“enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan” (Keluaran 20:9-10)
Perintah ini bukan perintah untuk beristirahat, tetapi juga perintah untuk bekerja. Perintah untuk bekerja, dan perintah untuk beristirahat. Keduanya — “bekerja” dan “beristirahat” — ternyata tidak berlawanan, dan jangan dipertentangkan. Keduanya bukan merupakan pilihan “ini atau itu”; “bekerja atau beristirahat”. Tapi komplementer. Saling melengkapi. Yang satu tak mungkin tanpa yang lain.
Tidak mungkin orang hanya terus-menerus bekerja, tanpa beristirahat. Tapi mustahil pula, bila orang hanya mau beristirahat tanpa bekerja- kecuali bila yang bersangkutan sakit parah. Kinerja yang bermutu hanya dapat dihasilkan oleh mereka yang cukup beristirahat. Sebaliknya, istirahat yang paling nikmat adalah untuk mereka yang telah bekerja paling penat.
Bukankah perintah Tuhan ini adalah koreksi terhadap gaya hidup banyak orang khususnya sebagian besar pegawai negeri kita? Yaitu pada waktu semestinya bekerja, eee malah bersantai ria dan bermalas-malasan, sungguh menyebalkan! Sebaliknya tatkala seharusnya sudah bisa beristirahat, terpaksa bekerja keras untuk mengejar ketinggalan.
Yang Tuhan kehendaki adalah, hidup yang DISIPLIN dan SEIMBANG. Bekerja pada waktu bekerja. Beristirahat pada waktu istirahat. Baik dalam melakukan pekerjaan sekuler kita, maupun ketika melaksanakan tugas misioner kita. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, ” kata Yesus, “selama hari masih siang; (sebab) akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja” (Yohanes 9:4) Menurut Yesus, waktu tidak berjalan siklis (= melingkar) melainkan linear (= lurus). Untuk masing-masing ada waktunya. Ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat. Setiap saat adalah kesempatan. Peluang yang kadang-kadang cuma sekali datang, lalu tak pernah terulang.
Jadi selama Anda masih diberi kesempatan bekerja, bekerjalah sekeras-kerasnya dan sebaik-baiknya! Sebab satu saat “akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja”. Dan bila “malam” itu datang, maka betapa pun Anda ingin, yang akan tersedia cuma penyesalan. Penyesalan tanpa obat.
Penulis: Pdt. Dr. Eka Darmaputera
Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadhakb.html
