by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 2 Oct 2024 | Artikel, Biblika
Manusia adalah mahkota dari semua ciptaan Allah karena manusia diciptakan untuk tujuan agung yang Allah inginkan, yaitu untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam memelihara semua ciptaan Allah yang lain. Namun, sebelum mempelajari lebih lanjut tentang hubungan manusia dan Allah, mari terlebih dahulu melihat apakah manusia itu dan bagaimana Allah menciptakan mereka.
Pengertian Istilah "Adam"
Kata “adam” dalam bahasa Ibrani artinya 'manusia laki-laki', tetapi juga bisa berarti nama pribadi 'Adam', dan bisa juga sebagai 'umat manusia yang mewakili seluruh manusia'. Karenanya, mari kita melihat dengan lebih teliti penggunaan kata ini dalam Alkitab.
- "Adam" sebagai 'Manusia Laki-laki'
Dalam Kejadian pasal 1-4, penulis banyak merujuk kata "adam" untuk dua arti yang berbeda. Yang pertama, sebagai nama jenis manusia laki-laki pertama yang Tuhan ciptakan. "…. Sekarang, mari Kita membuat manusia dalam rupa Kita, menurut keserupaan Kita." (Kej. 1:26)
- Nama Pribadi Manusia Pertama “Adam”
Yang kedua, sebagai nama pribadi “Adam”, sebutan atau panggilan yang diberikan kepada manusia pertama ciptaan Tuhan. "Jadi, manusia itu memberikan nama untuk semua hewan, untuk burung-burung di udara, dan semua binatang liar di padang. Akan tetapi, bagi manusia itu (Adam), tidak ditemukan seorang penolong yang sepadan dengannya." (Kej. 2:20)
- “Adam” Mewakili Seluruh Umat Manusia
Mulai Kejadian 5, penulis kitab Kejadian memakai arti lain untuk kata ‘Adam’, yaitu 'umat manusia' (human race), baik laki-laki maupun perempuan. "…. Pada hari Allah menciptakan manusia, Dia membuatnya dalam keserupaan dengan Allah. Dia menciptakan mereka, laki-laki dan perempuan, dan Dia memberkati mereka, dan menamai mereka manusia, pada hari mereka diciptakan." (Kej. 5:1-2)
Allah Adalah Pencipta Manusia
Keberadaan manusia di atas bumi ini tidak muncul dengan sendirinya atau sebagai hasil proses evolusi dari binatang. Dengan tegas, Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendirilah yang menciptakan manusia. Berfirmanlah Tuhan: "Sekarang, mari Kita membuat manusia …. Lalu, Allah menciptakan manusia …." (Kej. 1:26, 27) Yesus berkata, "Namun, sejak permulaan penciptaan, Allah menciptakan mereka laki-laki dan perempuan." (Mrk. 10:6)
- Bagaimana Allah Menciptakan Manusia?
Alkitab menjelaskan bahwa manusia diciptakan Tuhan pada hari keenam dari seluruh rangkaian penciptaan. Manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. "Lalu, Allah menciptakan manusia menurut rupa-Nya. Menurut rupa Allah, Dia menciptakannya …. Inilah hari keenam" (Kej. 1:26-31). Bagaimana mereka diciptakan?
a. Diciptakan dari Debu dan Tanah (Tubuh)
Alkitab menjelaskan bahwa TUHAN Allah membentuk manusia dari debu di tanah. Inilah yang membrntuk tubuh (fisik) manusia. Kata ‘membentuk’ merupakan terjemahan dari kata Ibrani “yatsar”, yang berarti ‘memberi bentuk atau membentuk’. Penggunaan kata ini memunculkan gambaran seorang tukang periuk (potter) yang memiliki kecerdasan atau kuasa untuk membentuk karyanya.
b. Allah Menghembuskan Napas-Nya (Roh)
Setelah membentuk manusia, Allah menghembuskan napasNya (Naphes) ke dalam hidung manusia sehingga ia menjadi hidup. Ini berarti, manusia lebih dari sekedar “debu”, atau sekadar substansi 17fisik saja. Manusia memiliki roh (dari napas Allah). Inilah yang membedakan manusia dengan ciptaan lainnya. Dan, Allah menempatkan manusia yang diciptakan-Nya itu di Taman Eden.
c. Diciptakan Serupa dan Segambar dengan Allah
Diciptakan menurut gambar dan rupa Allah berarti ada unsurunsur tertentu yang Allah ciptakan dalam diri manusia, yang menyebabkan manusia itu menjadi makhluk seperti Allah. Unsurunsur tertentu tersebut di antaranya: spiritualitas, kecerdasan (kreativitas), moralitas (hati nurani) yang menyebabkan manusia bisa berpikir, memiliki hikmat, mengasihi, dan bersekutu seperti Allah Tritunggal. Namun, walaupun manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, perlu diingat bahwa terdapat perbedaan kualitas antara ciptaan dan Penciptanya.
d. Tidak Baik Sendirian
Manusia pertama yang diciptakan Allah diberi nama Adam. Setelah menciptakan Adam, Tuhan memandang tidak baik jika Adam sendirian. Lalu, diciptakan-Nya seorang penolong yang sepadan dengan Adam. Ketika Tuhan membuat Adam tidur nyenyak, Tuhan mengambil salah satu dari rusuk Adam, kemudian menutup tempat itu dengan daging. Dari rusuk Adam itulah, diciptakan oleh Allah seorang perempuan, yang Adam beri nama Hawa (Kej. 2:22-24; 3:20). Demikianlah Tuhan menciptakan manusia laki-laki dan perempuan.
- Allah Menciptakan Laki-laki dan Perempuan
Alkitab menunjukkan kepada kita bagaimana Allah memperlihatkan kebutuhan Adam untuk memiliki pasangan dengan meminta Adam menamai semua makhluk hidup lainnya (Kej. 2:19-20). Allah kemudian membuat Hawa dari tulang rusuk Adam. Ketika Adam melihatnya, dia tahu kalau Hawa ini istimewa. Allah menciptakannya dengan sangat baik dan mereka memelihara Taman Eden.
a. Memiliki Kesetaraan
Laki-laki dan perempuan diciptakan Allah dengan kesetaraan untuk saling menghormati dan saling menghargai sebagaimana dicontohkan oleh Allah Tritunggal, yang mana Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus dalam kesetaraan-Nya saling mengasihi, bekerja sama, dan berbagi hidup.
b. Perbedaan Peran Laki-laki dan Perempuan Namun, memang tidak dapat disangkal adanya perbedaan. Laki-laki diciptakan lebih dahulu daripada perempuan dan secara fisik laki-laki lebih kuat daripada perempuan. Laki-laki memang diorientasikan Allah demikian karena Allah ingin laki-laki menjadi kepala sehingga ia dapat memimpin dan melindungi perempuan yang lebih lemah. Perempuan, sebagaimana dikehendaki Allah pada saat penciptaan, menjadi penolong yang sepadan bagi suaminya.
c. Tugas Manusia
Allah memberikan tugas yang sederhana, tetapi juga menuntut tanggung jawab yang besar. Yang pertama, mereka harus beranak cucu dan berlipat ganda (Kej. 1:27). Dalam panggilan Allah untuk manusia berkembang biak dan memenuhi bumi ini, terdapat juga panggilan untuk manusia hidup bersosialisasi, bekerja sama, dan saling membantu sehingga tercipta persekutuan yang penuh cinta kasih sebagaimana yang Allah Tritunggal contohkan. Tugas yang kedua adalah menguasai segala yang hidup dan yang bergerak di bumi (Kej. 1:28). Manusia diciptakan sebagai ciptaan yang tertinggi karena berakhlak dan bermoral. Karena itu, kemampuan menguasai tidak seharusnya dipakai untuk menjajah dan mengeksploitasi alam ciptaan Allah. Sebaliknya, bagaimana manusia dan alam dapat berjalan secara harmonis untuk memenuhi tugas dan panggilan Penciptanya.
d. Apa Tujuan Allah Menciptakan Manusia?
Allah menciptakan manusia dengan adanya tujuan. Tujuan Tuhan menciptakan manusia adalah untuk kemuliaan-Nya. Tuhan ingin manusia yang dibentuk menurut gambar dan rupa-Nya dapat bersekutu dengan-Nya dan memuliakan-Nya. Alkitab menyatakan: "… yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku …." (Yes. 43:7) "…. Segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia dan untuk Dia." (Kol. 1:16) Karena Tuhan adalah Pencipta segala sesuatu, Dia juga adalah Pemilik segala sesuatu sehingga hanya Dialah yang patut atau layak dipuji dan disembah. Apakah arti penyembahan itu? Penyembahan adalah ungkapan kasih, penghormatan, dan ketaatan yang patut diberikan kepada Tuhan. Kita tidak boleh menyembah manusia, malaikat, makhluk, ataupun benda-benda lain karena mereka hanyalah ciptaan. Alkitab mengatakan: "…. 'Kamu harus menyembah Tuhan Allahmu dan kepada-Nya saja kamu beribadah.'" (Mat. 4:10) Ya, karena hanya Tuhanlah yang layak menerima pujian, hormat, dan kuasa (Why. 4:11).
Kondisi Adam pada Waktu Diciptakan
- Sempurna
Kita telah mempelajari bahwa Adam diciptakan oleh Allah. Alkitab menyatakan bahwa kondisi Adam waktu diciptakan dalam keadaan sangat baik (Kej. 1:31). Keadaan Adam adalah sempurna dan suci atau tanpa dosa. Namun, bukan berarti Adam diciptakan dengan kemungkinan untuk tidak bisa berbuat dosa. Allah memberikan alat pengukur yang disebut kehendak bebas dalam diri manusia yang memberikan kebebasan kepada manusia untuk taat dan menyembah Allah sesuai dengan pilihan dan kerelaan hatinya. Konsekuensi logis dari memiliki kemampuan memilih membuat manusia rentan untuk berbuat dosa (tidak taat) sebagaimana Allah kehendaki.
- Hubungan yang Akrab dengan Allah
Jadi, Adam dan Hawa diciptakan dalam keadaan telanjang (Kej. 2:25), tetapi mereka tidak malu. Mereka menikmati persekutuan yang baik dengan Allah di Taman Eden. Namun, di sisi lain, Allah juga memberi mereka perintah yang sederhana untuk ditaati. Adam dan Hawa dilarang makan dari satu pohon; hanya dari satu pohon itu, dari seluruh isi Taman Eden. Dalam ketaatan mengikuti perintah Allah inilah, tergantung hubungan akrab manusia dengan Allah.
Perdebatan tentang Pembagian Natur Manusia
Dalam ilmu teologi, terdapat tiga teori tentang pembagian natur manusia, yaitu trikotomi, dikotomi, dan monokotomi. Mari kita telusuri satu per satu.
- Trikotomi
Trikotomi adalah teori yang percaya bahwa ketika diciptakan, natur manusia terdiri dari tiga bagian, yaitu tubuh, jiwa, dan roh. Tubuh adalah unsur lahiriah manusia yang dapat dilihat, yang melaluinya manusia dapat melihat, mendengar, menyentuh, dan sebagainya. Jiwa adalah unsur batiniah manusia yang tidak dapat dilihat. Jiwa manusia terdiri dari tiga unsur utama, yaitu pikiran, emosi (perasaan), dan kehendak. Dengan pikirannya, manusia dapat berpikir. Dengan perasaannya, manusia dapat mengasihi, dan dengan kehendaknya, manusia dapat memilih. Roh adalah unsur yang paling dalam dari manusia yang memungkinkannya untuk bersekutu dengan Tuhan. Kebanyakan para penganut teori ini mendasarkan pandangannya pada perkataan Paulus dalam 1Tes. 5:23 dan penulis Ibrani dari Ibr. 4:12, yang secara jelas menyebutkan tiga unsur tersebut: "…. Kiranya roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara seluruhnya, tanpa cacat pada kedatangan Tuhan kita, Kristus Yesus." (1Tes. 5:23) "Sebab, firman Allah … menusuk jauh sampai memisahkan jiwa dan roh, antara sendi dan tulang sumsum, …" (Ibr. 4:12)
- Dikotomi
Dikotomi adalah teori yang percaya bahwa natur manusia terdiri dari dua bagian saja, yaitu tubuh dan roh (jiwa termasuk di dalamnya). Penganut teori ini percaya bahwa ketika Allah menciptakan manusia, Allah hanya memerlukan dua bagian, tubuh manusia (jasmani yang kelihatan) dan embusan napas Allah (roh yang tidak kelihatan), lalu manusia menjadi hidup (Kej. 2:7). Alkitab sendiri memakai istilah jiwa dan roh bukan sebagai dua substansi yang berbeda, tetapi sering dipakai secara bergantian/bisa dipertukarkan oleh penulis Alkitab, misalnya dalam Mat. 6:25; 10:28 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan jiwa) dan Pkh. 12:7; 1Kor. 5:3,5 (manusia disebut dengan istilah tubuh dan roh). Contoh lainnya adalah Kej. 41:8; Mzm. 42:6; Mat. 20:28; 27:50; Yoh. 12:27; Ibr. 12:23; Why. 6:9. Penyebutan jiwa dan roh secara bersamaan seperti dalam 1Tes. 5:23 dan Ibr. 4:12, tidak harus ditafsirkan sebagai adanya dua substansi yang berbeda. Sebab jika ditafsirkan demikian, manusia tidak hanya dibagi dalam tiga substansi, melainkan lebih, misalnya dalam Mat. 22:37 menyebutkan secara bersamaan hati, jiwa, dan akal budi (pikiran).
- Monokotomi
Monokotomi adalah teori yang percaya bahwa manusia adalah pribadi yang utuh yang tidak terpisahkan. Manusia tidak akan bisa ada/hidup tanpa tubuh atau jiwa/rohnya. Tubuh tidak akan bisa hidup tanpa jiwa/roh, demikian juga sebaliknya. Menurut teori ini, istilah Alkitab "jiwa" dan "roh" hanyalah ekspresi lain dari pribadi atau hidup manusia itu sendiri.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Tue, 1 Oct 2024 | Artikel, Biblika
Tuhan Sudah Ada Sebelum Segala Sesuatu Ada
Kapan dan sudah berapa lamakah Tuhan ada? Tuhan sudah ada dengan segala kuasa dan kemuliaan-Nya sebelum segala sesuatu ada. Alkitab mengatakan, “Pada mulanya Tuhan ….” (Kejadian 1:1; Yohanes 1:1) Keberadaan-Nya ialah dari kekal sampai kekal. Ia selalu ada, dulu, sekarang dan sampai selama-lamanya. Dalam kitab Mazmur 90:2 menyatakan “… dari selama-selamanya sampai selama-lamanya, Engkaulah Tuhan.”
Tuhan bukanlah sekadar kuasa atau pengaruh yang dahsyat. Dia adalah Pribadi yang kita sebut sebagai Allah Tritunggal, yaitu Allah Bapa, Allah Anak (Yesus Kristus), dan Allah Roh Kudus. Dialah yang menyebabkan segala sesuatu menjadi ada. Dia adalah Sang Pencipta (Bapa: 1 Korintus 8:6; Anak: Yohanes 1:30; Roh Kudus: Kejadian 1:2; Yesaya 40:12-13).
Alkitab adalah Jawaban
Sejak mulanya, manusia ingin tahu bagaimana segala sesuatu di dunia ini terjadi. Banyak pendapat telah diberikan mengenai asal usul alam ini, khususnya mengenai asal usul bumi. Namun, tidak ada seorang pun yang mengetahui secara pasti jawabannya.
Bagaimanakah kita dapat mengetahuinya secara pasti? Dengan percaya atau mengimani firman Tuhan (Ibrani11:3). Di dalam firman Tuhan, kita menemukan jawabannya dengan pasti. Alkitab tidak pernah berspekulasi sebagaimana teori-teori yang diciptakan oleh manusia. Dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. (Kolose 1:16)
Walaupun Alkitab menjelaskan mengenai penciptaan dengan singkat, namun Tuhan telah memberitahukan kepada kita segala sesuatu yang perlu kita ketahui tentang permulaan alam semesta ini. Pernahkah Anda bertanya mengapa kitab pertama dalam Alkitab disebut Kitab “Kejadian”? Karena Kitab Kejadian menceritakan tentang permulaan atau asal usul segala sesuatu. Kata “Kejadian” berarti “permulaan”. Kitab ini menceritakan tentang permulaan langit, bumi dan segala isinya. Kitab ini dimulai dengan memberi informasi tentang asal mula alam semesta.
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian 1:1)
Tuhan adalah Pencipta Alam Semesta
Alkitab secara jelas memberikan jawabannya, yaitu Tuhan. Berikut ini adalah ayat-ayat Alkitab yang menyatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta.
- “Pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi.” (Kejadian1:1)
- “Dialah Tuhan … dan Ia menciptakannya bukan supaya kosong, tetapi Ia menciptakannya untuk didiami.” (Yesaya 45:18)
- “Kulah yang membentangkan langit dan Akulah yang memberi perintah kepada seluruh tentaranya.” (Yesaya 45:12)
- “… Ia yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya: yang tetap setia untuk selama-lamanya.” (Mazmur 146:6)
Bagaimana Alam Semesta Diciptakan Tuhan?
Berbeda dengan Tuhan, alam semesta ini memiliki titik permulaan. Tuhanlah yang menciptakan alam semesta ini. Ia menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada dan seluruh keberadaan alam semesta ini bergantung kepada Tuhan. Dalam Kej. 1:1, kata “menciptakan” di sini tidak berarti memindahkan atau menghadirkan sesuatu yang sudah ada ke tempat lain yang pada mulanya tidak ada, tetapi membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada tanpa bahan (‘ex nihilo’). Ia menciptakan langit dan bumi dengan Firman-Nya. Alkitab mengatakan:
- “Oleh firman Tuhan langit dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentara-Nya.” (Mazmur 33:6)
Firman Tuhan keluar dari mulut Allah yang berkuasa! Firman Tuhan mencipta segala sesuatu menjadi ada sesuai dengan yang difirmankan Allah itu. Seperti ada tertulis:
- “Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi, Dia memberi perintah, maka semuanya ada.” (Mazmur 33:9)
- “Berfirmanlah Allah: Jadilah ….” (Kejadian 1:3,6,9,11,14,20,24,26)
Keadaan Segala Sesuatu pada Waktu Diciptakan
Kondisi segala sesuatu pada saat Tuhan menciptakan mereka adalah tidak seperti sekarang ini. Kondisi segala hal yang Ia ciptakan adalah baik. Dalam Kejadian pasal 1, berkali-kali disebutkan bahwa setelah Tuhan menciptakan sesuatu, “Ia melihat semua itu baik.” (Kejadian 1:10,12,18,25,31)
Makhluk Hidup Diciptakan Sesuai dengan Jenisnya
Allah menciptakan semua makhluk hidup seperti burung, ikan, dan binatang, dan memberi kemampuan kepada mereka untuk berkembang biak menurut ketetapan-Nya, yaitu “berkembang biak menurut jenisnya masingmasing” (Kejadian 8:19). Tidak ada binatang yang dapat berganti jenis menjadi jenis binatang yang lain. Ketetapan ini masih berlaku hingga hari ini. Setiap makhluk hidup melahirkan keturunan atau anak menurut jenisnya.
Pemeliharaan Tuhan Atas Ciptaan-Nya
Beberapa orang beranggapan bahwa setelah Allah menciptakan dunia dan segala isinya, Ia menarik diri dan membiarkan ciptaan-Nya berjalan sendiri begitu saja. Paham ini disebut ‘Deisme’, bahwa Allah tidak peduli lagi dengan ciptaan-Nya, Ia lepas tangan setelah menciptakan mereka. Hal ini tidak benar. Sampai saat ini Allah masih memelihara ciptaan-Nya. Allah, selain Pencipta Agung dari segala sesuatu, Ia juga Pemelihara, Pemimpin, Pengatur, dan Pemerintah semua makhluk ciptaan, dan benda-benda ciptaan, mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil, dengan kebijaksanaan-Nya yang paling bijak dan pemeliharaan-Nya yang kudus, sesuai dengan pengetahuan yang tidak bisa salah dan kehendak-Nya yang bebas dan tidak berubah.
Apabila langit, bumi dan segala isinya ini masih ada sampai sekarang, ini semua karena pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya. II Petrus 3:7 mengatakan: “Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api ….” Semua ciptaan masih ada sampai sekarang karena Allah menopangnya. Ibrani 1:3 menjelaskan bahwa Kristus menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kuasa.
Kata “menopang” di sini tidaklah pasif, tetapi memiliki pemahaman yang aktif karena dengan maksud kehendak-Nya, Ia mengontrol semuanya secara terus-menerus. Jadi, Yesus secara aktif terlibat dalam karya pemeliharaan (Providensia). Hal serupa juga terdapat dalam Kolose 1:7 yang mengatakan bahwa di dalam Dia segala sesuatu ada. Bagaimana dengan kehidupan manusia di bumi ini? Apakah Allah masih memerhatikannya? Ya. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa Ia mengatur kehidupan di bumi ini. Mazmur 139:16 menjelaskan bahwa Allah mengatur kelahiran dan kehidupan manusia. Ia memberikan perlindungan kepada orang benar (Mazmur 5:12; Ulangan 33:12,25-28; I Samuel 2:9), memenuhi kebutuhan umat-Nya (Ulangan 8:3; Filipi 4:19) dan sebagainya. Sebenarnya kalau kita mau sadar, napas hidup yang masih Ia berikan kepada kita saat ini adalah bukti dari pemeliharaan-Nya terhadap manusia.
Ayub 34:14-15 mengatakan: “Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya dan mengembalikan nafas pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.” Demikian juga yang dikatakan Mazmur 104:29: “… apabila Engkau mengambil roh mereka, mereka mati binasa dan kembali menjadi debu.”
Jadi, Allah masih campur tangan terhadap ciptaan-Nya. Semua keberadaan, sifat-sifat dan gerak segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidak bisa dilepaskan dari pemeliharaan Tuhan terhadapnya.
Bagaimana Keadaan Segala Sesuatu Sebelum Diciptakan?
- Tidak Berbentuk dan Kosong
"Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi tidak berbentuk dan kosong, kegelapan menutupi permukaan samudra, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air." (Kej. 1:1-2)
- Penciptaan Waktu
Aspek lain yang menjadi bagian dari ciptaan adalah waktu. Ketika kita berbicara bahwa "sebelum" segala sesuatu Allah sudah ada, bukan berarti bahwa waktu sudah ada dan tidak ada awal mulanya. Sebelum Allah menciptakan alam semesta, waktu tidak ada. Allah hidup dalam kekekalan dan Dia tidak dibatasi oleh waktu atau tempat. Waktu tercipta saat Allah berkata, "… 'Jadilah terang' …. Kemudian, Allah memisahkan terang itu dari gelap. Allah menyebut terang itu siang dan gelap itu malam …." (Kej. 1:3-5)
Bagaimana Allah Menciptakan Alam Semesta?
- Allah Menciptakan dari yang Tidak Ada
Sebelumnya Berbeda dengan Allah, alam semesta ini memiliki titik permulaan. Allah menciptakannya dari yang tidak ada menjadi ada dan seluruh keberadaan alam semesta ini bergantung kepada Tuhan. Dalam Kej. 1:1, kata ‘menciptakan’ di sini tidak berarti memindahkan atau menghadirkan sesuatu yang sudah ada ke tempat lain untuk menggantikan yang sebelumnya. Sebaliknya, Ia membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada tanpa bahan ("ex nihilo"). Dia menciptakan langit dan bumi dengan Firman-Nya. Alkitab berkata: "Oleh firman TUHAN, langit dijadikan, dan oleh napas mulut-Nya, seluruh bala tentara-Nya." (Mzm. 33:6) Firman Tuhan keluar dari mulut Allah yang berkuasa! Firman Tuhan mencipta segala sesuatu menjadi ada sesuai dengan yang difirmankan Allah itu. Seperti ada tertulis: "Dia berbicara, dan hal itu terjadi; Dia memerintah, dan semua itu berdiri kukuh." (Mzm. 33:9) "Allah berfirman, 'Jadilah ….'" (Kej. 1:3, 6, 9, 11, 14, 20, 24, 26)
- Tujuh Hari Penciptaan
Penciptaan selesai seluruhnya dalam waktu enam hari yang mengesankan dan menakjubkan. Enam hari secara harfiah, dengan 24 jam per hari, segala sesuatu diciptakan tanpa ada jeda. Dan, Allah menyatakan bahwa semua yang diciptakan-Nya sangat baik. Allah menciptakan semua makhluk hidup seperti burung, ikan, dan binatang, dan memberi kemampuan kepada mereka untuk berkembang biak menurut ketetapan-Nya, yaitu berkembang biak "menurut jenisnya masing-masing" (Kej. 8:19). Tidak ada binatang yang dapat berganti jenis menjadi jenis binatang yang lain, demikian juga manusia. Tidak ada binatang yang bisa menjadi manusia atau sebaliknya. Ketetapan ini masih berlaku hingga hari ini. Setiap makhluk hidup melahirkan keturunan atau anak menurut jenisnya.
Bagaimana Keadaan Setelah Penciptaan
- Semua yang Diciptakan Baik Adanya
Dalam Kejadian pasal 1, setiap hari, setelah selesai menciptakan, selalu disebutkan bahwa, "… Allah melihat bahwa itu baik. " (Kej. 1:10, 12, 18, 25, 31) Kondisi alam pada saat diciptakan sungguh membuat Allah menyukainya dan menyatakan sukacita-Nya, terutama ketika selesai menciptakan manusia pada hari keenam, Allah berkata, "… itu sangat baik." (Kej. 1:31) Sekalipun saat ini dunia sudah dihukum Tuhan karena kejatuhan manusia dalam dosa, kebaikan keadaan ciptaan-Nya masih bisa dilihat sehingga kita masih terus bisa mengaguminya (Mazmur). Paulus pun menyebutkan bahwa segala sesuatu yang telah diciptakan Tuhan harus kita terima dengan ucapan syukur (1Tim. 4:4). Itu sebabnya, setiap orang percaya dipanggil untuk bertanggung jawab terhadap semua kebaikan yang telah Allah ciptakan, terutama bumi tempat kita tinggal (1Tim. 6:17). Kita harus terus memeliharanya, bahkan mengembangkannya dengan kreativitas yang Allah berikan sebagai cara kita memuliakan Dia.
- Allah Memelihara Semua yang Diciptakan-Nya
Beberapa orang beranggapan bahwa setelah Allah menciptakan dunia dan segala isinya, Dia menarik diri dan membiarkan ciptaan-Nya berjalan sendiri begitu saja. Paham ini disebut "Deisme", bahwa Allah tidak peduli lagi dengan ciptaan-Nya. Dia lepas tangan setelah menciptakan mereka. Hal ini tidak benar. Sampai saat ini, Allah masih memelihara ciptaan-Nya. Allah, selain Pencipta Agung dari segala sesuatu, Dia juga Pemelihara, Pemimpin, Pengatur, dan Pemerintah semua makhluk ciptaan, dan benda-benda ciptaan. Mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil, dengan kebijaksanaan-Nya yang paling bijak dan pemeliharaan-Nya yang kudus, sesuai dengan pengetahuan yang tidak bisa salah dan kehendak-Nya yang bebas dan tidak berubah. Kalau langit, bumi, dan segala isinya ini masih ada sampai sekarang, ini semua karena pemeliharaan Allah terhadap ciptaan-Nya (2Ptr. 3:7). Semua ciptaan masih ada sampai sekarang karena Allah menopangnya (Ibr. 1:3). Kata ‘menopang’ di sini tidaklah pasif, melainkan memiliki pemahaman yang aktif karena dengan maksud kehendak-Nya, Dia mengontrol semuanya secara terus-menerus. Jadi, Yesus secara aktif terlibat dalam karya pemeliharaan (providensia). Bagaimana dengan kehidupan manusia di bumi ini? Apakah Allah masih memperhatikannya? Ya. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang menjelaskan bahwa Dia mengatur kehidupan di bumi ini. Allah mengatur kelahiran dan kehidupan manusia (Mzm. 139:16), Dia memberikan perlindungan kepada orang benar (Mzm. 5:12; Ul. 33:12, 25-28; 1Sam. 2:9), memenuhi kebutuhan umat-Nya (Ul. 8:3; Flp. 4:19) dan seterusnya. Jika kita masih bernapas, ini adalah bukti dari pemeliharaan-Nya terhadap manusia. Jadi, Allah masih campur tangan terhadap ciptaan-Nya. Semua keberadaan, sifat-sifat, dan gerak segala sesuatu yang ada di alam semesta ini tidak bisa dilepaskan dari pemeliharaan Tuhan terhadapnya.
- Tujuan Allah Menciptakan Alam Semesta
Kita telah sering mendengar bahwa Allah menciptakan manusia untuk tujuan kemuliaan-Nya (Yes. 43:7). Akan tetapi, bukan hanya manusia yang Allah ciptakan dengan tujuan. Seluruh ciptaan-Nya diciptakan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya, bahkan termasuk bintang-bintang, bulan dan langit, sebab mereka menceritakan kemuliaan Allah (Mzm. 19:1; Why. 4:11). Namun, perlu diingat bahwa Allah tidak punya kewajiban untuk menciptakan dunia yang bisa membuat-Nya menjadi mulia. Allah sudah mulia bersama dalam 3 Pribadi dari kekal sampai kekal. Oleh karena itu, tidak ada apa pun yang bisa menambahkan apa pun dari Allah karena Allah tidak kekurangan apaapa. Jika Allah dengan keinginan-Nya sendiri menciptakan alam semesta, termasuk manusia, itu karena Dia ingin berbagi kebahagiaan kekal yang Dia miliki bersama dengan ciptaan-Nya.