Hidup yang Relasional

“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kol. 3:17).

Norman Geisler, dalam bukunya, Etika Kristen, ketika membahas soal perbedaan antara manusia dan binatang, ia menggunakan analogi keberadaan. “Analogi keberadaan mengklaim bahwa setiap subjek ada, sesuai keberadaannya waktu dijadikan. Misalnya ketika seorang berkata, “Allah ada, manusia ada, dan binatang ada, menurut analogi keberadaan, ada perbedaan dalam jenis keberadaan setiap sosok tersebut. Eksistensi Allah tak terbatas, Ia adalah kenyataan yang murni tanpa potensialitas. Di sisi lain, eksistensi manusia terbatas, dengan memiliki potensi (potensialitas) yang membatasinya. Pastilah ada perbedaan jenis potensialitas. Misalnya, berbeda dengan binatang, manusia berpotensi beraktifitas rasional. Mereka juga memiliki kesadaran akan adanya Allah, yang tidak dimiliki binatang. Dengan demikian, manusia secara sadar menyembah Allah dan binatang tidak. Demikian pula, manusia memiliki amoralitas dan binatang tidak.” Jadi dapatlah dimengerti, mengapa hanya manusia yang dituntut untuk memuliakan Allah, karena memang ia diciptakan untuk bersekutu dengan Allah.

Setiap orang percaya, demikian Paulus, harus menyadari bahwa tujuan utama dalam hidupnya adalah untuk memuliakan Allah. Ini yang disebut sebagai pola pikir relasional, artinya dia mengerti bahwa hidupnya ini ada kaitan dengan kekekalan, karena ia telah diciptakan segambar dengan Allah. Berbeda dengan filsafat Yunani yang melihat, “tujuan hidup yang utama adalah kebahagiaan sejati, kemakmuran atau kehidupan yang berjalan dengan baik.” (AI). Apakah Paulus tahu soal filsafat itu, mungkin saja. Namun ia tidak menyoroti tujuan keberadaan manusia dalam perspektif filosofis, tetapi dari perspektif teologis. Setiap orang percaya, termasuk jemaat Efesus, harus memuliakan Allah melalui perkataan dan perbuatannya. Mengapa? Mereka telah memperoleh kasih karunia Allah, keselamatan oleh iman. Mereka telah menjadi keluarga Allah, yang tadinya jauh karena dosa, telah menjadi dekat karena anugerah pengampunan Allah, dan dengan demikian mereka telah dipersatukan dalam Kristus (cf. ay. 11-22).

Konkritnya, bagaimana memuliakan Allah itu? Di sini ada beberapa pertanyaan jajakan: Apakah kita mengikuti kehendak Allah secara jujur dan tulus dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita memuji dan memuliakan-Nya dalam setiap situasi, termasuk melalui doa dan pujian? Apakah kita mengutamakan Tuhan di atas kepentingan kita sendiri? Sebagai contoh, bagaimana sikap seorang mahasiswa dalam studinya, bagaimana sikap seorang profesional ketika sukses, bagaimana sikap seorang pemuda bergaul, bagaimana sikap seorang hamba Tuhan dalam pelayanan, dan sebagainya. Pendeknya, kalau bicara soal memuliakan Allah, itu pasti bicara soal sikap hati juga. Kalau kita bagaimana? “Living for His glory!”

Inspirasi: Tatkala “Christ-Centered” telah menjadi prinsip dan posisi hidup seseorang, tak diragukan lagi, seluruh gerakan hidupnya terarah bagi kemuliaan Allah.