by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 30 Sep 2026 | Renungan
“Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kol. 3:17).
Norman Geisler, dalam bukunya, Etika Kristen, ketika membahas soal perbedaan antara manusia dan binatang, ia menggunakan analogi keberadaan. “Analogi keberadaan mengklaim bahwa setiap subjek ada, sesuai keberadaannya waktu dijadikan. Misalnya ketika seorang berkata, “Allah ada, manusia ada, dan binatang ada, menurut analogi keberadaan, ada perbedaan dalam jenis keberadaan setiap sosok tersebut. Eksistensi Allah tak terbatas, Ia adalah kenyataan yang murni tanpa potensialitas. Di sisi lain, eksistensi manusia terbatas, dengan memiliki potensi (potensialitas) yang membatasinya. Pastilah ada perbedaan jenis potensialitas. Misalnya, berbeda dengan binatang, manusia berpotensi beraktifitas rasional. Mereka juga memiliki kesadaran akan adanya Allah, yang tidak dimiliki binatang. Dengan demikian, manusia secara sadar menyembah Allah dan binatang tidak. Demikian pula, manusia memiliki amoralitas dan binatang tidak.” Jadi dapatlah dimengerti, mengapa hanya manusia yang dituntut untuk memuliakan Allah, karena memang ia diciptakan untuk bersekutu dengan Allah.
Setiap orang percaya, demikian Paulus, harus menyadari bahwa tujuan utama dalam hidupnya adalah untuk memuliakan Allah. Ini yang disebut sebagai pola pikir relasional, artinya dia mengerti bahwa hidupnya ini ada kaitan dengan kekekalan, karena ia telah diciptakan segambar dengan Allah. Berbeda dengan filsafat Yunani yang melihat, “tujuan hidup yang utama adalah kebahagiaan sejati, kemakmuran atau kehidupan yang berjalan dengan baik.” (AI). Apakah Paulus tahu soal filsafat itu, mungkin saja. Namun ia tidak menyoroti tujuan keberadaan manusia dalam perspektif filosofis, tetapi dari perspektif teologis. Setiap orang percaya, termasuk jemaat Efesus, harus memuliakan Allah melalui perkataan dan perbuatannya. Mengapa? Mereka telah memperoleh kasih karunia Allah, keselamatan oleh iman. Mereka telah menjadi keluarga Allah, yang tadinya jauh karena dosa, telah menjadi dekat karena anugerah pengampunan Allah, dan dengan demikian mereka telah dipersatukan dalam Kristus (cf. ay. 11-22).
Konkritnya, bagaimana memuliakan Allah itu? Di sini ada beberapa pertanyaan jajakan: Apakah kita mengikuti kehendak Allah secara jujur dan tulus dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita memuji dan memuliakan-Nya dalam setiap situasi, termasuk melalui doa dan pujian? Apakah kita mengutamakan Tuhan di atas kepentingan kita sendiri? Sebagai contoh, bagaimana sikap seorang mahasiswa dalam studinya, bagaimana sikap seorang profesional ketika sukses, bagaimana sikap seorang pemuda bergaul, bagaimana sikap seorang hamba Tuhan dalam pelayanan, dan sebagainya. Pendeknya, kalau bicara soal memuliakan Allah, itu pasti bicara soal sikap hati juga. Kalau kita bagaimana? “Living for His glory!”
Inspirasi: Tatkala “Christ-Centered” telah menjadi prinsip dan posisi hidup seseorang, tak diragukan lagi, seluruh gerakan hidupnya terarah bagi kemuliaan Allah.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Tue, 29 Sep 2026 | Renungan
Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. (2 Timotius 4: 7)
Seorang pelari marathon menjelang finish sangat lelah, napasnya berat, kakinya tidak sekuat ketika mulai berlari, tapi di depan matanya terbentang garis akhir yang membakar semangatnya. Pada saat itu, yang utama bukan lagi seberapa cepat ia berlari, namun apakah ia tetap bertahan dan berjuang mencapai garis akhir.
Konteks surat personal ini adalah Paulus dalam kesulitan dan akhir hidupnya (eksekusi) sudah dekat dengan kesadaran bahwa hidupnya adalah persembahan (ay 6). Paulus lalu menarik garis waktu sbb:
Masa lalu, “Aku telah mengakhiri (teteleka dari teleō : menyelesaikan, menggenapi, mencapai tujuan, tuntas) pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir (ēgōnismai - telah berjuang, bertanding, berusaha dengan sungguh-sungguh), dan aku telah memelihara (tetērēka dari tēreō : menjaga, memelihara, mempertahankan) iman.” Paulus bukan berkata, “Aku sudah sukses, sempurna, tanpa kegagalan, dan layak diberi upah” Ia dengan tegas hanya menunjukkan kesetiaan pada panggilan sebagai persembahan hidupnya.
Masa kini dan masa mendatang ada mahkota yang dinantikannya. Mahkota (stephanos : mahkota kemenangan atau penghargaan, bukan mahkota kerajaan / diadēma). Mahkota itu adalah karunia Allah bagi mereka yang hidup dalam kesetiaan kepada-Nya.
Kesetiaan adalah respons iman kita dan mahkota adalah pemberian Tuhan. Mungkin manusia tidak melihat kesetiaan kita, tidak menghargai pelayanan kita, tetapi Tuhan melihat dan mengetahui. Tuhan menilai dengan adil, karena itu Paulus menekankan, “…tetapi juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya” artinya pengharapan itu bukan monopoli tokoh tertentu, namun bagi setiap orang yang menantikan Tuhan dengan setia.
Hidup ini tidak mudah, memikul salib itu berat, namun jangan pernah berhenti dan menyerah. Kita tidak perlu mencari penghargaan dari manusia; kita harus menyelesaikan perlombaan yang dipercayakan Tuhan. Di ujung kesetiaan kita, Tuhan menantikan dengan mahkota di tangan-Nya. Mari kita mempersembahkan hidup, menyelesaikan pertandingan, memelihara iman, dan menantikan Tuhan dengan setia.
Inspirasi: Mahkota kehidupan, disediakan oleh Tuhan bagi kita yang setia sampai akhir.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Mon, 28 Sep 2026 | Renungan
“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang.” (Ef. 5:8)
Apakah ada bintang yang gelap? Sebuah artikel melaporkan bahwa itu ada. “Bintang gelap adalah jenis bintang hipotesis yang mungkin telah ada di awal alam semesta sebelum bintang-bintang konvensional mampu terbentuk dan berkembang.” Matahari kita adalah contoh paling dekat dari bintang konvensional.” (Wikipedia, AI).
Paulus menggunakan bintang untuk menggambarkan kehidupan orang Kristen di tengah dunia yang gelap ini (Fil. 2:15). Orang percaya yang berjalan dalam terang kebenaran Kristus, seyogianya bercahaya di dunia ini. Yesus sudah bicara soal ini dalam Matius 5:14-16, bahwa setiap murid-Nya adalah terang dunia, karena mereka telah memiliki terang hidup dalam dirinya (Yoh. 8:12). Sebagaimana bintang tidak memiliki terang sendiri, tetapi ia dapat memantulkan cahaya yang diterimanya dari matahari, demikianlah sebenarnya orang Kristen sejati, dapat memancarkan terang Kristus di dalam dirinya. “Kepada jemaat di Efesus, Paulus mendorong jemaat itu tampil beda, karena mereka adalah orang-orang kudus (5:3-4), yang telah “dipisahkan” dan tidak lagi termasuk dalam dunia kegelapan di sekelilingnya. Selain itu, mereka juga merupakan raja (5:5-6), sehingga tidak pantas baginya untuk menikmati kebiasaan-kebiasaan orang dunia yang sesat, yang berada di luar Kerajaan Allah (cf. Gal. 5:21; 2 Tim. 4:1). Dan sebagai anak-anak terang (5:7-14), berarti mereka menghasilkan buah, yaitu buah yang berkenaan dengan hal-hal rohani. Sungguh tidak mungkin untuk berada dalam kegelapan dan terang sekaligus pada waktu yang sama.” (Warren Wiersbe).
Di dunia sekarang ini, eksistensi orang yang mau berjalan dalam terang, atau mau bercahaya bagaikan bintang, pasti selalu berbenturan dengan musuh besar; keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, yang bisa membuat cahaya menjadi redup (1 Yoh.2:16). Dunia, yang menurut Yohanes “sedang lenyap” ini adalah dunia yang gelap dengan system kehidupannya yang bertentangan dengan kebenaran Allah. “Yang jelas, tidak ada sikap netralitas; seseorang mesti mengasihi dunia atau mengasihi Allah. Yesus sendiri mengatakan; “Tidak akan ada seorang pun yang akan mengabdi pada dua tuan” (Mat.6:24). Pilihan yang tertinggi tetaplah sama. Adakah kita akan menerima standar-standar dunia atau standar-standar Allah?” (Westcott). Memang ada seorang pernah berkata: “Kita ini masih berada di dalam dunia. Kalau anda tidak mau dengan dunia, pergi saja ke sorga!” Tentu saja perkataan ini bukan perkataan seorang yang berjalan dalam terang, bukan? Lot, seorang percaya yang mencoba menjadi terang di kota Sodom, namun apa yang terjadi? Bukannya ia berpengaruh, malah nyaris terpengaruh (Kej. . Setiap orang percaya sejati akan berkata seperti rasul Paulus: “Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi.” (2 Kor. 10:3). Setiap orang Kristen memang masih ada di dunia (kosmos), tetapi tidak hidup secara duniawi (sistem kehidupan di luar kehendak Allah). “Be spiritual, not carnal man!”
Inspirasi: Menjadi terang bagi dunia, berarti harus tampil - inklusif dalam pembangunan kultural, tetapi harus eksklusif dalam rangka pembaharuan spiritual.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 27 Sep 2026 | Renungan
“Tetapi kamu akan menerima kuasa kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kis. 1:8)
“Edicta; Pengumuman atau dekrit public yang dikeluarkan langsung oleh kaisar Romawi, yang berlaku sebagai undang-undang bagi seluruh rakyat atau provinsi tertentu” - kini tak terdengar lagi, dan tinggal kenangan Sejarah. Berbeda dengan Amanat Agung Yesus Kristus, yang tak pernah out of date, malahan makin up to date dari hari ke hari. Itu bukan hanya berita bagi mereka yang mendengar, tetapi menghidupinya (living it out).
Tatkala Ia memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil, Ia memberi mereka jaminan yang pasti dan tak pernah berubah, itulah kehadiran Roh Kudus. Ia memberi kuasa menjadi saksi-Nya, di mana pun mereka pergi, dan banyak orang boleh mendengar dan menerima Injil keselamatan itu. Oleh kuasa Roh-Nya, Ia membangun Gerakan Rohani, mulai dari Yerusalem, kemudian Yudea, lalu Samaria, hingga ke ujung bumi. “Kisah Para Rasul 1:8, pertama-tama berbicara bahwa kuasa gereja itu berasal dari Roh Kudus dan bukan dari manusia (Zakharia 4:6). Umat Allah mengalami pemenuhan Roh kembali pada saat mereka menghadapi kesempatan-kesempatan dan tantangan-tantangan baru (Kis. 2:4; 4:8, 31; 9:17; 13:9). Orang-orang biasa dapat melakukan hal-hal yang luar biasa karena Roh Kuduslah yang bekerja di dalam hidup mereka. Pelayanan Roh Kudus ini bukanlah satu kemewahan, melainkan satu kebutuhan yang mutlak.” (Warren Wiersbe).
Bila membaca pasal-pasal awal Kisah Para Rasul, bahkan sampai pasal terakhir, memang sangat nyata adanya dinamika gerakan Rohani, tatkala gereja Tuhan bangkit dan memberitakan firman ke mana-mana. Beberapa indikator yang nyata, bagaimana dinamika pemberitaan Injil itu, dapat dilihat dari pertambahan jiwa-jiwa yang percaya, mulai dari tiga ribu sampai lima ribu orang (2:41; 4:4). Fakta ini menimbulkan reaksi keras dari para pemimpin Yahudi, dengan menghambat dan melarang Petrus dan Yohanes memberitakan Injil itu (4:5). Tetapi justru reaksi keras itu membuat jemaat lebih agresif lagi. Mereka berdoa dan terus memberitakan Kristus kepada lebih banyak orang lagi (4:23-31). Ibarat sungai saat mengalir deras dari ketinggian tak mungkin dibendung. Apakah ini namanya mereka menghidupi Amanat Agung Tuhan Yesus Kristus? Ya! Mereka begitu dinamis dan progresif.
Sampai suatu kali ada seorang hamba Tuhan berkata, “Tatkala anda mulai lesu tak bersemangat lagi melayani, bacalah Kisah Para Rasul!” Memang, bukan saja pemberitaan Injil yang dinamis, tetapi juga hati si pemberita itu begitu dinamis, seperti semangat Bill Bright yang mengajak, “Come Help Change the World!” Apakah kita juga sedang merasakan hal itu di hari-hari ini? “Be dynamic in His Great Commission!”
Inspirasi: Mereka yang berkobar-kobar dalam melaksanakan Amanat Agung, adalah orang-orang yang telah mengalami keagungan kasih Allah yang besar dan ajaib itu.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sat, 26 Sep 2026 | Renungan
Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. (1 Korintus 3: 7)
Jemaat Korintus sedang mengalami perselisihan dan pengelompokan (ay 1-3). Paulus melihat persoalan ini bukan sekadar masalah memilih tokoh favorit. Di balik semua itu ada persoalan yang lebih mendalam, manusia mulai mengambil kemuliaan yang seharusnya diberikan kepada Allah.
Dalam perikop ini Paulus tidak merendahkan para pelayan dan pelayanannya. Ia sedang menempatkan pelayanan pada tempat yang benar. Manusia adalah instrumen. Allah adalah sumber kehidupan. Kata ho auxanōn Theos (Allah, Dia yang memberi pertumbuhan) memakai bentuk imperfect menggambarkan suatu tindakan yang berlangsung pada masa lampau sebagai Allah sedang/terus bekerja memberikan pertumbuhan. Selanjutnya ayat 9 adalah puncak identitas perikop: “… kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Ada dua gambaran: ladang Allah, artinya jemaat adalah milik Allah bukan milik Paulus atau Apolos. Jemaat juga digambarkan sebagai bangunan milik Allah, bukan tempat untuk membangun nama kita sendiri, melainkan membangun umat Allah. Jika pelayanan membuat nama kita makin besar tetapi Allah semakin kecil, kita sudah melenceng. Ada 4 Prinsip hidup yang dapat diterapkan:
Prinsip 1 - Setiap orang mempunyai bagian. Tidak semua orang dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang sama. Jangan berkata: “Karena saya tidak seperti dia, berarti saya tidak berguna.” Paulus menanam. Apolos menyiram. Bagiannya berbeda, tapi tujuan sama.
Prinsip 2 - Kesetiaan lebih penting daripada popularitas. Kita sering ingin melihat hasil secepat mungkin. Tetapi benih tidak langsung menjadi pohon. Dalam pelayanan pun demikian. Kita mungkin sudah mengajar seseorang bertahun-tahun tetapi belum melihat perubahan. Jangan buru-buru mengatakan:“Pekerjaan saya sia-sia.” Mungkin kita sedang menanam, orang lain yang menyiram. Dan Allah akan memberikan pertumbuhan.
Prinsip 3 - Jangan mengambil kemuliaan Allah. Ketika pelayanan berhasil, mudah sekali hati berkata sombong: “Karena saya.” Paulus mengingatkan, pusat semuanya bukan penanam dan penyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.
Prinsip 4 - Jangan iri terhadap bagian orang lain. Kalau kita hanya melihat hasil pelayanan orang lain, kita bisa iri. Kita tidak tahu berapa banyak benih yang mereka tanam. Kita dipanggil untuk setia pada bagian kita, bukan iri hati pada orang lain. Manusia bekerja pada tahap, waktu, dan area tertentu, tetapi Allah bekerja atas seluruh bumi, secara berkelanjutan, dan memakai beragam manusia. Mari terus bekerja keras menanam benih Firman Tuhan, kasih, keteladanan, dan kebaikan. Lakukan bagian yang dipercayakan Tuhan dengan setia. Kita tidak mungkin mengendalikan semuanya, hanya Allah yang berkuasa memberikan pertumbuhan yang sempurna.
Inspirasi: Apa yang sudah kita tanam, siram dan rawat, percayalah bahwa Allah berkuasa memberi pertumbuhan.