Menghindari Utang dalam Perspektif Kristen

Menghindari Utang dalam Perspektif Kristen

Utang dapat menjadi beban yang berat dan mengganggu kesejahteraan finansial serta spiritual. Dalam perspektif Kristen, menghindari utang yang tidak perlu adalah prinsip penting yang diajarkan dalam Alkitab. Ajaran ini menekankan pentingnya hidup bebas dari utang agar kita dapat hidup lebih damai dan fokus pada pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

Pertama, Alkitab mengingatkan kita bahwa “orang yang berhutang adalah hamba dari orang yang memberi pinjaman” (Amsal 22:7). Ini menunjukkan bahwa utang dapat membatasi kebebasan kita dan membuat kita terikat pada kewajiban finansial yang berat. Dengan menghindari utang, kita dapat menjaga kebebasan kita dan menghindari stres yang disebabkan oleh beban finansial.

Kedua, menghindari utang memungkinkan kita untuk mengelola keuangan dengan lebih bijak. Dengan tidak terjebak dalam utang, kita dapat lebih fokus pada pengelolaan sumber daya yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ini termasuk membuat anggaran yang realistis, menabung untuk masa depan, dan memberikan persembahan serta sumbangan dengan hati yang tulus.

Ketiga, hidup bebas dari utang memungkinkan kita untuk lebih fokus pada pelayanan dan misi Kristen. Dengan tidak terbebani oleh utang, kita dapat lebih leluasa dalam memberikan waktu, tenaga, dan sumber daya untuk melayani Tuhan dan membantu sesama. Ini juga membantu kita untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab dan menjadi teladan bagi orang lain.

Dengan demikian, menghindari utang adalah langkah penting dalam manajemen keuangan Kristen. Ini membantu kita untuk hidup lebih damai, mengelola keuangan dengan bijak, dan fokus pada pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Dengan mengikuti prinsip ini, kita dapat memuliakan Tuhan melalui setiap keputusan finansial yang kita buat.

Pentingnya Anggaran dalam Kehidupan Kristen

Pentingnya Anggaran dalam Kehidupan Kristen

Membuat anggaran adalah langkah penting dalam manajemen keuangan yang bijak, terutama dalam perspektif Kristen. Anggaran membantu kita mengatur pengeluaran dan memastikan bahwa uang digunakan sesuai dengan prioritas yang benar. Dalam konteks Kristen, anggaran juga mencakup alokasi dana untuk persembahan dan sumbangan, yang merupakan bagian dari tanggung jawab spiritual kita.

Pertama, anggaran memungkinkan kita untuk melihat gambaran keseluruhan dari keuangan kita. Dengan mengetahui berapa banyak uang yang masuk dan keluar setiap bulan, kita dapat membuat keputusan yang lebih bijak tentang bagaimana mengelola sumber daya yang telah Tuhan berikan kepada kita. Ini juga membantu kita menghindari pengeluaran yang tidak perlu dan memastikan bahwa kita hidup sesuai dengan kemampuan kita.

Kedua, anggaran membantu kita untuk tetap setia dalam memberikan persembahan dan sumbangan. Alkitab mengajarkan bahwa memberi adalah bagian penting dari kehidupan Kristen. Dengan memasukkan persembahan dan sumbangan dalam anggaran kita, kita memastikan bahwa kita tidak mengabaikan tanggung jawab ini. Ini juga membantu kita untuk memberi dengan hati yang tulus dan sukacita, karena kita telah merencanakannya dengan baik.

Ketiga, anggaran membantu kita untuk menabung dan mempersiapkan masa depan. Menabung adalah tindakan yang bijaksana dan penuh perencanaan, seperti yang diajarkan dalam Alkitab. Dengan memiliki anggaran, kita dapat menyisihkan sebagian dari pendapatan kita untuk tabungan, sehingga kita siap menghadapi situasi darurat dan kebutuhan masa depan.

Dengan demikian, membuat anggaran adalah langkah penting dalam manajemen keuangan Kristen. Ini membantu kita untuk hidup dengan bijak, setia dalam memberi, dan siap menghadapi masa depan, semuanya dengan tujuan memuliakan Tuhan melalui pengelolaan keuangan kita.

Prinsip Dasar Manajemen Keuangan Kristen

Prinsip Dasar Manajemen Keuangan Kristen

Manajemen keuangan dalam perspektif Kristen berfokus pada penggunaan sumber daya dengan bijak sesuai dengan ajaran Alkitab. Prinsip dasar ini meliputi beberapa aspek penting yang dapat membantu umat Kristen mengelola keuangan mereka dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Pertama, integritas dalam pengelolaan uang sangat ditekankan. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus jujur dan transparan dalam semua transaksi keuangan. Ini berarti menghindari praktik-praktik yang tidak etis dan selalu berusaha untuk melakukan yang benar, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

Kedua, menghindari utang yang tidak perlu adalah prinsip penting lainnya. Utang dapat menjadi beban yang mengganggu kesejahteraan finansial dan spiritual. Alkitab menyarankan agar kita hidup bebas dari utang, karena “orang yang berhutang adalah hamba dari orang yang memberi pinjaman” (Amsal 22:7). Dengan menghindari utang, kita dapat hidup lebih damai dan fokus pada pelayanan kepada Tuhan dan sesama.

Ketiga, memberikan persembahan kepada gereja dan amal adalah bagian integral dari manajemen keuangan Kristen. Memberi adalah bentuk ibadah dan ungkapan syukur atas berkat yang telah kita terima. Alkitab mengajarkan bahwa kita harus memberi dengan hati yang tulus dan sukacita, karena “Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:7).

Dengan mengikuti prinsip-prinsip ini, umat Kristen dapat mengelola keuangan mereka dengan bijak dan memuliakan Tuhan melalui setiap keputusan finansial yang mereka buat. Manajemen keuangan yang baik tidak hanya membawa kesejahteraan materi, tetapi juga kedamaian dan kepuasan spiritual.

Bagaimana Mengelola Keuangan Keluarga Menurut Alkitab?

Bagaimana Mengelola Keuangan Keluarga Menurut Alkitab?

Secara langsung, Alkitab tidak menunjuk siapakah yang mengelola keluarga keluarga, namun ada prinsip yang diajarkan tentang dinamika hubungan antara suami dan istri dalam semua aspek pernikahan. Dalam kata lain, prinsip yang Tuhan ajarkan dalam Efesus 5:22-33 dan Kolose 3:18-19 dapat diterapkan pada setiap bagian hubungan suami istri. Ini berarti bahwa keseimbangan rohani dalam hubungan suami istri dipengaruhi secara langsung oleh hubungan antara setiap pasangan secara pribadi dengan Allah. Dalam setiap hubungan ada berkat dan penderitaan yang datang akibat keterhubungan mereka, dan prinsip ini digerakkan oleh ketaatan setiap pihak kepada Tuhan.

Baik suami maupun istri membawa kelebihan dan kekurangan mereka ke dalam pernikahan. Membentuk sifat-sifat ini supaya berguna dalam hubungan suami istri tergantung pada pengertian tentang Allah serta kasih karunia-Nya. Keputusan ekonomi yang dapat mempengaruhi kesuksesan keluarga merupakan tanggung-jawab bersama. Darimanapun juga sumber kekayaan mereka, baik melalui pemeliharaan Allah dalam pekerjaan sang suami atau istri atau keduanya, semua aset tersebut merupakan tanggung-jawab keduanya sebagai satu tim. Prinsip yang penting dalam mengambil keputusan ekonomi adalah melakukan "semuanya itu untuk kemuliaan Allah" (1 Korintus 10:31; Roma 14:8; Kolose 3:23-24).

Adapun pengertian yang menempel pada pernikahan Kristen, yakni, bahwa suami adalah otoritas tertinggi dalam keluarga. Ia bertanggung-jawab pada Allah untuk memimpin dan menggembalakan keluarganya, sedangkan istrinya bertanggung-jawab untuk tunduk kepadanya dan membantunya. Dalam hal keuangan rumah tangga, ini mungkin berarti bahwa suami menguasai tabungan mereka, melunasi semua tagihan, dan mengelola keuangan serta berinvestasi dan menyumbang; secara bersamaan meminta nasehat dari istrinya sebelum mengambil keputusan final. Mungkin juga dapat ditafsirkan bahwa ia mendelegasikan tugas ini kepada istrinya, terutama jika istrinya mampu dan senang mengerjakan hal itu. Akan tetapi sang suami masih bertanggung-jawab mengawasi proses tersebut. Pada akhirnya, suami istri yang bekerjasama dalam mengelola keuangan keluarga dapat berkomunikasi dengan baik dan saling menghormati.

Pada akhirnya dalam hal keuangan rumah tangga, kita diberi prinsip dalam Lukas 6:38 bahwa semakin kita memberi maka semakin besar berkatnya. Ini berarti ada hubungan antara pemberian kepada Tuhan dan berkat yang kita terima kembali, baik secara rohani maupun secara keuangan. Kita tidak mungkin memberi lebih banyak daripada Tuhan. Semakin kita setia mengembalikan harta kita pada Tuhan, semakin kita menyadari bahwa yang kita simpan telah berlipat ganda, dan lebih dari cukup.

[BTS] I Have Decided To Follow Jesus

[BTS] I Have Decided To Follow Jesus

Sebuah karya menjadi sangat bermakna jika dihasilkan dengan kesungguhan dan keseriusan. Cerita dan motivasi di balik suatu karya memberikan makna mendalam, bukan hanya bagi penciptanya, tetapi juga bagi yang menikmatinya. Hal ini jelas terlihat dalam lagu himne yang terkenal dan sering dinyanyikan di gereja-gereja di seluruh dunia, “I Have Decided to Follow Jesus”.

Cerita di balik lagu ini terjadi pada tahun 1800-an di Assam, India. Saat itu, terjadi kebangkitan rohani besar-besaran di Eropa yang mengirim banyak misionaris ke seluruh dunia. Beberapa misionaris Inggris tiba di Assam, sebuah daerah yang penuh tantangan. Penduduk Assam terdiri dari beberapa suku primitif yang mempraktikkan kanibalisme dan memiliki tradisi mengerikan, seperti mengumpulkan kepala manusia sebagai simbol status sosial.

Di tengah kebrutalan ini, para misionaris memberitakan Injil dengan tekad kuat. Meskipun awalnya ditolak, pesan mereka mulai meresap. Sebuah keluarga dari suku Garo menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Mereka, yang terdiri dari Nokseng, istrinya, dan dua anaknya, membawa dampak besar, sehingga banyak keluarga lain mengikuti jejak mereka.

Kemudian, kepala suku yang marah mengadili Nokseng dan keluarganya di hadapan masyarakat. Dalam ancaman kematian, Nokseng dengan teguh menyatakan, “I have decided to follow Jesus. No turning back.” Anak-anaknya dibunuh, namun ia tetap teguh. Saat istrinya diancam, ia berkata, “Though none go with me, still I will follow. No turning back.” Istrinya pun dibunuh. Diberi kesempatan terakhir untuk hidup jika meninggalkan imannya, Nokseng dengan tegas menjawab, “The cross before me, the world behind me. No turning back. No turning back.” Dan kemudian, ia dibunuh.

Pengorbanan Nokseng dan keluarganya mengguncang hati kepala suku. Ia mulai mempertanyakan kekuatan iman yang membuat seseorang rela mati. Penasarannya membawanya kepada Kristus. Setelah membaca Injil, ia mengumumkan imannya di depan rakyatnya, yang kemudian mengikuti jejaknya. Kekristenan pun berkembang pesat di Assam. Hari ini, Meghalaya di timur laut India adalah salah satu dari tiga negara bagian di India dengan mayoritas Kristen, dengan hampir sembilan puluh persen suku Garo memeluk iman Kristen.

Kata-kata Nokseng diabadikan dalam lagu himne indah oleh misionaris India, Sadhu Sundar Singh, dan diaransemen oleh komposer Amerika, William Reynolds. Lagu ini digunakan oleh Billy Graham dalam banyak kebaktian kebangunannya di seluruh dunia, dan hingga kini gereja-gereja terus menyanyikan “I Have Decided to Follow Jesus”.

Kesaksian ini mengingatkan kita bahwa mengikuti Tuhan bukanlah hal mudah. Satu benih yang mati bisa menghidupkan jutaan benih lainnya. Tantangan dalam setiap zaman mungkin berbeda, tetapi prinsipnya sama: tetaplah teguh dalam iman kepada Yesus. Semoga kita diberi kekuatan untuk memegang teguh iman kita hingga akhir hidup kita. Amin.

Versi Indonesia (Mengikut Yesus Keputusanku)

BAIT 1

Mengikut Yesus keputusanku,
Mengikut Yesus keputusanku,
Mengikut Yesus keputusanku.
‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

BAIT 2

Walau sendiri ‘kuikut Yesus,
Walau sendiri ‘kuikut Yesus,
Walau sendiri ‘kuikut Yesus.
‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

BAIT 3

Dunia di b’lakang salib di depan,
Dunia di b’lakang salib di depan,
Dunia di b’lakang salib di depan.
‘Ku tak ingkar, ‘Ku tak ingkar.

BAIT 4

Maukah engkau mengikut Yesus,
Maukah engkau mengikut Yesus,
Maukah engkau mengikut Yesus.
Selamanya, selamanya.

Versi English (I Have Decided To Follow Jesus)

BAIT 1

I have decided, to follow Jesus,
I have decided, to follow Jesus,
I have decided, to follow Jesus,
No turning back, no turning back!

BAIT 2

Though I may wander, I still will follow,
Though I may wander, I still will follow,
Though I may wander, I still will follow,
No turning back, no turning back!

BAIT 3

The world behind me, the cross before me,
The world behind me, the cross before me,
The world behind me, the cross before me,
No turning back, no turning back!

BAIT 4

Though none go with me, still I will follow,
Though none go with me, still I will follow,
Though none go with me, still I will follow,
No turning back, no turning back!

BAIT 5

Will you decide now, to follow Jesus?
Will you decide now, to follow Jesus?
Will you decide now, to follow Jesus?
No turning back, no turning back!

Kejatuhan Manusia

Kejatuhan Manusia

Ketika diciptakan, Adam suci karena tidak berdosa. Namun, Adam diciptakan dengan kondisi dapat berbuat dosa. Apabila Adam memilih untuk terus taat kepada Tuhan, Adam tidak akan berdosa. Dalam hal inilah, banyak orang Kristen menyalahkan Tuhan dengan berkata, "Seharusnya Allah menciptakan Adamdengan kondisi tidak dapat berbuat dosa." Mari kita selidiki lebih dalam.

Pengertian Dosa

Konsep dosa merupakan salah satu ajaran yang dibahas secara panjang lebar dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama (PL) maupun Perjanjian Baru (PB).

  1. Definisi Dosa
    Dalam PL, setidaknya ada 8 kata dasar yang merujuk pada pengertian dosa ("khata", "ra", "pasha", "awon", "shagag", "asham", "rasha", dan "taah"). Jika ditarik kesimpulan, dosa dalam PL adalah hal yang bertentangan dengan norma, dan pada dasarnya merupakan ketidaktaatan kepada Allah. Tindakan dosa bukan hanya perbuatan yang tidak mencapai sasaran, tetapi juga tindakan yang mencapai sasaran yang keliru. Dalam PB, setidaknya ada 12 kata dasar yang menjelaskan pengertian dosa, yaitu: "kakos", "poneros", "asebes", "enokhos", "hamartia", "adikia", "anomos", "parabates", "agnoein", "planao", "paraptoma", dan "hipokrisis". Jika ditarik kesimpulan, dosa dalam PB adalah pemberontakan secara aktif terhadap Allah. Dosa berarti tidak mencapai sasaran, pemberontakan, memilih jalan yang tidak benar, kejahatan, pelanggaran terhadap hukum, dll.. Secara ringkas, dosa diartikan sebagai pelanggaran terhadap hukum Allah (1Yoh. 3:4). Jadi, sifat utama dosa terletak pada arah yang bertentangan dengan Allah (Rm. 3:23).
  2. Asal-Usul Dosa
    Sudah sejak awal sejarah peradaban, manusia memperdebatkan pertanyaan dari mana datangnya kejahatan dan dosa di dunia. Sebagai orang percaya, kita tahu bahwa dosa sebelumnya tidak ada dan bukan Allah yang menciptakan dosa. Sebab Alkitab sangat jelas mengungkapkan bahwa Allah itu suci dan segala sesuatu yang Tuhan ciptakan itu baik dan sempurna adanya (Kej. 1:31). Dosa berasal dari hati Lucifer. Lucifer adalah makhluk malaikat yang diciptakan Tuhan dengan berbagai kelebihan. Namun, hal itu membuatnya sombong dan ingin menjadi Tuhan sehingga dia memberontak melawan Tuhan (Yeh. 28:15-17; Yes. 14:1314) sehingga Tuhan mencopot jabatannya di surga dan mengusirnya ke dunia. Namanya diganti menjadi Iblis atau Setan, dan melaluinya, segala jenis dosa dan kejahatan ada di dunia ini. Pekerjaan Setan sekarang adalah menggoda manusia untuk jatuh ke dalam dosa dan menjadikan mereka pengikut Setan.

Bagaimana Manusia Jatuh ke dalam Dosa?

Ketika menciptakan manusia, Adam dan Hawa, Allah rindu agar manusia memiliki relasi yang harmonis dan akrab dengan Allah. Itu sebabnya, Allah membawa manusia untuk hidup berdampingan dengan-Nya di Taman Eden yang indah agar manusia mengalami kebahagiaan yang penuh bersama Allah. Untuk itu, Adam dan Hawa harus memercayai dan mengasihi Allah sehingga mereka dapat hidup berdampingan dengan Allah. Ini bukan suatu paksaan, melainkan kerelaan. Bagaimana Allah menguji bahwa Adam dan Hawa memercayai dan mengasihi Allah?

  1. Larangan Tuhan kepada Adam di Taman Eden
    Setelah menciptakan Adam dan Hawa, Tuhan menempatkan mereka di Taman Eden yang indah dan memberi mereka tanggung jawab untuk memeliharanya. Ada banyak jenis pohon di taman itu, dan Adam dan Hawa diperbolehkan makan buah apa pun dari semua pohon di taman itu, kecuali buah dari satu pohon yang disebut "pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat". Allah dengan jelas memberi peringatan dan larangan agar mereka tidak memakan buah dari pohon tersebut (Kej. 2:17).
  2. Setan Memperdaya Hawa dan Menjerumuskan Adam
    Pada suatu ketika, Setan dalam wujud ular masuk ke dalam taman dan Hawa memberi kesempatan kepada Setan untuk bercakap-cakap dengannya. Setan bertanya, "Apakah Allah benar-benar berfirman, ‘Kamu tidak boleh makan dari pohon mana pun di taman ini?'" (Kej. 3:1). Pertanyaan ini kedengarannya tidak berbahaya, tetapi Setan memiliki niat jahat. Hawa menjawab, "…. Kami boleh makan buah dari pohonpohon di dalam taman, tetapi dari buah pohon yang ada di tengah taman, Allah telah berfirman, ‘Kamu tidak boleh memakannya, kamu juga tidak boleh menyentuhnya, nanti kamu akan mati'" (Kej. 3:2, 3). Perkataan yang diucapkan Setan selanjutnya kepada Hawa adalah dusta belaka (Kej. 3:4, 5). Perkataan Setan itu meracuni pikiran dan hati manusia untuk meragukan Tuhan yang seakan-akan menyembunyikan sesuatu dari Adam dan Hawa. Setan membuat Hawa memakan buah itu karena dia ingin menjadi seperti Allah. Ketika Allah berkata, "Pastilah engkau mati," Setan berkata, "Kamu tidak akan mati." Seperti yang kita ketahui, Hawa memilih untuk memercayai Setan! Rencana Setan berhasil. Hawa tertipu dan memercayai dusta Setan. Bagaimana bisa? Hawa tertipu karena lebih memercayai Setan daripada perkataan Allah. Kita pun akan tertipu apabila kita tidak memercayai firman Allah. Rencana jahat Setan tidak hanya berhenti di situ. Setan menunggu Hawa menularkan tipuan itu kepada Adam. Strategi Setan untuk berbicara dengan Hawa dahulu sangatlah hebat karena Hawa dengan mudah dapat mencapai Adam daripada Setan. Sekalipun Adam tahu apa yang Allah katakan kepadanya, bahkan tahu akibat dari memakan buah itu, yaitu kematian, hati Adam telah tertular dengan keinginan untuk menjadi seperti Allah. Bukannya mendapatkan kuasa, Adam justru tertipu dan jatuh ke dalam dosa. Inilah pemberontakan manusia pertama terhadap Allah, Sang Pencipta.
  3. Kehendak Bebas
    Manusia Mengapa Allah tidak menciptakan manusia dengan kondisi tidak dapat berbuat dosa? Karena Allah tidak membuat manusia robot. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Karena itu, manusia memiliki kemampuan intelektual untuk berpikir dan membuat pilihan bebas. Allah ingin manusia dengan kerelaan hatinya melakukan 36apa yang diperintahkan Tuhan dengan hati yang penuh syukur dan taat. Oleh karena itu, diberikanlah kehendak bebas kepada manusia supaya manusia dapat membuat keputusan sendiri bahwa dengan rela hati dia memercayai dan mengasihi Allah.
  4. Adam Menciptakan Dosa Asal bagi Seluruh Umat Manusia
    Karena Adam adalah manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, ketika dia jatuh ke dalam dosa, seluruh keturunannya pun menanggung akibat dari kejatuhan ini (Ef. 2:3; Rm. 6:20; 7:20). Anak Adam akan lahir dengan warisan dosa dari Adam, yang selanjutnya akan diturunkan lagi ke semua anak-anaknya yang lain, sampai kepada semua keturunannya hingga hari ini. Ini merupakan suatu akibat yang sangat mengerikan karena berarti seluruh umat manusia yang lahir di dunia tidak ada yang terlahir tanpa dosa; semua sudah mewarisi dosa dari Adam. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Kejadian 5:2 bahwa dari Adam, lahirlah seorang anak laki-laki yang "segambar" dengan Adam.

Hukuman atas Dosa

Setiap perbuatan memiliki konsekuensi, terlebih perbuatan dosa yang sudah dilakukan oleh Adam. Alkitab berkata, "… upah dosa ialah maut …" (Rm. 6:23). Apa artinya?

  1. Hukuman Kematian
    Akibat dari ketidaktaatan Adam adalah kematian! Namun, mengapa Adam tidak langsung mati pada saat dia memakan buah terlarang itu? Dalam Alkitab, ada tiga macam kematian yang disebutkan.
    a. Kematian Rohani Ini artinya terpisahnya roh manusia dengan Roh Allah. Dosa membuat manusia hidup terpisah dari Allah. Akibat dari ketidaktaatannya, Adam, seketika itu juga, tidak dapat lagi hidup berdampingan dengan Allah karena Allah membenci dosa dan Dia suci adanya.
    b. Kematian Jasmani Ini artinya terpisahnya tubuh dengan roh manusia. Dosa akan mengakibatkan kematian jasmani, walaupun tidak seketika itu juga. Itu sebabnya, Adam tidak langsung mengalami kematian jasmani saat dia memakan buah terlarang. Dia masih hidup untuk beberapa ratus tahun lagi sebelum akhirnya mengalami kematian tubuh.
    c. Kematian Kekal Ini artinya terpisahnya roh manusia dengan Roh Allah selamalamanya dalam penghukuman kekal. Hal ini akan terjadi jika manusia menolak Injil dan menolak keselamatan yang diberikan Allah melalui penebusan oleh Tuhan Yesus Kristus.
  2. Merasa Malu dan Takut
    Hal inilah yang pertama kali disadari oleh Adam dan Hawa saat mereka jatuh ke dalam dosa, yaitu mereka merasa malu karena mendapati diri mereka telanjang (Kej. 3:7). Mereka juga diliputi rasa bersalah dan takut sehingga mereka menyembunyikan diri dan tidak ingin bertemu dengan Allah. Mengapa mereka tidak merasa malu dan takut sebelumnya? Karena mereka telah kehilangan kemuliaan Allah yang selama ini menjadi pakaian dan perlindungan mereka.
  3. Diusir dari Taman Eden dan Mengalami Kesulitan Hidup
    a. Diusir dari Taman Eden Adam dan Hawa diusir oleh Tuhan dari Taman Eden (Kej. 3:23) karena mereka harus berpisah dari Allah dan kehilangan hak istimewa kedekatan relasi dengan Allah.
    b. Hawa Harus Melahirkan Keturunan dengan Kesakitan Kejadian 3:16 mengatakan: "… susah payahmu ketika mengandung; dalam kesakitan kamu akan melahirkan anak-anak …." Sesuatu yang seharusnya menjadi sukacita, sekarang menjadi kesakitan dan penderitaan.
    c. Manusia Akan Mencari Nafkah dengan Susah Payah Sebagai akibat bumi dikutuk oleh Tuhan, Adam harus mencari nafkah dengan susah payah seumur hidupnya (Kej. 3:19).
  4. Hukuman atas Ular dan Alam Semesta Selain Adam dan Hawa, ular juga mendapatkan hukuman (Kej. 4:14). Demikian juga alam semesta dan ciptaan yang lain. Manusia tidak lagi memiliki hubungan harmonis dengan alam dan binatang, malah kadang saling memusuhi dan merugikan (Kej. 3:19).

Janji Penebusan/Keselamatan Allah atas Manusia

Apakah untuk selamanya manusia dipisahkan dari Allah? Tidak.

  1. Dasar Alkitab
    Setelah jatuh ke dalam dosa, Tuhan tidak meninggalkan Adam dan Hawa, Allah justru mencari mereka. Adam dan Hawa mencoba menyembunyikan diri dari Allah, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menyembunyikan diri dari Allah. Allah, yang kudus dan benar, memang tidak dapat membiarkan dosa tidak dihukum. Namun, karena kasih-Nya, Allah memanggil Adam dan Hawa untuk kembali datang kepada-Nya (Yoh. 3:16).
  2. Cara Tuhan Memenuhi Kebutuhan Manusia
    Setelah jatuh ke dalam dosa, Adam dan Hawa merasa malu karena telanjang sehingga mereka mencari jalan keluar sendiri dengan membuat pakaian dari daun pohon ara dan bersembunyi (Kej. 3:7-10). Allah tahu yang mereka alami. Karena itu, Dia mencari mereka (Kej. 3:9) dan menyediakan jalan keluar yang lebih baik, yaitu dengan membuatkan pakaian dari kulit binatang (Kej. 3:21). Artinya, ada seekor binatang yang tidak bersalah yang harus mati agar kulitnya dapat menjadi pakaian bagi mereka. Jalan keluar Allah ini merupakan tindakan simbolis yang Allah tunjukkan kepada Adam dan semua orang percaya bahwa tanpa 39penumpahan darah dari orang yang tidak berdosa, tidak akan ada pengampunan dosa (Ibr. 9:22).
  3. Janji Anugerah Keselamatan
    Allah mempunyai rencana agar manusia kembali memiliki relasi dengan Allah. Rencana itu Allah wujudkan dengan cara memberi janji keselamatan kepada manusia (Kej. 3:15). Itulah yang telah digenapi Kristus ketika Dia mati di kayu salib dan bangkit dari kubur. Kristus memulihkan hubungan yang terputus. Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (Yoh. 1:29). Jadi, kematian-Nya di atas kayu salib adalah dasar bagi pengampunan dosa manusia. Oleh kematian-Nya, tumit-Nya diremukkan, dan ketika Dia bangkit dari kematian, kepala Iblis, yaitu sengat maut, dikalahkan (Kej. 3:15).