by PKA STAN Prodip Keuangan | Sat, 10 Jan 2026 | Artikel, Biblika
Kabar tentang Yesus tersiar begitu luas sejak peristiwa penyembuhan orang sakit kusta di Galilea. Yesus bahkan memberikan peringatan keras kepada orang sakit kusta tersebut agar jangan memberitahukan kepada siapa pun, tetapi orang ini tetap melakukan apa yang dikehendakinya, sehingga mulai saat itu Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya tidak dapat terang-terangan masuk ke dalam kota (Mrk. 1:43-45).
Maka mulai sejak saat itu Yesus harus tinggal di luar kota di tempat yang sepi, namun orang banyak tetap berdatangan dari segala penjuru.
Ketika Yesus mengajar di Kapernaum banyak orang berdatangan. Salah satu peristiwa yang sudah sering kita dengar adalah mengenai seorang yang lumpuh digotong empat orang dan diturunkan dari atap sebuah rumah. Akhir cerita, kita tahu bahwa orang ini pun sembuh dari penyakitnya dan dapat berjalan kembali.
Mulai dari Markus pasal kedua, kita melihat beberapa ahli Taurat juga hadir, ditambah orang-orang Farisi. Pada Markus 2:7-24 kita melihat bagaimana orang-orang ini mengkritik Tuhan Yesus. Timbullah suatu pertikaian keagamaan di sini; semacam apologetika tentang kepercayaan yang dipegang oleh Yesus yang berbeda dengan pengajaran ahli-ahli Taurat maupun golongan Farisi.
Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi menuduh bahwa Yesus menghujat Allah, bergaul dengan para pendosa, dan murid-murid-Nya tidak berpuasa dan tidak menjalankan Sabat menurut tradisi yang berlaku pada masa itu. Dalam hal ini kita melihat bahwa pelayanan Yesus mulai dipertanyakan mereka. Apa yang Yesus lakukan bukan menghujat Allah, melainkan menyatakan bahwa Dia adalah Allah. Tetapi sulit bagi mereka menerima hal itu, padahal Dia sudah menunjukkan di depan mereka bagaimana orang lumpuh yang sudah digotong oleh empat orang disembuhkan oleh-Nya. Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak melihat perbuatan baik yang Tuhan Yesus kerjakan, melainkan mereka cenderung melihat bagaimana Tuhan Yesus sudah mengganggu hidup mereka. Kenyamanan mereka sebagai pemimpin agama selama ini mulai diganggu dengan kehadiran Tuhan Yesus dan mereka marah, sebab orang banyak tidak lagi tertarik kepada mereka, mereka tidak lagi menjadi perhatian utama, melainkan Tuhan Yesus yang menjadi pusat perhatian orang banyak pada saat itu.
Yesus begitu banyak pengikutnya, membuat orang-orang beragama itu merasa heran, mungkin mereka iri hati dan sulit mempercayai apa yang Yesus kerjakan. Mereka mulai mencari-cari kesalahan-Nya. Tuhan Yesus tidak pernah berusaha mencari ketenaran dari pelayanan yang Dia lakukan, berbanding terbalik dengan apa yang dicari oleh orang-orang di dunia sekarang ini. Tanpa sadar orang-orang dunia ingin mencari ketenaran dengan menjadi daya tarik orang banyak, bahkan sebanyak-banyaknya, demi mendapatkan nama, uang, pujian dan banyak motivasi lainnya yang ditujukan kepada diri sendiri.
Kristus yang seharusnya menjadi daya tarik bagi semua orang tidak pernah berusaha menjadikan itu sebagai fokus. Tanpa sadar, kita sering menjadikan diri kita daya tarik bagi orang banyak. Tidak heran ketika kita memulai hari-hari kita, yang diutamakan adalah diri kita sendiri, mulai dari memeriksa status di media sosial, berapa banyak comments, likes, subscribers, views pada status media sosial kita yang mungkin bukan hanya di satu platform, mungkin bisa ada di dua atau tiga platform yang berbeda. Hal ini tanpa sadar menjadi gaya hidup yang dilakukan setiap pagi sebelum memulai hari dan bisa menghabiskan waktu mungkin berjam-jam. Maka tidak heran jika kita mulai mengesampingkan Tuhan Yesus, karena sekarang kita sudah menjadi daya tarik atau sedang berusaha menjadi pusat perhatian orang banyak, mungkin di sekolah, di universitas, di lingkungan kerja, bahkan di gereja. Lho, kok bisa? Tentu saja karena kita manusia berdosa. Dosa membuat arah hati kita bergeser tanpa kita sadari.
Mari kita memeriksa hati kita masing-masing di hadapan Tuhan. Mereka yang berdosa tidak pernah Tuhan Yesus tinggalkan, bahkan Dia mau duduk makan bersama orang berdosa. Bukankah kita orang berdosa tersebut? Sebagai sebuah praktik, mari kita memulai hari kita dengan bersaat teduh, kita datang ke hadapan Dia yang membenci dosa namun tidak membenci orang berdosa. Bersaat teduh dengan childlike faith, rendah hati dan menyerahkan sepenuhnya hidup kita ke dalam tangan Tuhan, agar hati kita terarah kembali kepada Dia yang seharusnya menjadi daya tarik kita, sebab Tuhan Yesus juga tertarik kepada Saudara dan saya. Dia tidak pernah tertarik kepada dosa. Orang banyak datang kepada Dia karena Dia lebih dulu tertarik datang kepada mereka yang berdosa. Kalau Dia tidak datang ke dalam dunia yang berdosa, maka semua orang pasti binasa.
Soli Deo Gloria.
Adhi Gusman Halim
Mahasiswa STTRII
Sumber: https://www.buletinpillar.org/renungan/tuhan-yesus-dan-arah-hati-manusia
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sat, 10 Jan 2026 | Artikel, Renungan
Kurang sabar sering mendatangkan masalah. Kurang sabar juga dapat merusak semua rencana yang baik. Banyak rencana gagal karena orang yang bersangkutan tidak sabar menunggu sampai penggenapan rencana tersebut.
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
1 Petrus 5:8
Orang sering tidak suka disuruh menunggu. Di persimpangan jalan saat ini terdapat banyak lampu pengatur lalu lintas yang memiliki jumlah detik untuk lampu merah maupun untuk lampu hijau. Jumlah detik itu ada yang sangat cepat 15 detik namun ada yang dianggap sangat lama karena mencapai 150 detik. Namun kalau diingat bahwa 150 detik itu kelihatannya besar jumlahnya tetapi sebenarnya hanya 2,5 menit. Menunggu 2,5 menit di lampu merah bagi sebagian besar orang terasa sangat lama, sehingga membuat mereka menjadi tidak sabar dan sering menjadi marah.
Ketika kita masih kecil kita memiliki cita-cita untuk menjadi sesuatu. Namun dengan berjalannya waktu, karena berbagai alasan banyak dari cita-cita kita terlupakan. Salah satu sebabnya adalah karena tidak sabar menunggu, tidak sabar dan tekun meniti cita-cita tersebut, mudah putus asa, ingin menggapai atau merengut apa yang ada di depannya secepatnya dan mengorbankan tujuan besar yang dicita-citakan. Banyak dari kita ingin cita-cita, atau rencana mereka terjadi lebih cepat dari waktunya. Karena tidak mampu bersabar, kita akhirnya menyerah.
Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan pepatah yang mengatakan:
Buah yang terlalu cepat dipetik sebelum waktunya masak akan menjadi buah yang masam. Anggur yang kurang dipendam akan menjadi anggur yang kurang bermutu.
Dalam Alkitab, Tuhan berkata kepada Abraham bahwa Sara, isterinya, akan memiliki seorang putra dari kandungannya sendiri. Tuhan berjanji bahwa Abraham akan memiliki keturunan yang seperti bintang di langit atau pasir di tepi pantai banyaknya. Namun Sarah tidak mampu menanti sampai waktu itu digenapi, ia membuat keputusan sendiri dengan mengambil pembantunya, Hagar, dan memberikannya kepada suaminya sehingga melahirkan Ismail. Sarah mengira dia telah mempercepat janji Tuhan, dia bertindak seakan-akan Tuhan tidak mampu bertindak sehingga membutuhkan bantuannya.
Apa yang terjadi adalah krisis dalam rumah tangganya. Sara kemudian memanen buah dari apa yang ditaburnya yaitu penghinaan dan pelecehan oleh Hagar kepadanya. Puncaknya krisis dalam rumah tangganya terjadi ketika Abraham harus mengusir Hagar dan Ismail pergi meninggalkan mereka.
Selain Sara, kita juga menjumpai banyak contoh dalam Alkitab mengenai ketidaksabaran dalam menunggu penggenapan janji Allah. Sebagai contoh,kisah perjalanan orang Israel dari Mesir ke tanah Kanaan. Karena ketidaksabaran terhadap janji Tuhan, mengakibatkan satu generasi bangsa Israel yang keluar dari Mesir harus terkapar mati di padang gurun. Hal yang sama terjadi juga dengan Saul, raja pertama bangsa Israel. Saul dipilih oleh Tuhan untuk menjadi raja pertama bangsa Israel ketika ia masih tidak ada apa-apanya. Tuhan berjanji akan memberkati dia dan mahkota itu untuk anak cucunya jika ia mau berjalan menurut jalan-jalan Tuhan. Namun Saul kemudian menjadi sombong sesudah menjadi raja. Ia lebih mementingkan citra dirinya dari pada menghargai Tuhan.
Pada suatu kesempatan ketika ia harus berperang dengan bangsa lain, Samuel memintanya untuk menunggu dia datang untuk melakukan persembahan korban bakaran kepada Tuhan. Saul tidak sabar menunggu Samuel datang dan kemudian melakukan persembahan sendiri yang hanya boleh dilakukan oleh hamba Tuhan. Saul akhirnya terbuang dari hadapan Tuhan, dan Samuel juga kemudian tidak ingin bertemu dengan dia sampai matinya.
Ketidaksabaran, terutama saat berada dalam suatu penantian, suatu masalah, sering berakibat fatal. Banyak orang gagal karena kurang sabar menanti, kurang sabar bertahan dalam pencobaan, kurang sabar menunggu janji Tuhan digenapi. Mereka berdoa memohon campur tangan Tuhan, meminta berkat Tuhan, namun mereka tidak sabar menanti penggenapan dari doa-doa mereka. Mereka ingin semuanya serba instant, menurut keinginan mereka dan untuk memuaskan nafsu serakah mereka.
Banyak orang tidak menyadari sudah seberapa dekat mereka dari penggenapan janji Tuhan kepada mereka saat mereka memutuskan untuk berhenti menunggu. Akibatnya mereka merusak janji Tuhan dan kehilangan hadiah kemenangan yang disiapkan Tuhan kepada mereka. Musuh kita adalah Setan. Musuh kita tahu dengan persis bahwa kalau kita mampu bertahan, kita akan menerima mahkota kemenangan kita. Oleh karena itu semakin dekat kita dengan mahkota kemenangan kita, semakin keras dan gencar musuh kita menyerang kita.
Semakin dekat kita dengan garis akhir, semakin kuat pergumulan yang harus kita hadapi, karena musuh kita tidak pernah membiarkan kita meraih kemenangan. Rintangan menjadi semakin keras disaat kemenangan itu sudah di depan mata. Karena itu bersabarlah sedikit lebih lama karena anda tidak tahu sudah seberapa dekat anda pada kemenangan yang dijanjikan Tuhan kepada anda, kepada penggenapan doa anda. Hanya orang-orang yang mau bersabar, mau bertahan, akan menerima mahkota kemenangan mereka.
Ingatlah bahwa Tuhan, Allah yang kita sembah adalah Dia yang Setia. Dia tidak pernah gagal memenuhi kebutuhan kita, tidak pernah gagal memenuhi janjiNya kepada kita. Hal yang kita lakukan hanyalah terus bersabar, terus bersandar kepadaNya, terus percaya kepadaNya, terus memohon kepadaNya. Tuhan bersedia memberi kekuatan bagi kita untuk terus bertahan dalam penantian kita. Mintalah hal itu kepada Tuhan agar kita tidak terperosok dalam pencobaan dan mengorbankan hadiah yang dijanjikan Tuhan kepada kita.
Jangan pernah menyerah pada rintangan yang anda hadapi. Jangan pernah gagal untuk bersabar. Bersabar adalah satu-satunya senjata kita dalam menghadapi pencobaan, dalam menghadapi rintangan untuk mencapi garis finish perlombaan iman kita dan pada akhirnya menerima tropy kemenangan.
Semua orang yang mencapai garis finish selalu akan menerima mahkota kemenangan. Dalam Tuhan tidak pernah ada juara kedua, yang ada hanyalah juara satu. Oleh karena itu jangan terjebak oleh tipu muslihat Iblis yang berjalan keliling mengaum seperti Singa untuk menelan orang-orang yang menyerah untuk ditelannya. Tuhan menolong anda semua.
Sumber: https://renungan.org/artikel-kristen/bersabar-sedikit-lebih-lama-menunggu-janji-allah/
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
Siapa yang tidak pernah mendengar atau menyanyikan lagu Bila Topan K’ras Melanda Hidupmu? Saya rasa hampir semua dari kita pernah mendengarkannya. Lirik lagu Kidung Jemaat (KJ) 439 ini cepat dan bersemangat, namun punya makna yang sangat mendalam bagi kita. Terutama bagi kita yang sedang berada di dalam masalah atau pergumulan. Lagu ini memiliki judul asli “Count Your Blessing” atau “Berkat Tuhan Mari Hitunglah”, seperti lirik lagu di bagian refrein. Lagu ini diciptakan pada tahun 1897 oleh Johnson Oatman Jr. dan Edwin Othello Excel sebagai komponisnya. Johnson Oatman juga yang menciptakan lagu “Kudaki Jalan Mulia” (KJ 400).
Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,
berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ’kan kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.”
Adakah beban membuat kau penat, salib yang kaupikul menekan berat?
Hitunglah berkatNya, pasti kau lega dan bernyanyi t’rus penuh bahagia!
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ’kan kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.”
Bila kau memandang harta orang lain, ingat janji Kristus yang lebih permai;
hitunglah berkat yang tidak terbeli milikmu di sorga tiada terperi.
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.
Lagu ini adalah nyanyian pujian yang sangat berkesan, dengan setiap bagian dimulai dengan berbagai macam tantangan: topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu (bait 1), beban membuat kau penat, salib yang kaupikul menekan berat (bait 2), memandang harta orang lain (bait 3). Tantangan-tantangan itu tidak berakhir begitu saja, kita diingatkan bahwa ada berkat Tuhan yang tidak boleh dilupakan. Lebih dari itu, kita akan kagum oleh kasih-Nya (bait 1), lega dan bernyanyi terus bahagia (bait 2), janji Kristus dan sorga yang kekal (bait 3).
Ada banyak orang menjalani hidup dengan tujuan mencari tahu apa yang belum mereka miliki, yang kurang, atau yang membuat mereka nampak lebih senang. Lagu ini mengajak kita untuk berpikir luas: kita sudah memiliki banyak hal dalam hidup ini. Itulah berkat Tuhan yang harus kita hitung dan syukuri. Tidak salah untuk berjuang dan berupaya mancari apa yang belum kita miliki, namun, jangan sampai itu menutup mata kita akan hal-hal yang sudah ada pada kita. Semua berkat yang sudah Tuhan berikan: keluarga yang baik, teman dan pasangan yang mendukung, pekerjaan yang kita miliki, anak-anak yang bisa membanggakan orangtua, kesehatan dan langkah tegap, serta banyak berkat Tuhan yang lainnya.
Saya ingin menutup renungan dengan bait keempat lagu ini. Bait yang paling berkesan bagi saya pribadi. Di dalam pergumulan dan masalah kita di dunia saat ini, mari kita terus menghitung berkat Tuhan. Di tengah kesulitan dan pandemi yang mungkin berdampak hebat pada kehidupan kita, jangan kuatir dan yakinlah bahwa Tuhan tetaplah Tuhan yang menyertai dan mengasihi kita.
Dalam pergumulanmu di dunia janganlah kuatir, Tuhan adalah!
Hitunglah berkat sepanjang hidupmu, yakinlah, malaikat menyertaimu!
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.
Penulis: Daniel Nugroho
Sumber: Berkat Tuhan Mari Hitunglah
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
Banyak orang berpendapat, bahwa "dusta" itu - seperti halnya sate atau soto - ada banyak jenisnya, meski satu saja esensinya. Esensi atau intinya, saya yakin, kita semua pasti tahu. Berdusta adalah mengutarakan sesuatu, yang diketahui tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Apa misalnya? Misalnya sudah jelas-jelas alkitab mengatakan, bahwa tak seorang pun mengetahui dengan pasti kapan persisnya Yesus akan datang kembali. Ini, semua pendeta yang tidak buta huruf, dan pernah membaca Alkitab, pasti tahu. Eee, lha kok ya bisa bisanya ada pendeta yang mengatakan, konon melulu berdasarkan "bisikan", bahwa Ia akan datang pada tanggal 10 November 2003. Lalu ketika terbukti bahwa ramalan tersebut meleset, astaga, masih tidak malu-malunya si pendeta itu ngeyel lagi. Mengatakan bahwa, karena satu dan lain hal, kedatangan-Nya ditunda sampai 10 November 2007. Tragis! Namun demikian, toh ada yang lebih menyedihkan. Yaitu, bahwa banyak orang mempercayainya. Rela di "dusta"i - untuk kesekian kali; berkali-kali.
TAPI "dusta", memang benar, ada bermacam-macam bentuknya. Bisa dilakukan dengan cara mengatakan hal yang tidak benar. Sebaliknya bisa terjadi dalam bentuk bungkam seribu bahasa, sengaja tak mau mengungkapkan kebenaran. Tapi dapat pula dengan menyampaikan hanya "setengah" kebenaran. Berbeda-beda. Walaupun dalam satu hal ini, semuanya sama. Yaitu bahwa setiap "dusta" selalu dilakukan dengan sadar dan sengaja.
Ada cerita tentang seorang yang baru saja tiba dari Amerika, yang berkunjung ke Minahasa. Kepada orang yang menemaninya dalam perjalanan itu, ia berpesan wanti-wanti agar diberitahu, bila dalam jamuan makan disajikan erwe atau daging anjing. Dan agar lebih yakin, permintaan ini ia ulang-ulangi setiap kali sebelum mengambil makanan. Sampai suatu ketika ia melihat makanan yang "aneh" tapi menarik. "Ini bukan erwe, 'kan?," ia bertanya. "O, bukan," jawab yang ditanya. Lalu ia mencicipinya. Mula-mula sedikit, tapi karena terasa enak, ia mengambil lagi lebih banyak. Dalam perjalanan pulang, ia bertanya, "Daging tadi rasanya enak betul. Daging apa itu?". "Itu daging paniki," jawab si teman. "Apa itu paniki?" "Kalong," jawab si teman. Si tamu Amerika itu terbelalak. "Kalong? Daging kalong?", suaranya setengah tercekik, "Mengapa Anda tidak memberitahu saya?" "Lho, yang Anda tanya 'kan apakah itu daging anjing. Anda tak pernah bicara soal kalong."
Berdustakah si pemandu? Jawab saya adalah "ya", sekalipun ia tidak mengatakan yang tidak benar. Ia berdusta, karena secara sadar dan sengaja ia tidak mengatakan, apa yang ia tahu harus ia katakan. Ia berdusta karena dengan itu ia mengelabui temannya. Membuat temannya melakukan sesuatu, yang -- sekiranya diberitahu -- tak akan pernah mungkin ia lakukan. Ia berdusta bukan karena mengatakan ketidak-benaran, tetapi karena sengaja tidak mengatakan seluruh kebenaran.
KATA "iblis" berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani, "diabolos". Dan makna asli dari "diabolos", adalah "pemfitnah". "Tukang fitnah" atau "juru fitnah"! Itulah memang keahlian, kekhasan, dan senjata Iblis yang paling menonjol, dan yang paling banyak menimbulkan korban.
Apa "fitnah" itu, kita tahu. "Fitnah" adalah "dusta" dalam kadar yang paling tinggi. Kalau diibaratkan emas, ia emas murni. 24 karat. Kalau teknologi, ia "top"nya. Mengapa? Karena dalam "fitnah" semua unsur kejahatan dari "dusta" lengkap terwakili. Di situ ada unsur kesengajaan mengatakan sesuatu yang tidak benar. Di situ ada maksud dan tujuan yang destruktif; niat untuk menghancurkan. Dan di situ ada bentuk penipuan yang sedemikian pintarnya, membuat korban sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnyalah ia sedang didustai atau diperdayai.
Anda ingat bagaimana ibu Hawa -- mewakili segenap keturunan manusia -- ketika terjerat ke dalam perangkap Iblis? Ini terjadi sama sekali bukan karena ia kurang pengetahuan tentang apa yang dikehendaki Allah. Mengenai ini, o, lebih dari kebanyakan kita, ibu kita ini hafal di luar kepala. Kejatuhannya juga tidak disebabkan karena ia berhati jahat atau kurang gigih dalam berusaha untuk taat. Sama sekali tidak! Mengenai ini, o, lebih dari kebanyakan kita, ia telah berusaha sekuat tenaga untuk melawan bujukan Iblis. Tapi mengapa akhirnya Hawa toh jatuh juga? Pertanyaan yang tepat! Jawabnya adalah, karena ia termakan oleh fitnah Iblis. "Sekali-kali kamu tidak akan mati. Tetapi Allah mengatahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kejadian 3:4-5). Iblis, seperti biasa, tidak sepenuhnya memutar-balikkan kenyataan. Yang ia lakukan adalah memutar-balikkan cara pandang orang. Tapi justru inilah, bentuk "fitnah" dengan kualitas nomor satu! Yaitu ketika Iblis, melalui manuvernya itu, dengan cerdiknya memutar-balikkan cara pandang manusia terhadap Allah.
Semula dengan tanpa protes, manusia menaati larangan Allah, sebab yakin bahwa setiap kehendak Allah pasti benar dan baik. Kini, oleh Iblis, sudut pandang ini mulai digoyang. Citra Allah sebagai bapa yang "maha baik" mulai digugat. Sebuah sudut pandang baru mulai disuntikkan pelan-pelan ke pembuluh darah. Yaitu gambaran Allah sebagai yang semena-mena mau memonopoli kekuasaan; Allah yang tidak mau disamai, sebab ingin terus memperlakukan manusia sebagai obyek semata. Toh bagi Iblis, ini hanya "sasaran antara" belaka. Tujuan yang lebih jauh adalah, begitu kebaikan Allah diragukan, maka roh pemberontakan pun mulai membara. Allah akan dipandang sebagai penindas, sedang Iblis justru dirangkul sebagai pembebas.
Demikianlah sebuah contoh lagi, betapa dosa "dusta" tidak hanya terjadi ketika orang mengatakan sesuatu yang tidak benar. "Dusta" terjadi, setiap kali maksud jahat disajikan, walau dalam bungkus kain sutera "setengah kebenaran" sekalipun. "DUSTA" adalah salah satu contoh, di mana "dosa" tidak terletak pada tindakan itu sendiri an sich, melainkan lebih banyak ditentukan oleh "motivasi" dan "akibat" dari tindakan yang bersangkutan. Mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya, tidak serta merta membuat sebuah tindakan pantas disebut sebagai "dosa dusta".
Bayangkan, misalnya, di suatu siang Anda bertamu ke kantor seseorang untuk menjajaki kemungkinan kerjasama usaha. Anda disambut dengan ramah-tamah, tapi tetap formal. Maklum, baru kenal. "Anda berkenan minum panas atau dingin? Atau barangkali makan siang?" Perut Anda sebenarnya menyambut dengan gembira tawaran ini. Tapi saya yakin, sesuai dengan tata krama, Anda tahu bahwa jawaban yang paling bijaksana adalah, kira-kira, "O terima kasih banyak! Tapi saya ingin menghormati waktu Anda yang sangat terbatas dan amat berharga. Lagi pula perut saya belum lapar benar. Karena itu, mungkin air putih dingin sudah cukup untuk saya". Nah, berdustakah Anda?
Atau ini. Anda secara khusus dipanggil oleh dokter yang memeriksa nenek Anda. Dokter itu menjelaskan bahwa di samping penyakit jantung kronis, nenek Anda ternyata juga mengidap kanker ganas dalam stadium yang cukup lanjut. Dan ia sudah terlalu tua untuk menjalani operasi atau pun kemoterapi. Apa jawab Anda ketika nenek Anda bertanya, "Apa kata dokter? Apa saya akan sembuh?" Apakah Anda - agar tidak dinyatakan berdusta - akan mengatakan, "Kata dokter, nenek masih punya peluang hidup 2-3 bulan lagi. Karena itu, nenek ingin makan apa, mumpung masih bisa makan"? Atau, demi maksud baik, Anda berpikir lebih bijaksanalah bila Anda menjawab, kira-kira, "Kata dokter, dalam dua atau tiga hari ini, nenek sudah diperbolehkan pulang. Dokter sedang berusaha untuk mencari obat yang tepat untuk nenek. Jadi sementara ini, nenek nikmati sajalah apa yang ingin nenek nikmati. Terutama, mendekatlah kepada Tuhan". Artinya, dengan sengaja Anda tidak mengatakan seluruh kebenaran.
KARENA kasus-kasus sejenis itulah, orang lalu membedakan antara "dusta hitam" dan "dusta putih". Saya sendiri lebih suka memakai istilah "berbohong" dan "menipu". Kedua-duanya sama-sama "berdusta". Tetapi yang satu dilakukan demi kebaikan, sedang yang lain dirancang untuk kejahatan. Tapi benarkah pembedaan itu? Saya persilakan Anda yang menjawabnya. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa sejak manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia tak dapat lagi "telanjang" di hadapan yang lain. Manusia tak dapat lagi terbuka sepenuhnya di hadapan yang lain. Selalu saja ada ketelanjangan yang perlu ditutupi. Karena itu, terlepas dari soal benar-salahnya, "dusta" lebih merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Sebab itu, yang kemudian lebih menentukan adalah "motivasi" dan "konsekuensinya"; bukan "boleh-tidak"nya. Namun demikian toh perlu saya tekankan, bahwa secara umum kejujuran tetap merupakan kebijakan yang terbaik. Honesty is still the best policy. Bahwa kemudian, setelah diupayakan sepenuh tenaga, situasi menuntut yang lain, ini adalah soal lain. ***
Penulis: Eka Darmaputera
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
"enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan" (Keluaran 20:9-10)
Perintah ini bukan perintah untuk beristirahat, tetapi juga perintah untuk bekerja. Perintah untuk bekerja, dan perintah untuk beristirahat. Keduanya -- "bekerja" dan "beristirahat" -- ternyata tidak berlawanan, dan jangan dipertentangkan. Keduanya bukan merupakan pilihan "ini atau itu"; "bekerja atau beristirahat". Tapi komplementer. Saling melengkapi. Yang satu tak mungkin tanpa yang lain.
Tidak mungkin orang hanya terus-menerus bekerja, tanpa beristirahat. Tapi mustahil pula, bila orang hanya mau beristirahat tanpa bekerja- kecuali bila yang bersangkutan sakit parah. Kinerja yang bermutu hanya dapat dihasilkan oleh mereka yang cukup beristirahat. Sebaliknya, istirahat yang paling nikmat adalah untuk mereka yang telah bekerja paling penat.
Bukankah perintah Tuhan ini adalah koreksi terhadap gaya hidup banyak orang khususnya sebagian besar pegawai negeri kita? Yaitu pada waktu semestinya bekerja, eee malah bersantai ria dan bermalas-malasan, sungguh menyebalkan! Sebaliknya tatkala seharusnya sudah bisa beristirahat, terpaksa bekerja keras untuk mengejar ketinggalan.
Yang Tuhan kehendaki adalah, hidup yang DISIPLIN dan SEIMBANG. Bekerja pada waktu bekerja. Beristirahat pada waktu istirahat. Baik dalam melakukan pekerjaan sekuler kita, maupun ketika melaksanakan tugas misioner kita. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, " kata Yesus, "selama hari masih siang; (sebab) akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja" (Yohanes 9:4) Menurut Yesus, waktu tidak berjalan siklis (= melingkar) melainkan linear (= lurus). Untuk masing-masing ada waktunya. Ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat. Setiap saat adalah kesempatan. Peluang yang kadang-kadang cuma sekali datang, lalu tak pernah terulang.
Jadi selama Anda masih diberi kesempatan bekerja, bekerjalah sekeras-kerasnya dan sebaik-baiknya! Sebab satu saat "akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja". Dan bila "malam" itu datang, maka betapa pun Anda ingin, yang akan tersedia cuma penyesalan. Penyesalan tanpa obat.
Penulis: Pdt. Dr. Eka Darmaputera
Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadhakb.html
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
Keluaran 32:7-14. Mazmur 51:1-10. 1Timotius 1:12-17. Lukas 15:1-10
Lihatlah sekelilingmu pandanglah ke ladang-ladang, adalah sebuah penggalan bait di Kidung Jemaat 428. Sikap melihat sekeliling dengan kepekaan semakin jarang kita jumpai. Kagum sesaat, tertegun sejenak, mungkin juga terkejut atau marah adalah ekspresi yang mungkin kita alami pada saat kita melihat sekeliling. Lalu setelah itu apakah yang kita lakukan? Meneruskan perjalanan atau terlibat lebih dalam? Pilihan mudah adalah meneruskan perjalanan, kembali tenggelam dalam kepentingan dan tujuan yang hendak saya capai. Pilihan kedua yaitu terlibat lebih dalam menuntut pengorbanan, ketekunan, kerelaan dan kerendahan hati, dan itu adalah pilihan sulit.
Halangan terbesar lainnya untuk dapat terlibat lebih jauh adalah perasaan kecil, tidak bisa apa-apa dan tidak layak. Perasaan itu membuat kita tidak berdaya untuk berbuat sesuatu dalam konteks di sekeli-ling kita. Akhirnya kita pun memilih untuk terus melanjutkan perjalanan sambil menyimpan apa yang kita lihat dalam benak, yang sesaat kemudian terlupakan.
Di lain sisi, Allah mengutus sekaligus memercayakan kita untuk melakukan sesuatu di sekeliling kita. Kehadiran kita di konteks tertentu memuat tugas panggilan khusus dari Allah sebab Allah ingin kehadiran kita, baik secara personal dan komunitas, menjadi bermakna bagi sekeliling. Tugas ini tidak menuntut kehebatan tetapi kemurahan hati. Tugas ini tidak menuntut kesempurnaan tetapi kemauan untuk berbela rasa. Paulus mendata kelemahannya (ayat 13) tetapi kelemahan itu tidak menghalangi kepercayaan yang Allah berikan kepadanya. Paulus mempergunakan kesempatan itu untuk hadir menjadi berkat di sekelilingnya sebagai persembahan cintanya kepada Allah. Ia merasa yang paling berdosa dan di titik yang sama Ia merasakan cinta Allah yang besar, memercayainya dan memberkatinya. Mari lihat sekeliling kita, bergerak dan bertindaklah sekarang untuk berbuat sesuatu dalam pertolongan Allah. Membangun pelayanan, menciptakan persekutuan, menghadirkan kebaikan sebab Tuhan memercayakan pelayanan ini kepada kita.
Sumber: Tuhan Memercayakan Pelayanan Kepada Kita - GKI Pondok Indah