Melayani Dengan Karunia-Nya

Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. (Roma 12:3)

Negara kita memiliki Tentara dengan 3 matra yaitu TNI AD, AL, dan AU. Masing-masing mempunyai beragam kesatuan dengan persenjataan berbeda-beda. Namun demikian semua prajurit TNI memiliki dasar pengabdian yang sama yaitu Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan 8 Wajib TNI. Dasar pemikiran dan sikap ini menjiwai setiap prajurit apapun spesifikasi tugasnya untuk bersatu\padu, bermanfaat menjadi tentara yang utuh bagi NKRI.

Roma 12 umumnya dipahami sebagai bagian dimulainya praktek hidup beriman. Namun 3 ayat pertama sesungguhnya merupakan prinsip teologis yang mendasari semua praktek secara personal dan berjemaat.

Pertama, mempersembahkan tubuh berdasar kemurahan Allah (ay. 1), "berubahlah oleh pembaharuan budimu." (ayat 2) lalu ayat 3 "berpikirlah dengan pikiran yang sehat" yang akan menghasilkan penilaian diri yang benar.

Kedua, Paulus kemudian membentuk cara berpikir / sikap hati terhadap karunia rohani (ayat 4–8).

Ketiga, barulah sikap terhadap jemaat/ sesama penerima karunia (ay 9-21). Di ayat 3, Paulus dalam bahasa Yunani menggunakan permainan kata yang indah dari akar yang sama, dan makna yang mendalam yaitu phroneō (berpikir, cara memandang diri, sikap batin). “Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi (mē hyperphronein) dari pada yang patut kamu pikirkan (dei phronein), tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa (alla phronein), sehingga kamu menguasai diri (eis to sōphronein) menurut ukuran iman”.

Masalahnya bukan apakah kita berpikir tentang diri, tetapi bagaimana cara kita berpikir tentang diri dengan benar dengan ukuran iman (metron pisteōs) dari Allah Sang pemilik hidup dan pemberi karunia. Karena itu ayat ini adalah fondasi sekaligus jembatan antara teologi dan praktik. Jadi Allah menghendaki karunia-Nya bertumbuh optimal diatas lahan kerendahan hati yang benar.

Pikiran yang belum diperbarui bisa iri hati terhadap karunia orang lain, sombong, merasa paling hebat, meremehkan karunia pemberian Tuhan. Karunia rohani menumbuhkan kesadaran akan kasih karunia Allah, semakin percaya diri, dan rendah hati. Kita harus bertanggung jawab atas setiap karunia rohani milik-Nya sebagai laskar Kristus sesuai spesifikasi dan spesialisasi seperti seorang prajurit bagi hormat dan kemuliaan nama-Nya. Dengan penuh syukur, mari kita saling membangun bukan mendominasi.

Inspirasi: “Tuhan menghendaki kita melayani sesuai karunia masing-masing bagi kemuliaan nama-Nya.”