by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 6 Oct 2024 | Artikel, Keuangan
Manajemen keuangan dalam perspektif Kristen berfokus pada penggunaan sumber daya dengan bijak sesuai dengan ajaran Alkitab. Prinsip dasar ini meliputi beberapa aspek penting yang dapat membantu umat Kristen mengelola keuangan mereka dengan cara yang memuliakan Tuhan.
Pertama, integritas dalam pengelolaan uang sangat ditekankan. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus jujur dan transparan dalam semua transaksi keuangan. Ini berarti menghindari praktik-praktik yang tidak etis dan selalu berusaha untuk melakukan yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Kedua, menghindari utang yang tidak perlu adalah prinsip penting lainnya. Utang dapat menjadi beban yang mengganggu kesejahteraan finansial dan spiritual. Alkitab menyarankan agar kita hidup bebas dari utang, karena “orang yang berhutang adalah hamba dari orang yang memberi pinjaman” (Amsal 22:7). Dengan menghindari utang, kita dapat hidup lebih damai dan fokus pada pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
Ketiga, memberikan persembahan kepada gereja dan amal adalah bagian integral dari manajemen keuangan Kristen. Memberi adalah bentuk ibadah dan ungkapan syukur atas berkat yang telah kita terima. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus memberi dengan hati yang tulus dan sukacita, karena “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).
Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, umat Kristen dapat mengelola keuangan mereka dengan bijak dan memuliakan Tuhan melalui setiap keputusan finansial yang mereka buat. Manajemen keuangan yang baik tidak hanya membawa kesejahteraan materi, tetapi juga kedamaian dan kepuasan spiritual.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 6 Oct 2024 | Artikel, Keuangan
Secara langsung, Alkitab tidak menunjuk siapakah yang mengelola keluarga keluarga, namun ada prinsip yang diajarkan tentang dinamika hubungan antara suami dan istri dalam semua aspek pernikahan. Dalam kata lain, prinsip yang Tuhan ajarkan dalam Efesus 5:22-33 dan Kolose 3:18-19 dapat diterapkan pada setiap bagian hubungan suami istri. Ini berarti bahwa keseimbangan rohani dalam hubungan suami istri dipengaruhi secara langsung oleh hubungan antara setiap pasangan secara pribadi dengan Allah. Dalam setiap hubungan ada berkat dan penderitaan yang datang akibat keterhubungan mereka, dan prinsip ini digerakkan oleh ketaatan setiap pihak kepada Tuhan.
Baik suami maupun istri membawa kelebihan dan kekurangan mereka ke dalam pernikahan. Membentuk sifat-sifat ini supaya berguna dalam hubungan suami istri tergantung pada pengertian tentang Allah serta kasih karunia-Nya. Keputusan ekonomi yang dapat mempengaruhi kesuksesan keluarga merupakan tanggung-jawab bersama. Darimanapun juga sumber kekayaan mereka, baik melalui pemeliharaan Allah dalam pekerjaan sang suami atau istri atau keduanya, semua aset tersebut merupakan tanggung-jawab keduanya sebagai satu tim. Prinsip yang penting dalam mengambil keputusan ekonomi adalah melakukan "semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (1 Korintus 10:31; Roma 14:8; Kolose 3:23-24).
Adapun pengertian yang menempel pada pernikahan Kristen, yakni, bahwa suami adalah otoritas tertinggi dalam keluarga. Ia bertanggung-jawab pada Allah untuk memimpin dan menggembalakan keluarganya, sedangkan istrinya bertanggung-jawab untuk tunduk kepadanya dan membantunya. Dalam hal keuangan rumah tangga, ini mungkin berarti bahwa suami menguasai tabungan mereka, melunasi semua tagihan, dan mengelola keuangan serta berinvestasi dan menyumbang; secara bersamaan meminta nasehat dari istrinya sebelum mengambil keputusan final. Mungkin juga dapat ditafsirkan bahwa ia mendelegasikan tugas ini kepada istrinya, terutama jika istrinya mampu dan senang mengerjakan hal itu. Akan tetapi sang suami masih bertanggung-jawab mengawasi proses tersebut. Pada akhirnya, suami istri yang bekerjasama dalam mengelola keuangan keluarga dapat berkomunikasi dengan baik dan saling menghormati.
Pada akhirnya dalam hal keuangan rumah tangga, kita diberi prinsip dalam Lukas 6:38 bahwa semakin kita memberi maka semakin besar berkatnya. Ini berarti ada hubungan antara pemberian kepada Tuhan dan berkat yang kita terima kembali, baik secara rohani maupun secara keuangan. Kita tidak mungkin memberi lebih banyak daripada Tuhan. Semakin kita setia mengembalikan harta kita pada Tuhan, semakin kita menyadari bahwa yang kita simpan telah berlipat ganda, dan lebih dari cukup.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Fri, 4 Oct 2024 | Artikel, Kesaksian
Sebuah karya menjadi sangat bermakna jika dihasilkan dengan kesungguhan dan keseriusan. Cerita dan motivasi di balik suatu karya memberikan makna mendalam, bukan hanya bagi penciptanya, tetapi juga bagi yang menikmatinya. Hal ini jelas terlihat dalam lagu himne yang terkenal dan sering dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia, “I Have Decided to Follow Jesus”.
Cerita di balik lagu ini terjadi pada tahun 1800-an di Assam, India. Saat itu, terjadi kebangkitan rohani besar-besaran di Eropa yang mengirim banyak misionaris ke seluruh dunia. Beberapa misionaris Inggris tiba di Assam, sebuah daerah yang penuh tantangan. Penduduk Assam terdiri dari beberapa suku primitif yang mempraktikkan kanibalisme dan memiliki tradisi mengerikan, seperti mengumpulkan kepala manusia sebagai simbol status sosial.
Di tengah kebrutalan ini, para misionaris memberitakan Injil dengan tekad kuat. Meskipun awalnya ditolak, pesan mereka mulai meresap. Sebuah keluarga dari suku Garo menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Mereka, yang terdiri dari Nokseng, istrinya, dan dua anaknya, membawa dampak besar, sehingga banyak keluarga lain mengikuti jejak mereka.
Kemudian, kepala suku yang marah mengadili Nokseng dan keluarganya di hadapan masyarakat. Dalam ancaman kematian, Nokseng dengan teguh menyatakan, “I have decided to follow Jesus. No turning back.” Anak-anaknya dibunuh, namun ia tetap teguh. Saat istrinya diancam, ia berkata, “Though none go with me, still I will follow. No turning back.” Istrinya pun dibunuh. Diberi kesempatan terakhir untuk hidup jika meninggalkan imannya, Nokseng dengan tegas menjawab, “The cross before me, the world behind me. No turning back. No turning back.” Dan kemudian, ia dibunuh.
Pengorbanan Nokseng dan keluarganya mengguncang hati kepala suku. Ia mulai mempertanyakan kekuatan iman yang membuat seseorang rela mati. Penasarannya membawanya kepada Kristus. Setelah membaca Injil, ia mengumumkan imannya di depan rakyatnya, yang kemudian mengikuti jejaknya. Kekristenan pun berkembang pesat di Assam. Hari ini, Meghalaya di timur laut India adalah salah satu dari tiga negara bagian di India dengan mayoritas Kristen, dengan hampir sembilan puluh persen suku Garo memeluk iman Kristen.
Kata-kata Nokseng diabadikan dalam lagu himne indah oleh misionaris India, Sadhu Sundar Singh, dan diaransemen oleh komposer Amerika, William Reynolds. Lagu ini digunakan oleh Billy Graham dalam banyak kebaktian kebangunannya di seluruh dunia, dan hingga kini gereja-gereja terus menyanyikan “I Have Decided to Follow Jesus”.
Kesaksian ini mengingatkan kita bahwa mengikuti Tuhan bukanlah hal mudah. Satu benih yang mati bisa menghidupkan jutaan benih lainnya. Tantangan dalam setiap zaman mungkin berbeda, tetapi prinsipnya sama: tetaplah teguh dalam iman kepada Yesus. Semoga kita diberi kekuatan untuk memegang teguh iman kita hingga akhir hidup kita. Amin.
Versi Indonesia (Mengikut Yesus Keputusanku)
BAIT 1
Mengikut Yesus keputusanku,
Mengikut Yesus keputusanku,
Mengikut Yesus keputusanku.
‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.
BAIT 2
Walau sendiri ‘kuikut Yesus,
Walau sendiri ‘kuikut Yesus,
Walau sendiri ‘kuikut Yesus.
‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.
BAIT 3
Dunia di b’lakang salib di depan,
Dunia di b’lakang salib di depan,
Dunia di b’lakang salib di depan.
‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.
BAIT 4
Maukah engkau mengikut Yesus,
Maukah engkau mengikut Yesus,
Maukah engkau mengikut Yesus.
Selamanya, selamanya.
Versi English (I Have Decided To Follow Jesus)
BAIT 1
I have decided, to follow Jesus,
I have decided, to follow Jesus,
I have decided, to follow Jesus,
No turning back, no turning back!
BAIT 2
Though I may wander, I still will follow,
Though I may wander, I still will follow,
Though I may wander, I still will follow,
No turning back, no turning back!
BAIT 3
The world behind me, the cross before me,
The world behind me, the cross before me,
The world behind me, the cross before me,
No turning back, no turning back!
BAIT 4
Though none go with me, still I will follow,
Though none go with me, still I will follow,
Though none go with me, still I will follow,
No turning back, no turning back!
BAIT 5
Will you decide now, to follow Jesus?
Will you decide now, to follow Jesus?
Will you decide now, to follow Jesus?
No turning back, no turning back!
by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 2 Oct 2024 | Artikel, Biblika
Ketika diciptakan, Adam suci karena tidak berdosa. Namun, Adam diciptakan dengan kondisi dapat berbuat dosa. Apabila Adam memilih untuk terus taat kepada Tuhan, Adam tidak akan berdosa. Dalam hal inilah, banyak orang Kristen menyalahkan Tuhan dengan berkata, "Seharusnya Allah menciptakan Adamdengan kondisi tidak dapat berbuat dosa." Mari kita selidiki lebih dalam.
Pengertian Dosa
Konsep dosa merupakan salah satu ajaran yang dibahas secara panjang lebar dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB).
- Definisi Dosa
Dalam PL, setidaknya ada 8 kata dasar yang merujuk pada pengertian dosa ("khata", "ra", "pasha", "awon", "shagag", "asham", "rasha", dan "taah"). Jika ditarik kesimpulan, dosa dalam PL adalah hal yang bertentangan dengan norma, dan pada dasarnya merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Tindakan dosa bukan hanya perbuatan yang tidak mencapai sasaran, tetapi juga tindakan yang mencapai sasaran yang keliru. Dalam PB, setidaknya ada 12 kata dasar yang menjelaskan pengertian dosa, yaitu: "kakos", "poneros", "asebes", "enokhos", "hamartia", "adikia", "anomos", "parabates", "agnoein", "planao", "paraptoma", dan "hipokrisis". Jika ditarik kesimpulan, dosa dalam PB adalah pemberontakan secara aktif terhadap Allah. Dosa berarti tidak mencapai sasaran, pemberontakan, memilih jalan yang tidak benar, kejahatan, pelanggaran terhadap hukum, dll.. Secara ringkas, dosa diartikan sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah (1Yoh. 3:4). Jadi, sifat utama dosa terletak pada arah yang bertentangan dengan Allah (Rm. 3:23).
- Asal-Usul Dosa
Sudah sejak awal sejarah peradaban, manusia memperdebatkan pertanyaan dari mana datangnya kejahatan dan dosa di dunia. Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa dosa sebelumnya tidak ada dan bukan Allah yang menciptakan dosa. Sebab Alkitab sangat jelas mengungkapkan bahwa Allah itu suci dan segala sesuatu yang Tuhan ciptakan itu baik dan sempurna adanya (Kej. 1:31). Dosa berasal dari hati Lucifer. Lucifer adalah makhluk malaikat yang diciptakan Tuhan dengan berbagai kelebihan. Namun, hal itu membuatnya sombong dan ingin menjadi Tuhan sehingga dia memberontak melawan Tuhan (Yeh. 28:15-17; Yes. 14:1314) sehingga Tuhan mencopot jabatannya di surga dan mengusirnya ke dunia. Namanya diganti menjadi Iblis atau Setan, dan melaluinya, segala jenis dosa dan kejahatan ada di dunia ini. Pekerjaan Setan sekarang adalah menggoda manusia untuk jatuh ke dalam dosa dan menjadikan mereka pengikut Setan.
Bagaimana Manusia Jatuh ke dalam Dosa?
Ketika menciptakan manusia, Adam dan Hawa, Allah rindu agar manusia memiliki relasi yang harmonis dan akrab dengan Allah. Itu sebabnya, Allah membawa manusia untuk hidup berdampingan dengan-Nya di Taman Eden yang indah agar manusia mengalami kebahagiaan yang penuh bersama Allah. Untuk itu, Adam dan Hawa harus memercayai dan mengasihi Allah sehingga mereka dapat hidup berdampingan dengan Allah. Ini bukan suatu paksaan, melainkan kerelaan. Bagaimana Allah menguji bahwa Adam dan Hawa memercayai dan mengasihi Allah?
- Larangan Tuhan kepada Adam di Taman Eden
Setelah menciptakan Adam dan Hawa, Tuhan menempatkan mereka di Taman Eden yang indah dan memberi mereka tanggung jawab untuk memeliharanya. Ada banyak jenis pohon di taman itu, dan Adam dan Hawa diperbolehkan makan buah apa pun dari semua pohon di taman itu, kecuali buah dari satu pohon yang disebut "pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat". Allah dengan jelas memberi peringatan dan larangan agar mereka tidak memakan buah dari pohon tersebut (Kej. 2:17).
- Setan Memperdaya Hawa dan Menjerumuskan Adam
Pada suatu ketika, Setan dalam wujud ular masuk ke dalam taman dan Hawa memberi kesempatan kepada Setan untuk bercakap-cakap dengannya. Setan bertanya, "Apakah Allah benar-benar berfirman, ‘Kamu tidak boleh makan dari pohon mana pun di taman ini?'" (Kej. 3:1). Pertanyaan ini kedengarannya tidak berbahaya, tetapi Setan memiliki niat jahat. Hawa menjawab, "…. Kami boleh makan buah dari pohonpohon di dalam taman, tetapi dari buah pohon yang ada di tengah taman, Allah telah berfirman, ‘Kamu tidak boleh memakannya, kamu juga tidak boleh menyentuhnya, nanti kamu akan mati'" (Kej. 3:2, 3). Perkataan yang diucapkan Setan selanjutnya kepada Hawa adalah dusta belaka (Kej. 3:4, 5). Perkataan Setan itu meracuni pikiran dan hati manusia untuk meragukan Tuhan yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu dari Adam dan Hawa. Setan membuat Hawa memakan buah itu karena dia ingin menjadi seperti Allah. Ketika Allah berkata, "Pastilah engkau mati," Setan berkata, "Kamu tidak akan mati." Seperti yang kita ketahui, Hawa memilih untuk memercayai Setan! Rencana Setan berhasil. Hawa tertipu dan memercayai dusta Setan. Bagaimana bisa? Hawa tertipu karena lebih memercayai Setan daripada perkataan Allah. Kita pun akan tertipu apabila kita tidak memercayai firman Allah. Rencana jahat Setan tidak hanya berhenti di situ. Setan menunggu Hawa menularkan tipuan itu kepada Adam. Strategi Setan untuk berbicara dengan Hawa dahulu sangatlah hebat karena Hawa dengan mudah dapat mencapai Adam daripada Setan. Sekalipun Adam tahu apa yang Allah katakan kepadanya, bahkan tahu akibat dari memakan buah itu, yaitu kematian, hati Adam telah tertular dengan keinginan untuk menjadi seperti Allah. Bukannya mendapatkan kuasa, Adam justru tertipu dan jatuh ke dalam dosa. Inilah pemberontakan manusia pertama terhadap Allah, Sang Pencipta.
- Kehendak Bebas
Manusia Mengapa Allah tidak menciptakan manusia dengan kondisi tidak dapat berbuat dosa? Karena Allah tidak membuat manusia robot. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Karena itu, manusia memiliki kemampuan intelektual untuk berpikir dan membuat pilihan bebas. Allah ingin manusia dengan kerelaan hatinya melakukan 36apa yang diperintahkan Tuhan dengan hati yang penuh syukur dan taat. Oleh karena itu, diberikanlah kehendak bebas kepada manusia supaya manusia dapat membuat keputusan sendiri bahwa dengan rela hati dia memercayai dan mengasihi Allah.
- Adam Menciptakan Dosa Asal bagi Seluruh Umat Manusia
Karena Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, ketika dia jatuh ke dalam dosa, seluruh keturunannya pun menanggung akibat dari kejatuhan ini (Ef. 2:3; Rm. 6:20; 7:20). Anak Adam akan lahir dengan warisan dosa dari Adam, yang selanjutnya akan diturunkan lagi ke semua anak-anaknya yang lain, sampai kepada semua keturunannya hingga hari ini. Ini merupakan suatu akibat yang sangat mengerikan karena berarti seluruh umat manusia yang lahir di dunia tidak ada yang terlahir tanpa dosa; semua sudah mewarisi dosa dari Adam. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Kejadian 5:2 bahwa dari Adam, lahirlah seorang anak laki-laki yang "segambar" dengan Adam.
Hukuman atas Dosa
Setiap perbuatan memiliki konsekuensi, terlebih perbuatan dosa yang sudah dilakukan oleh Adam. Alkitab berkata, "… upah dosa ialah maut …" (Rm. 6:23). Apa artinya?
- Hukuman Kematian
Akibat dari ketidaktaatan Adam adalah kematian! Namun, mengapa Adam tidak langsung mati pada saat dia memakan buah terlarang itu? Dalam Alkitab, ada tiga macam kematian yang disebutkan.
a. Kematian Rohani Ini artinya terpisahnya roh manusia dengan Roh Allah. Dosa membuat manusia hidup terpisah dari Allah. Akibat dari ketidaktaatannya, Adam, seketika itu juga, tidak dapat lagi hidup berdampingan dengan Allah karena Allah membenci dosa dan Dia suci adanya.
b. Kematian Jasmani Ini artinya terpisahnya tubuh dengan roh manusia. Dosa akan mengakibatkan kematian jasmani, walaupun tidak seketika itu juga. Itu sebabnya, Adam tidak langsung mengalami kematian jasmani saat dia memakan buah terlarang. Dia masih hidup untuk beberapa ratus tahun lagi sebelum akhirnya mengalami kematian tubuh.
c. Kematian Kekal Ini artinya terpisahnya roh manusia dengan Roh Allah selamalamanya dalam penghukuman kekal. Hal ini akan terjadi jika manusia menolak Injil dan menolak keselamatan yang diberikan Allah melalui penebusan oleh Tuhan Yesus Kristus.
- Merasa Malu dan Takut
Hal inilah yang pertama kali disadari oleh Adam dan Hawa saat mereka jatuh ke dalam dosa, yaitu mereka merasa malu karena mendapati diri mereka telanjang (Kej. 3:7). Mereka juga diliputi rasa bersalah dan takut sehingga mereka menyembunyikan diri dan tidak ingin bertemu dengan Allah. Mengapa mereka tidak merasa malu dan takut sebelumnya? Karena mereka telah kehilangan kemuliaan Allah yang selama ini menjadi pakaian dan perlindungan mereka.
- Diusir dari Taman Eden dan Mengalami Kesulitan Hidup
a. Diusir dari Taman Eden Adam dan Hawa diusir oleh Tuhan dari Taman Eden (Kej. 3:23) karena mereka harus berpisah dari Allah dan kehilangan hak istimewa kedekatan relasi dengan Allah.
b. Hawa Harus Melahirkan Keturunan dengan Kesakitan Kejadian 3:16 mengatakan: "… susah payahmu ketika mengandung; dalam kesakitan kamu akan melahirkan anak-anak …." Sesuatu yang seharusnya menjadi sukacita, sekarang menjadi kesakitan dan penderitaan.
c. Manusia Akan Mencari Nafkah dengan Susah Payah Sebagai akibat bumi dikutuk oleh Tuhan, Adam harus mencari nafkah dengan susah payah seumur hidupnya (Kej. 3:19).
- Hukuman atas Ular dan Alam Semesta Selain Adam dan Hawa, ular juga mendapatkan hukuman (Kej. 4:14). Demikian juga alam semesta dan ciptaan yang lain. Manusia tidak lagi memiliki hubungan harmonis dengan alam dan binatang, malah kadang saling memusuhi dan merugikan (Kej. 3:19).
Janji Penebusan/Keselamatan Allah atas Manusia
Apakah untuk selamanya manusia dipisahkan dari Allah? Tidak.
- Dasar Alkitab
Setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak meninggalkan Adam dan Hawa, Allah justru mencari mereka. Adam dan Hawa mencoba menyembunyikan diri dari Allah, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menyembunyikan diri dari Allah. Allah, yang kudus dan benar, memang tidak dapat membiarkan dosa tidak dihukum. Namun, karena kasih-Nya, Allah memanggil Adam dan Hawa untuk kembali datang kepada-Nya (Yoh. 3:16).
- Cara Tuhan Memenuhi Kebutuhan Manusia
Setelah jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa merasa malu karena telanjang sehingga mereka mencari jalan keluar sendiri dengan membuat pakaian dari daun pohon ara dan bersembunyi (Kej. 3:7-10). Allah tahu yang mereka alami. Karena itu, Dia mencari mereka (Kej. 3:9) dan menyediakan jalan keluar yang lebih baik, yaitu dengan membuatkan pakaian dari kulit binatang (Kej. 3:21). Artinya, ada seekor binatang yang tidak bersalah yang harus mati agar kulitnya dapat menjadi pakaian bagi mereka. Jalan keluar Allah ini merupakan tindakan simbolis yang Allah tunjukkan kepada Adam dan semua orang percaya bahwa tanpa 39penumpahan darah dari orang yang tidak berdosa, tidak akan ada pengampunan dosa (Ibr. 9:22).
- Janji Anugerah Keselamatan
Allah mempunyai rencana agar manusia kembali memiliki relasi dengan Allah. Rencana itu Allah wujudkan dengan cara memberi janji keselamatan kepada manusia (Kej. 3:15). Itulah yang telah digenapi Kristus ketika Dia mati di kayu salib dan bangkit dari kubur. Kristus memulihkan hubungan yang terputus. Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Jadi, kematian-Nya di atas kayu salib adalah dasar bagi pengampunan dosa manusia. Oleh kematian-Nya, tumit-Nya diremukkan, dan ketika Dia bangkit dari kematian, kepala Iblis, yaitu sengat maut, dikalahkan (Kej. 3:15).
by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 2 Oct 2024 | Artikel, Biblika
Manusia adalah mahkota dari semua ciptaan Allah karena manusia diciptakan untuk tujuan agung yang Allah inginkan, yaitu untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam memelihara semua ciptaan Allah yang lain. Namun, sebelum mempelajari lebih lanjut tentang hubungan manusia dan Allah, mari terlebih dahulu melihat apakah manusia itu dan bagaimana Allah menciptakan mereka.
Pengertian Istilah "Adam"
Kata “adam” dalam bahasa Ibrani artinya 'manusia laki-laki', tetapi juga bisa berarti nama pribadi 'Adam', dan bisa juga sebagai 'umat manusia yang mewakili seluruh manusia'. Karenanya, mari kita melihat dengan lebih teliti penggunaan kata ini dalam Alkitab.
- "Adam" sebagai 'Manusia Laki-laki'
Dalam Kejadian pasal 1-4, penulis banyak merujuk kata "adam" untuk dua arti yang berbeda. Yang pertama, sebagai nama jenis manusia laki-laki pertama yang Tuhan ciptakan. "…. Sekarang, mari Kita membuat manusia dalam rupa Kita, menurut keserupaan Kita." (Kej. 1:26)
- Nama Pribadi Manusia Pertama “Adam”
Yang kedua, sebagai nama pribadi “Adam”, sebutan atau panggilan yang diberikan kepada manusia pertama ciptaan Tuhan. "Jadi, manusia itu memberikan nama untuk semua hewan, untuk burung-burung di udara, dan semua binatang liar di padang. Akan tetapi, bagi manusia itu (Adam), tidak ditemukan seorang penolong yang sepadan dengannya." (Kej. 2:20)
- “Adam” Mewakili Seluruh Umat Manusia
Mulai Kejadian 5, penulis kitab Kejadian memakai arti lain untuk kata ‘Adam’, yaitu 'umat manusia' (human race), baik laki-laki maupun perempuan. "…. Pada hari Allah menciptakan manusia, Dia membuatnya dalam keserupaan dengan Allah. Dia menciptakan mereka, laki-laki dan perempuan, dan Dia memberkati mereka, dan menamai mereka manusia, pada hari mereka diciptakan." (Kej. 5:1-2)
Allah Adalah Pencipta Manusia
Keberadaan manusia di atas bumi ini tidak muncul dengan sendirinya atau sebagai hasil proses evolusi dari binatang. Dengan tegas, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan manusia. Berfirmanlah Tuhan: "Sekarang, mari Kita membuat manusia …. Lalu, Allah menciptakan manusia …." (Kej. 1:26, 27) Yesus berkata, "Namun, sejak permulaan penciptaan, Allah menciptakan mereka laki-laki dan perempuan." (Mrk. 10:6)
- Bagaimana Allah Menciptakan Manusia?
Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan pada hari keenam dari seluruh rangkaian penciptaan. Manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. "Lalu, Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya. Menurut rupa Allah, Dia menciptakannya …. Inilah hari keenam" (Kej. 1:26-31). Bagaimana mereka diciptakan?
a. Diciptakan dari Debu dan Tanah (Tubuh)
Alkitab menjelaskan bahwa TUHAN Allah membentuk manusia dari debu di tanah. Inilah yang membrntuk tubuh (fisik) manusia. Kata ‘membentuk’ merupakan terjemahan dari kata Ibrani “yatsar”, yang berarti ‘memberi bentuk atau membentuk’. Penggunaan kata ini memunculkan gambaran seorang tukang periuk (potter) yang memiliki kecerdasan atau kuasa untuk membentuk karyanya.
b. Allah Menghembuskan Napas-Nya (Roh)
Setelah membentuk manusia, Allah menghembuskan napasNya (Naphes) ke dalam hidung manusia sehingga ia menjadi hidup. Ini berarti, manusia lebih dari sekedar “debu”, atau sekadar substansi 17fisik saja. Manusia memiliki roh (dari napas Allah). Inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Dan, Allah menempatkan manusia yang diciptakan-Nya itu di Taman Eden.
c. Diciptakan Serupa dan Segambar dengan Allah
Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti ada unsurunsur tertentu yang Allah ciptakan dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia itu menjadi makhluk seperti Allah. Unsurunsur tertentu tersebut di antaranya: spiritualitas, kecerdasan (kreativitas), moralitas (hati nurani) yang menyebabkan manusia bisa berpikir, memiliki hikmat, mengasihi, dan bersekutu seperti Allah Tritunggal. Namun, walaupun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, perlu diingat bahwa terdapat perbedaan kualitas antara ciptaan dan Penciptanya.
d. Tidak Baik Sendirian
Manusia pertama yang diciptakan Allah diberi nama Adam. Setelah menciptakan Adam, Tuhan memandang tidak baik jika Adam sendirian. Lalu, diciptakan-Nya seorang penolong yang sepadan dengan Adam. Ketika Tuhan membuat Adam tidur nyenyak, Tuhan mengambil salah satu dari rusuk Adam, kemudian menutup tempat itu dengan daging. Dari rusuk Adam itulah, diciptakan oleh Allah seorang perempuan, yang Adam beri nama Hawa (Kej. 2:22-24; 3:20). Demikianlah Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan.
- Allah Menciptakan Laki-laki dan Perempuan
Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memperlihatkan kebutuhan Adam untuk memiliki pasangan dengan meminta Adam menamai semua makhluk hidup lainnya (Kej. 2:19-20). Allah kemudian membuat Hawa dari tulang rusuk Adam. Ketika Adam melihatnya, dia tahu kalau Hawa ini istimewa. Allah menciptakannya dengan sangat baik dan mereka memelihara Taman Eden.
a. Memiliki Kesetaraan
Laki-laki dan perempuan diciptakan Allah dengan kesetaraan untuk saling menghormati dan saling menghargai sebagaimana dicontohkan oleh Allah Tritunggal, yang mana Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus dalam kesetaraan-Nya saling mengasihi, bekerja sama, dan berbagi hidup.
b. Perbedaan Peran Laki-laki dan Perempuan Namun, memang tidak dapat disangkal adanya perbedaan. Laki-laki diciptakan lebih dahulu daripada perempuan dan secara fisik laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Laki-laki memang diorientasikan Allah demikian karena Allah ingin laki-laki menjadi kepala sehingga ia dapat memimpin dan melindungi perempuan yang lebih lemah. Perempuan, sebagaimana dikehendaki Allah pada saat penciptaan, menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya.
c. Tugas Manusia
Allah memberikan tugas yang sederhana, tetapi juga menuntut tanggung jawab yang besar. Yang pertama, mereka harus beranak cucu dan berlipat ganda (Kej. 1:27). Dalam panggilan Allah untuk manusia berkembang biak dan memenuhi bumi ini, terdapat juga panggilan untuk manusia hidup bersosialisasi, bekerja sama, dan saling membantu sehingga tercipta persekutuan yang penuh cinta kasih sebagaimana yang Allah Tritunggal contohkan. Tugas yang kedua adalah menguasai segala yang hidup dan yang bergerak di bumi (Kej. 1:28). Manusia diciptakan sebagai ciptaan yang tertinggi karena berakhlak dan bermoral. Karena itu, kemampuan menguasai tidak seharusnya dipakai untuk menjajah dan mengeksploitasi alam ciptaan Allah. Sebaliknya, bagaimana manusia dan alam dapat berjalan secara harmonis untuk memenuhi tugas dan panggilan Penciptanya.
d. Apa Tujuan Allah Menciptakan Manusia?
Allah menciptakan manusia dengan adanya tujuan. Tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah untuk kemuliaan-Nya. Tuhan ingin manusia yang dibentuk menurut gambar dan rupa-Nya dapat bersekutu dengan-Nya dan memuliakan-Nya. Alkitab menyatakan: "… yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku …." (Yes. 43:7) "…. Segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia dan untuk Dia." (Kol. 1:16) Karena Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu, Dia juga adalah Pemilik segala sesuatu sehingga hanya Dialah yang patut atau layak dipuji dan disembah. Apakah arti penyembahan itu? Penyembahan adalah ungkapan kasih, penghormatan, dan ketaatan yang patut diberikan kepada Tuhan. Kita tidak boleh menyembah manusia, malaikat, makhluk, ataupun benda-benda lain karena mereka hanyalah ciptaan. Alkitab mengatakan: "…. 'Kamu harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada-Nya saja kamu beribadah.'" (Mat. 4:10) Ya, karena hanya Tuhanlah yang layak menerima pujian, hormat, dan kuasa (Why. 4:11).
Kondisi Adam pada Waktu Diciptakan
- Sempurna
Kita telah mempelajari bahwa Adam diciptakan oleh Allah. Alkitab menyatakan bahwa kondisi Adam waktu diciptakan dalam keadaan sangat baik (Kej. 1:31). Keadaan Adam adalah sempurna dan suci atau tanpa dosa. Namun, bukan berarti Adam diciptakan dengan kemungkinan untuk tidak bisa berbuat dosa. Allah memberikan alat pengukur yang disebut kehendak bebas dalam diri manusia yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk taat dan menyembah Allah sesuai dengan pilihan dan kerelaan hatinya. Konsekuensi logis dari memiliki kemampuan memilih membuat manusia rentan untuk berbuat dosa (tidak taat) sebagaimana Allah kehendaki.
- Hubungan yang Akrab dengan Allah
Jadi, Adam dan Hawa diciptakan dalam keadaan telanjang (Kej. 2:25), tetapi mereka tidak malu. Mereka menikmati persekutuan yang baik dengan Allah di Taman Eden. Namun, di sisi lain, Allah juga memberi mereka perintah yang sederhana untuk ditaati. Adam dan Hawa dilarang makan dari satu pohon; hanya dari satu pohon itu, dari seluruh isi Taman Eden. Dalam ketaatan mengikuti perintah Allah inilah, tergantung hubungan akrab manusia dengan Allah.
Perdebatan tentang Pembagian Natur Manusia
Dalam ilmu teologi, terdapat tiga teori tentang pembagian natur manusia, yaitu trikotomi, dikotomi, dan monokotomi. Mari kita telusuri satu per satu.
- Trikotomi
Trikotomi adalah teori yang percaya bahwa ketika diciptakan, natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh adalah unsur lahiriah manusia yang dapat dilihat, yang melaluinya manusia dapat melihat, mendengar, menyentuh, dan sebagainya. Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia terdiri dari tiga unsur utama, yaitu pikiran, emosi (perasaan), dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir. Dengan perasaannya, manusia dapat mengasihi, dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih. Roh adalah unsur yang paling dalam dari manusia yang memungkinkannya untuk bersekutu dengan Tuhan. Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandangannya pada perkataan Paulus dalam 1Tes. 5:23 dan penulis Ibrani dari Ibr. 4:12, yang secara jelas menyebutkan tiga unsur tersebut: "…. Kiranya roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara seluruhnya, tanpa cacat pada kedatangan Tuhan kita, Kristus Yesus." (1Tes. 5:23) "Sebab, firman Allah … menusuk jauh sampai memisahkan jiwa dan roh, antara sendi dan tulang sumsum, …" (Ibr. 4:12)
- Dikotomi
Dikotomi adalah teori yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari dua bagian saja, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Penganut teori ini percaya bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Allah hanya memerlukan dua bagian, tubuh manusia (jasmani yang kelihatan) dan embusan napas Allah (roh yang tidak kelihatan), lalu manusia menjadi hidup (Kej. 2:7). Alkitab sendiri memakai istilah jiwa dan roh bukan sebagai dua substansi yang berbeda, tetapi sering dipakai secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat. 6:25; 10:28 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pkh. 12:7; 1Kor. 5:3,5 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya adalah Kej. 41:8; Mzm. 42:6; Mat. 20:28; 27:50; Yoh. 12:27; Ibr. 12:23; Why. 6:9. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti dalam 1Tes. 5:23 dan Ibr. 4:12, tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika ditafsirkan demikian, manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi, melainkan lebih, misalnya dalam Mat. 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati, jiwa, dan akal budi (pikiran).
- Monokotomi
Monokotomi adalah teori yang percaya bahwa manusia adalah pribadi yang utuh yang tidak terpisahkan. Manusia tidak akan bisa ada/hidup tanpa tubuh atau jiwa/rohnya. Tubuh tidak akan bisa hidup tanpa jiwa/roh, demikian juga sebaliknya. Menurut teori ini, istilah Alkitab "jiwa" dan "roh" hanyalah ekspresi lain dari pribadi atau hidup manusia itu sendiri.