Sukacita Dalam Segala Keadaan

“Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:18)

Seorang petani bekerja keras. menanam benih, merawat sawah, dan berharap panen berlimpah. Namun ternyata, hujan tidak turun musim kemarau panjang membuat tanaman tidak tumbuh sesuai harapan. Sangat menyedihkan karena gagal panen. Bersyukur masih diberi kesehatan, kekuatan dan kreativitas untuk menanam kembali dengan jenis tanaman lain yang bisa bertahan di musim kemarau, yaitu kedelai dan jagung untuk menyambung hidup.

Habakuk menggambarkan keadaan yang jauh lebih berat. Pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil kebun zaitun mengecewakan, ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba terhalau dari kandang, dan lembu sapi tidak ada di kandang. Artinya, semua sumber pengharapan yang biasanya menopang kehidupan hilang lenyap. Tapi ia berkata: “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” Kata “namun”. mengubah arah kehidupan. Meski “Tidak ada hasil,” tetapi iman pada Tuhan memberi harapan sesuai cara-Nya. Kadang kita kehilangan sesuatu di dunia ini, namun yang terpenting masih memiliki Tuhan yang sanggup menopang dan menolong. Masa depan di dalam Tuhan itu pasti yang terbaik. Jadi sukacita Habakuk bukan pada keadaan yang bisa berubah-ubah. Ia bersukacita karena menemukan sumber sukacita sejati, yaitu Tuhan.

Habakuk 3, adalah bagian akhir kitab Habakuk. Sebelumnya, ia bergumul mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan orang benar mengalami penderitaan? Habakuk tidak memulai kitabnya dengan sukacita, tetapi dengan dengan pertanyaan, kegelisahan, dan pergumulan iman. Namun dalam perjalanan hidupnya, ia mengalami perubahan. Ia tidak memperoleh semua jawaban yang ia inginkan, tetapi ia belajar mempercayai Tuhan. Ayat 17, menggambarkan kondisi yang sangat ekstrem: pohon ara tidak berbunga, tidak ada buah anggur, hasil zaitun mengecewakan, ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba tidak ada, lembu sapi tidak tersedia. Ini gambaran krisis ekonomi, pangan, dan kehidupan yang sangat berat. Habakuk sedang berbicara tentang situasi yang aman dan nyaman, tetapi tiba-tiba hilang.

Ayat 18, dimulai dengan kata: “Namun…” bahasa Ibrani (wa'ani), “tetapi aku” atau “namun aku.” Habakuk menegaskan meskipun keadaannya sedang buruk, yang diharapkan hilang, tetapi ia memilih tetap bersorak-sorak di dalam TUHAN. Sukacita Habakuk hanya bersumber pada TUHAN. Inilah inti iman Habakuk. Sukacita sejati tidak berarti tidak boleh sedih. Ia tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia berani mengakui kenyataan bahwa keadaannya sangat rumit. Namun Ia berkeyakinan kokoh bahwa Tuhan jauh lebih besar dan berkuasa daripada semua permasalahan hidupnya.

Ayat 19, pengakuan iman, bahwa “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku.” Ia tidak terpengaruh dengan keadaan berhasil atau gagal. Sebab Allah adalah sumber kekuatan sejati. Keadaan sulit → Pergumulan iman → Memilih untuk percaya → Sukacita di dalam Tuhan → Tuhan menjadi sumber kekuatan sejati. Hal ini bukan mengajarkan “Bersukacitalah karena semua keadaan pasti baik atau baik-baik saja.” Melainkan, bersukacitalah dalam segala keadaan, karena Tuhan setia menopang dan memberkati.

Mungkin harapan kita meleset, tugas menumpuk, gagal mengerjakan proyek, arah masa depan masih semrawut, studi terhambat, dll. Mari belajar pada Habakuk, tetap fokus pada Allah sumber sukacita yang berdaulat penuh. Tuhan sedang berkarya dalam hidup kita. Tetap bersukacita dalam pengharapan pada-Nya.

Inspirasi: Selalu bersukacita dalam segala keadaan, sebab Tuhan sumber pertolongan dan kekuatan sejati.