Membangun Tubuh Bagi Yesus

Membangun Tubuh Bagi Yesus

"untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus," (Efesus 4:12)

Surat Efesus ditulis oleh Rasul Paulus dari balik jeruji penjara di Roma untuk menguatkan gereja Tuhan agar tetap teguh dalam kesatuan dan panggilan surgawi. Di tengah tekanan zaman dan ancaman ajaran palsu, Paulus menegaskan bahwa Yesus memberikan karunia-karunia jabatan yang berbeda, seperti rasul, nabi, pemberita Injil, gembala, dan pengajar, bukan untuk membentuk hierarki atau menimbulkan kebanggaan pribadi. Tujuan utamanya adalah untuk memperlengkapi (katartismos, yang merujuk pada proses memulihkan, melatih, dan menyiapkan perlengkapan) setiap orang percaya agar siap melangkah menjalankan pelayanan.

Paulus memandang gereja bukan sebagai penonton pasif, melainkan sebagai tubuh yang saling terhubung, di mana setiap anggota memiliki peran vital dalam penginjilan, pemuridan, serta penopangan kebutuhan pelayanan. Pertumbuhan rohani yang sejati tidak diukur dari seberapa banyak ilmu teologi yang kita himpun, melainkan dari sejauh mana kita memperjuangkan kebenaran dalam kasih dan berkontribusi aktif dalam memuridkan sesama. Ketika setiap bagian menjalankan fungsinya secara optimal, gereja tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran dunia. Sebaliknya, tubuh Kristus akan bertumbuh makin dewasa, kokoh, dan memancarkan kemuliaan Allah di tengah dunia yang membutuhkan penjangkauan jiwa.

Ambillah komitmen nyata minggu ini untuk melayani dalam salah satu bidang pelayanan gereja atau kelompok pemuridan. Gunakan setiap karunia, waktu, dan penopangan doa yang Saudara miliki untuk membangun serta memperlengkapi sesama demi kemajuan Injil.

Inspirasi: Gereja yang kuat tidak dilihat dari besarnya jumlah penonton, melainkan dari banyaknya anggota yang siap melayani Kristus.

Dipenuhi Roh Kudus

Dipenuhi Roh Kudus

Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati (Efesus 5:17-19).

Seseorang yang mabuk oleh karena pengaruh minuman ber-alkohol, seringkali mengalami hilangnya kesadaran diri, kemampuan untuk fokus dan tidak dapat mengendalikan kata-kata dan tindakannya. Ada orang yang ingin melupakan masalahnya dengan minum minuman beralkohol dan kemudian mendapati masalahnya semakin berat, di saat justru yang diperlukan adalah pikiran yang jernih untuk menemukan jalan keluar atas permasalahannya. Dan terlebih lagi yang paling diperlukan adalah pimpinan Roh Kudus agar dapat mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya.

Dalam Efesus 5:17 dikatakan agar kita mengusahakan untuk mengerti kehendak Tuhan. Ketidakmengertian akan kehendak Tuhan disamakan dengan suatu kebodohan. Berusaha artinya bukan tindakan sekedarnya atau sambil lalu tapi memerlukan suatu tekunan dan tekad yang kuat untuk bisa mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup ini.

Jauh sebelum waktunya Yesus disalibkan, dikuburkan dan naik ke surga, Yesus menyampaikan kepada para murid-Nya bahwa Roh Kudus akan menyertai mereka selama lamanya. Roh Kudus yaitu Roh Kebenaran, yang memimpin setiap orang percaya ke dalam seluruh kebenaran. Roh Kudus yang akan memuliakan Tuhan, sebab Roh Kudus memberitakan kepada kita apa yang diterima dari Tuhan (Yohanes 16:13-14). Karenanya hanya oleh pimpinan Roh Kudus-lah maka kita akan dapat mengerti kebenaran dan kehendak Tuhan. Karena Roh Kudus datang untuk memuliakan Tuhan maka Roh Kudus juga yang memimpin kita untuk memiliki hati yang menyembah Tuhan. Jadi dengan pimpinan Roh Kudus, kita-pun dimampukan untuk memuliakan Dia dan menyembah-Nya.

Bagaimana seseorang dapat dipenuhi oleh Roh Kudus? Dalam Efesus 5:18 diperintahkan agar kita tidak mabuk oleh anggur tetapi hendaklah penuh dengan Roh. Dan sesuai dengan janji-Nya dalam 1 Yohanes 5:14 bahwa jika kita meminta sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita. Adalah kehendak-Nya agar kita dipenuhi oleh Roh Kudus, maka sesuai dengan janji-Nya maka Ia akan mengabulkan doa kita untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Karena itu, berdoalah kepada Tuhan agar senantiasa dipenuhi oleh Roh Kudus sebagaimana perintah-Nya. Maka sesuai dengan janji-Nya, Ia akan mengabulkan permohonan ini karena hal itu sesuai dengan kehendak-Nya.

Inspirasi: Tuhan sudah menyediakan pertolongan yang kita perlukan untuk mengerti dan menjalani hidup ini sesuai dengan kehendak Tuhan. Roh Kudus juga yang akan memampukan untuk hidup dengan hati yang penuh penyembahan kepada-Nya. Hiduplah senantiasa dengan penyerahan diri untuk dipimpin dan dipenuhi oleh Roh Kudus.

Menghadapi Cobaan

Menghadapi Cobaan

“… ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan… (Yakobus 1:3)

Ujian bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Dalam dunia pendidikan, ujian diperlukan salah satunya agar mereka dapat mengukur sejauhmana mereka telah memahami pelajaran yang selama ini diterima sehingga kelak dapat menerapkan ilmu yang mereka dapatkan. Saat menghadapi ujian akhir semester di sekolah atau di kampus, biasanya suasana serasa begitu mencekam. Saat kertas dibagikan, sebagian besar wajah terlihat cemas terutama bagi mereka yang kurang mempersiapkan diri dengan baik. Mereka ragu apakah akan bisa mengerjakan soal ujian dengan tepat. Sebagian yang lain ada yang merasa sangat siap karena telah belajar dengan tekun, dan mereka lulus dengan mendapatkan nilai yang mereka harapkan.

Jemaat mula-mula mengalami ujian iman yang tidak mudah. Mereka mengalami aniaya karena imannya kepada Tuhan Yesus. Akibatnya ada dari antara mereka yang undur dan mengikuti jalan dunia ini (2 Tim 4:10). Yakobus mengingatkan agar mereka bertekun dalam iman, sesulit apapun situasinya. Karena ujian terhadap iman pasti akan menghasilkan buah dari ketekunan itu.

Sebagai orang percaya pada masa ini, kita juga tidak luput dari ujian terhadap iman. Salah satunya ujian untuk tetap hidup sebagai seorang yang ber-integritas dan hidup dalam kebenaran. Kelulusan dari ujian iman, akan ditentukan oleh seberapa baik kita mempersiapkan diri. Persiapan ujian iman antara lain dengan memiliki persekutuan pribadi yang erat dengan Tuhan dan setia mengisi hati dan pikiran dengan firman Tuhan sebagai perlengkapan senjata Allah (Efesus 6:17). Sehingga ketika ujian datang, kita akan dapat tetap berdiri teguh.

Saat ujian datang, hadapilah dengan kekuatan dan pimpinan Tuhan. Dengan mengingat janji dalam firman-Nya, Saudara akan menang menghadapi ujian tersebut. Miliki waktu saat teduh yang teratur dan konsisten. Bangunlah kehidupan doa pribadi dan terbuka kepada Tuhan tentang apa saja ujian yang sedang Saudara hadapi.

Inspirasi: Tuhan menjanjikan kemenangan terhadap ujian iman, asal saja kita tetap melekat kepada-Nya dan berakar di dalam firman Tuhan.

Sukacita Dalam Segala Keadaan

Sukacita Dalam Segala Keadaan

“Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” (Habakuk 3:18)

Seorang petani bekerja keras. menanam benih, merawat sawah, dan berharap panen berlimpah. Namun ternyata, hujan tidak turun musim kemarau panjang membuat tanaman tidak tumbuh sesuai harapan. Sangat menyedihkan karena gagal panen. Bersyukur masih diberi kesehatan, kekuatan dan kreativitas untuk menanam kembali dengan jenis tanaman lain yang bisa bertahan di musim kemarau, yaitu kedelai dan jagung untuk menyambung hidup.

Habakuk menggambarkan keadaan yang jauh lebih berat. Pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil kebun zaitun mengecewakan, ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba terhalau dari kandang, dan lembu sapi tidak ada di kandang. Artinya, semua sumber pengharapan yang biasanya menopang kehidupan hilang lenyap. Tapi ia berkata: “Namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN.” Kata “namun”. mengubah arah kehidupan. Meski “Tidak ada hasil,” tetapi iman pada Tuhan memberi harapan sesuai cara-Nya. Kadang kita kehilangan sesuatu di dunia ini, namun yang terpenting masih memiliki Tuhan yang sanggup menopang dan menolong. Masa depan di dalam Tuhan itu pasti yang terbaik. Jadi sukacita Habakuk bukan pada keadaan yang bisa berubah-ubah. Ia bersukacita karena menemukan sumber sukacita sejati, yaitu Tuhan.

Habakuk 3, adalah bagian akhir kitab Habakuk. Sebelumnya, ia bergumul mengapa Tuhan membiarkan kejahatan dan orang benar mengalami penderitaan? Habakuk tidak memulai kitabnya dengan sukacita, tetapi dengan dengan pertanyaan, kegelisahan, dan pergumulan iman. Namun dalam perjalanan hidupnya, ia mengalami perubahan. Ia tidak memperoleh semua jawaban yang ia inginkan, tetapi ia belajar mempercayai Tuhan. Ayat 17, menggambarkan kondisi yang sangat ekstrem: pohon ara tidak berbunga, tidak ada buah anggur, hasil zaitun mengecewakan, ladang tidak menghasilkan makanan, kambing domba tidak ada, lembu sapi tidak tersedia. Ini gambaran krisis ekonomi, pangan, dan kehidupan yang sangat berat. Habakuk sedang berbicara tentang situasi yang aman dan nyaman, tetapi tiba-tiba hilang.

Ayat 18, dimulai dengan kata: “Namun…” bahasa Ibrani (wa'ani), “tetapi aku” atau “namun aku.” Habakuk menegaskan meskipun keadaannya sedang buruk, yang diharapkan hilang, tetapi ia memilih tetap bersorak-sorak di dalam TUHAN. Sukacita Habakuk hanya bersumber pada TUHAN. Inilah inti iman Habakuk. Sukacita sejati tidak berarti tidak boleh sedih. Ia tidak berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ia berani mengakui kenyataan bahwa keadaannya sangat rumit. Namun Ia berkeyakinan kokoh bahwa Tuhan jauh lebih besar dan berkuasa daripada semua permasalahan hidupnya.

Ayat 19, pengakuan iman, bahwa “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku.” Ia tidak terpengaruh dengan keadaan berhasil atau gagal. Sebab Allah adalah sumber kekuatan sejati. Keadaan sulit → Pergumulan iman → Memilih untuk percaya → Sukacita di dalam Tuhan → Tuhan menjadi sumber kekuatan sejati. Hal ini bukan mengajarkan “Bersukacitalah karena semua keadaan pasti baik atau baik-baik saja.” Melainkan, bersukacitalah dalam segala keadaan, karena Tuhan setia menopang dan memberkati.

Mungkin harapan kita meleset, tugas menumpuk, gagal mengerjakan proyek, arah masa depan masih semrawut, studi terhambat, dll. Mari belajar pada Habakuk, tetap fokus pada Allah sumber sukacita yang berdaulat penuh. Tuhan sedang berkarya dalam hidup kita. Tetap bersukacita dalam pengharapan pada-Nya.

Inspirasi: Selalu bersukacita dalam segala keadaan, sebab Tuhan sumber pertolongan dan kekuatan sejati.

Alirkan Kemurahan Allah

Alirkan Kemurahan Allah

"Ingatlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6)

Surat 2 Korintus ditulis oleh Rasul Paulus di tengah tekanan pelayanan yang berat, di mana ia secara khusus mendorong jemaat Korintus untuk turut mendukung pelayanan kasih kepada sesama percaya di Yerusalem. Paulus tidak melihat tindakan memberi sebagai beban finansial, melainkan sebagai investasi rohani yang berlandaskan prinsip tabur tuai. Kata "menabur" di sini merujuk pada kerelaan untuk menyerahkan apa yang ada pada kita demi kepentingan Kerajaan Allah. Dalam konteks pelayanan Kristen, menabur berarti menginvestasikan sumber daya, waktu, kemampuan, dan dukungan doa untuk menopang penginjilan, pemuridan, serta pemenuhan kebutuhan pelayanan yang menjangkau jiwa-jiwa. Paulus menegaskan bahwa Allah menyukai orang yang memberi dengan sukacita (hilaros), bukan karena terpaksa atau karena dorongan rasa bersalah. Allah yang menyediakan benih bagi penabur adalah sumber kelimpahan yang tidak pernah kering. Ketika kita memberanikan diri untuk melayani dan memberi dengan hati yang tulus, Allah tidak hanya mencukupkan kebutuhan hidup kita, tetapi juga melipatgandakan benih itu agar kita senantiasa memiliki kemurahan hati yang berdampak luas. Kemurahan yang kita alirkan untuk menopang misi Allah pada akhirnya akan membuahkan ucapan syukur yang melimpah bagi kemuliaan Tuhan.

Mulailah secara konsisten menyisihkan sebagian waktu, dana, atau dukungan doa terbaik Saudara minggu ini khusus untuk menopang gerakan pemuridan dan penginjilan di gereja atau lembaga pelayanan lokal. Yakinlah bahwa setiap benih yang Saudara tabur dengan sukacita demi kebutuhan pelayanan tidak pernah sia-sia dan dipelihara oleh kemurahan Allah.

Inspirasi: Tangan yang terbuka untuk menabur bagi Kerajaan Allah tidak akan pernah kekurangan alasan untuk bersyukur.

Iman yang Bekerja

Iman yang Bekerja

“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17)

Iman bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan dengan mulut, tetapi sesuatu yang terlihat melalui kehidupan. Yakobus dengan tegas mengingatkan bahwa iman yang sejati akan menghasilkan tindakan nyata.

Dalam bacaan hari ini, Yakobus memberikan contoh sederhana. Jika ada saudara yang kekurangan makanan dan pakaian, lalu kita hanya berkata, “Pergilah dengan damai, semoga Tuhan memberkati,” tetapi kita tidak melakukan apa-apa untuk menolongnya, apakah perkataan itu benar-benar bermanfaat? Demikian pula iman. Iman yang hidup tidak berhenti pada perkataan, tetapi mendorong kita untuk melakukan sesuatu. Iman berbicara melalui perbuatan.

Yakobus menulis : Abraham yang menaati Allah dan Rahab yang bertindak menolong para utusan Allah. Mereka tidak hanya percaya dalam hati, tetapi iman mereka menghasilkan tindakan.

Kadang-kadang kita tahu apa yang Tuhan kehendaki, tetapi kita takut melakukannya. Kita tahu harus mengampuni, tetapi masih menyimpan kepahitan. Kita tahu harus menolong, tetapi memilih diam. Kita tahu harus melayani, tetapi menunggu orang lain melakukannya. Iman yang hidup membuat kita berani melakukan apa yang benar di hadapan Tuhan.

Bayangkan seseorang memiliki sebuah lampu yang sangat bagus, tetapi tidak pernah dinyalakan. Lampu itu memang ada, tetapi tidak memberikan terang. Demikian juga iman. Iman yang hanya disimpan dalam perkataan tanpa tindakan tidak memberikan dampak bagi kehidupan. Tetapi ketika iman dinyalakan melalui kasih dan perbuatan baik, orang lain dapat melihat terang Kristus melalui hidup kita.

Inspirasi : Biarlah iman kita bukan hanya iman yang kita ucapkan, tetapi iman yang bekerja—iman yang mengasihi, iman yang melayani, iman yang menolong, iman yang mengampuni, dan iman yang membawa perubahan.