membangun komunikasi dengan Bapanya. Ia tidak berdoa dalam rangka kepentingannya sendiri, tetapi bagi kemuliaan Allah juga. Itulah sebabnya mengapa dalam Doa Bapa Kami (the Lord’s Prayer), dengan jelas Yesus memulai dengan “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Monika, lama berdoa dengan gigih dan menangis selama 17 tahun bagi anaknya Agustinus, yang kala itu mulai jauh dari Tuhan dan terjebak oleh ajaran yang sesat (Manikheisme). Konon setelah Agustinus bertobat, tidak lama kemudian Monika meninggal di Roma (387M). Seolah dia mau berkata: “Anakku sudah kembali, saatnya aku pulang ke sorga.”

Apakah kita adalah orang yang tetap bertekun dalam doa, meskipun ‘tampaknya’ doa kita belum dijawab? Ingat, sikap kita yang benar dalam hal berdoa, menunjukkan kematangan rohani kita juga. “Keep on praying all the time.”

Inspirasi: Tidak ada alasan bagi seorang yang mengasihi Tuhan untuk berhenti berdoa. Baginya, makin banyak tekanan, justru makin banyak berdoa.