by PKA STAN Prodip Keuangan | Thu, 3 Sep 2026 | Renungan
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Matius 6 : 33)
Dalam kehidupan, kita memiliki banyak hal yang menjadi perhatian: pekerjaan, keluarga, pendidikan, kebutuhan sehari-hari, masa depan, dan berbagai pergumulan. Semua itu penting. Namun Yesus mengajarkan satu prinsip yang harus menjadi dasar kehidupan kita: carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Mengutamakan Kerajaan Allah berarti menempatkan Tuhan sebagai prioritas pertama dalam hidup. Bukan berarti kita mengabaikan pekerjaan atau tanggung jawab yang lain, tetapi kita menjalankan semuanya dengan Tuhan sebagai pusatnya. Ketika Tuhan menjadi yang terutama, keputusan-keputusan kita tidak hanya didasarkan pada apa yang menguntungkan, tetapi pada apa yang benar dan berkenan kepada-Nya.
Sebelum ayat 33, Yesus berbicara tentang kekhawatiran mengenai makanan, minuman, dan pakaian. Tuhan mengetahui kebutuhan kita. Karena itu, jangan sampai mengejar kebutuhan hidup membuat kita melupakan Tuhan. Sering kali kita berkata, “Kalau semua kebutuhan saya sudah terpenuhi, baru saya bisa melayani Tuhan.” Tetapi Yesus mengajarkan sebaliknya: dahulukan Tuhan, dan percayakan kebutuhan kita kepada-Nya.
Kalimat “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” bukan berarti Tuhan menjanjikan bahwa kita akan mendapatkan semua yang kita inginkan. Ini adalah jaminan bahwa Tuhan mengetahui dan memelihara kebutuhan anak-anak Nya. Kita dipanggil untuk setia mencari Kerajaan Allah, sementara kebutuhan kita, kita serahkan kepada pemeliharaan-Nya.
Rudi berjalan bersama ayahnya menuju kampung nenek & kakeknya. Di tengah perjalanan ia mulai khawatir, “Ayah, nanti kita makan apa? Bagaimana kalau kita tidak punya uang?” Sang ayah berkata, “Jangan takut, selama kamu berjalan bersama ayah, ayah akan mengurus dan menyediakan semua kebutuhanmu.” Demikian juga dengan Tuhan. Kita tidak mengetahui seluruh perjalanan hidup kita, tetapi kita mengenal siapa yang berjalan bersama kita. Tugas kita adalah mengutamakan Tuhan; pemeliharaan adalah bagian Tuhan.
Inspirasi : Ketika Tuhan menjadi prioritas dalam hidup, maka kita belajar melihat pekerjaan, keluarga, harta, pelayanan, dan masa depan dari sudut pandang Kerajaan Allah.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 2 Sep 2026 | Renungan
Akulah gembala yang baik; gembala yang baik memberikan nyawa-Nya bagi domba domba. Yohanes 10:11
Kita hidup di zaman yang serba ada dan praktis dan teknologi turut ambil andil dalam perubahan yang terjadi. Ada begitu banyak tawaran untuk melakukan segala sesuatu dengan praktis melalui Internet. Kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam Sosial Media, yang tanpa kita sadari bahwa kita sedang dididik oleh Media sosial itu sendiri. Cara berpikir menentukan perilaku maka saat pola pikir berubah maka perilaku pun berubah sampai kepada cara kita memahami Tuhan.
Mengapa Tuhan begitu lama menjawab doa saya? Sampai kapan saya harus menanggung penderitaan ini? Mengapa saya yang harus mengalami hal ini? Adakah Tuhan di dunia ini? Dimana Tuhan saat saya susah? Kita jadi mempertanyakan keberadaan-Nya di dalam hidup. Kita mempersalahkan Tuhan atas apa yang terjadi, kita lebih suka dengan penyelesaian yang cepat dan instan dibanding dengan mengikuti alur proses yang sesungguhnya. Jelaslah dengan setiap pemikiran dan tindakan kita kita selalu bertentangan dengan Tuhan, mengapa? Karena kita tidak mengenal Sang Gembala sejati.
Yesus mengatakan kepada orang banyak pada waktu itu bahwa Dia adalah Gembala yang baik. Mengapa?
Dia masuk melalui Pintu (2). Menunjukkan bahwa dia adalah pemilik yang sah, para penjaga pasti akan membukakan pintu dan domba-dombanya mengenal pemiliknya Gembala mengenal domba-dombanya dengan memanggil nama mereka (3). Dengan memanggil nama mereka sang gembala memastikan bahwa domba-dombanya aman tidak ada yang terpisah dari kawanan. Menuntun domba-domba (4). Sang gembala akan berjalan di depan mereka dan menuntun mereka keluar sehingga semua domba mengikuti dia karena mereka mengenalnya.
Memberikan nyawa bagi domba-domba (11). Gembala tahu bahwa domba-domba adalah makhluk yang lemah karena itu dia menjadi incaran banyak hewan pemangsa lainnya, bahkan jika tidak hati-hati pasti domba-domba akan tergelincir ke jurang. Karena itu gembala menjamin keamanan mereka dengan bertarung serta mencari mereka yang terhilang.
Domba-domba yang ada di bawah pimpinan gembala yang baik pasti akan terhindar dari marabahaya, sebab ada Sang Gembala menjaga mereka, mereka tidak takut dalam segala musim yang datang karena hidup mereka di pelihara oleh Sang Gembala. Hal yang perlu dilakukan oleh Domba adalah mengenal suara Gembala, mendengar perkataa-Nya, serta taat dan mengikuti Sang Gembala.
Tuhan sedemikian rupa menyediakan segala sesuatu agar kita memiliki hidup yang berkelimpahan, pertanyaannya apakah kita mau percaya kepada pimpinan-Nya? Apakah kita mau taat dan percaya kepada-Nya?
Inspirasi: Kita hanya akan dapat mempercayakan hidup kita dengan seutuhnya pada Sang Gembala jika setiap hari kita belajar membangun hubungan yang intim bersama Tuhan melalui doa dan firman. Hal ini membantu kita untuk mengenalNya lebih dalam.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Tue, 1 Sep 2026 | Renungan
"Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58)
1 Korintus Pasal 15 merupakan puncak pengajaran Paulus tentang kebangkitan Kristus. Jemaat Korintus saat itu dikepung oleh paham skeptis Yunani yang meragukan kebangkitan tubuh. Keadaan tersebut membuat sebagian pelayanan, penginjilan, dan ketekunan mereka terasa melelahkan, bahkan tampak tak membuahkan hasil. Namun, Paulus mengawalinya dengan frasa "Karena itu", sebuah kesimpulan teologis bahwa kemenangan Kristus atas maut telah mengubah segalanya. Kata "berdirilah teguh" (hedraios) mengacu pada fondasi rumah yang tak tergerak, sedangkan "jangan goyah" (ametakinetos) menggambarkan benteng yang tidak bergeser sedikit pun walau dihantam badai pengajaran sesat maupun kelelahan fisik.
Lebih jauh, Paulus mendorong mereka untuk "giat selalu" (perisseuontes), yang secara harfiah melukiskan pengabdian yang melimpah atau berlimpah-limpah. Pelayanan bukan sekadar aktivitas rutin, melainkan luapan rasa syukur atas pengorbanan Kristus. Paulus meyakinkan bahwa dalam persekutuan dengan-Nya, jerih payah, yaitu kerja keras yang memeras keringat, doa yang tak kunjung dijawab secara kasatmata, dana yang dikorbankan untuk pelayanan, serta waktu pemuridan yang melelahkan, tidak pernah sia-sia. Kepastian kebangkitan memberi jaminan bahwa setiap ketulusan dalam menginjili, mendidik murid, berinteraksi dalam doa, dan menyokong kebutuhan pelayanan memiliki bobot kekekalan yang diperhitungkan oleh Allah.
Setialah dalam bidang pelayanan yang Saudara lakukan, baik penginjilan, pemuridan, maupun penggalangan dana dan doa, lalu berkomitmenlah melayaninya dengan penuh ketekunan tanpa terpengaruh oleh rasa lelah atau kurangnya apresiasi.
Inspirasi: Jerih payah pelayanan yang ditanam di bumi tidak akan pernah sia sia karena Allah memberi upah di dalam kekekalan.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sat, 10 Jan 2026 | Artikel, Renungan
Kurang sabar sering mendatangkan masalah. Kurang sabar juga dapat merusak semua rencana yang baik. Banyak rencana gagal karena orang yang bersangkutan tidak sabar menunggu sampai penggenapan rencana tersebut.
Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
1 Petrus 5:8
Orang sering tidak suka disuruh menunggu. Di persimpangan jalan saat ini terdapat banyak lampu pengatur lalu lintas yang memiliki jumlah detik untuk lampu merah maupun untuk lampu hijau. Jumlah detik itu ada yang sangat cepat 15 detik namun ada yang dianggap sangat lama karena mencapai 150 detik. Namun kalau diingat bahwa 150 detik itu kelihatannya besar jumlahnya tetapi sebenarnya hanya 2,5 menit. Menunggu 2,5 menit di lampu merah bagi sebagian besar orang terasa sangat lama, sehingga membuat mereka menjadi tidak sabar dan sering menjadi marah.
Ketika kita masih kecil kita memiliki cita-cita untuk menjadi sesuatu. Namun dengan berjalannya waktu, karena berbagai alasan banyak dari cita-cita kita terlupakan. Salah satu sebabnya adalah karena tidak sabar menunggu, tidak sabar dan tekun meniti cita-cita tersebut, mudah putus asa, ingin menggapai atau merengut apa yang ada di depannya secepatnya dan mengorbankan tujuan besar yang dicita-citakan. Banyak dari kita ingin cita-cita, atau rencana mereka terjadi lebih cepat dari waktunya. Karena tidak mampu bersabar, kita akhirnya menyerah.
Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan pepatah yang mengatakan:
Buah yang terlalu cepat dipetik sebelum waktunya masak akan menjadi buah yang masam. Anggur yang kurang dipendam akan menjadi anggur yang kurang bermutu.
Dalam Alkitab, Tuhan berkata kepada Abraham bahwa Sara, isterinya, akan memiliki seorang putra dari kandungannya sendiri. Tuhan berjanji bahwa Abraham akan memiliki keturunan yang seperti bintang di langit atau pasir di tepi pantai banyaknya. Namun Sarah tidak mampu menanti sampai waktu itu digenapi, ia membuat keputusan sendiri dengan mengambil pembantunya, Hagar, dan memberikannya kepada suaminya sehingga melahirkan Ismail. Sarah mengira dia telah mempercepat janji Tuhan, dia bertindak seakan-akan Tuhan tidak mampu bertindak sehingga membutuhkan bantuannya.
Apa yang terjadi adalah krisis dalam rumah tangganya. Sara kemudian memanen buah dari apa yang ditaburnya yaitu penghinaan dan pelecehan oleh Hagar kepadanya. Puncaknya krisis dalam rumah tangganya terjadi ketika Abraham harus mengusir Hagar dan Ismail pergi meninggalkan mereka.
Selain Sara, kita juga menjumpai banyak contoh dalam Alkitab mengenai ketidaksabaran dalam menunggu penggenapan janji Allah. Sebagai contoh,kisah perjalanan orang Israel dari Mesir ke tanah Kanaan. Karena ketidaksabaran terhadap janji Tuhan, mengakibatkan satu generasi bangsa Israel yang keluar dari Mesir harus terkapar mati di padang gurun. Hal yang sama terjadi juga dengan Saul, raja pertama bangsa Israel. Saul dipilih oleh Tuhan untuk menjadi raja pertama bangsa Israel ketika ia masih tidak ada apa-apanya. Tuhan berjanji akan memberkati dia dan mahkota itu untuk anak cucunya jika ia mau berjalan menurut jalan-jalan Tuhan. Namun Saul kemudian menjadi sombong sesudah menjadi raja. Ia lebih mementingkan citra dirinya dari pada menghargai Tuhan.
Pada suatu kesempatan ketika ia harus berperang dengan bangsa lain, Samuel memintanya untuk menunggu dia datang untuk melakukan persembahan korban bakaran kepada Tuhan. Saul tidak sabar menunggu Samuel datang dan kemudian melakukan persembahan sendiri yang hanya boleh dilakukan oleh hamba Tuhan. Saul akhirnya terbuang dari hadapan Tuhan, dan Samuel juga kemudian tidak ingin bertemu dengan dia sampai matinya.
Ketidaksabaran, terutama saat berada dalam suatu penantian, suatu masalah, sering berakibat fatal. Banyak orang gagal karena kurang sabar menanti, kurang sabar bertahan dalam pencobaan, kurang sabar menunggu janji Tuhan digenapi. Mereka berdoa memohon campur tangan Tuhan, meminta berkat Tuhan, namun mereka tidak sabar menanti penggenapan dari doa-doa mereka. Mereka ingin semuanya serba instant, menurut keinginan mereka dan untuk memuaskan nafsu serakah mereka.
Banyak orang tidak menyadari sudah seberapa dekat mereka dari penggenapan janji Tuhan kepada mereka saat mereka memutuskan untuk berhenti menunggu. Akibatnya mereka merusak janji Tuhan dan kehilangan hadiah kemenangan yang disiapkan Tuhan kepada mereka. Musuh kita adalah Setan. Musuh kita tahu dengan persis bahwa kalau kita mampu bertahan, kita akan menerima mahkota kemenangan kita. Oleh karena itu semakin dekat kita dengan mahkota kemenangan kita, semakin keras dan gencar musuh kita menyerang kita.
Semakin dekat kita dengan garis akhir, semakin kuat pergumulan yang harus kita hadapi, karena musuh kita tidak pernah membiarkan kita meraih kemenangan. Rintangan menjadi semakin keras disaat kemenangan itu sudah di depan mata. Karena itu bersabarlah sedikit lebih lama karena anda tidak tahu sudah seberapa dekat anda pada kemenangan yang dijanjikan Tuhan kepada anda, kepada penggenapan doa anda. Hanya orang-orang yang mau bersabar, mau bertahan, akan menerima mahkota kemenangan mereka.
Ingatlah bahwa Tuhan, Allah yang kita sembah adalah Dia yang Setia. Dia tidak pernah gagal memenuhi kebutuhan kita, tidak pernah gagal memenuhi janjiNya kepada kita. Hal yang kita lakukan hanyalah terus bersabar, terus bersandar kepadaNya, terus percaya kepadaNya, terus memohon kepadaNya. Tuhan bersedia memberi kekuatan bagi kita untuk terus bertahan dalam penantian kita. Mintalah hal itu kepada Tuhan agar kita tidak terperosok dalam pencobaan dan mengorbankan hadiah yang dijanjikan Tuhan kepada kita.
Jangan pernah menyerah pada rintangan yang anda hadapi. Jangan pernah gagal untuk bersabar. Bersabar adalah satu-satunya senjata kita dalam menghadapi pencobaan, dalam menghadapi rintangan untuk mencapi garis finish perlombaan iman kita dan pada akhirnya menerima tropy kemenangan.
Semua orang yang mencapai garis finish selalu akan menerima mahkota kemenangan. Dalam Tuhan tidak pernah ada juara kedua, yang ada hanyalah juara satu. Oleh karena itu jangan terjebak oleh tipu muslihat Iblis yang berjalan keliling mengaum seperti Singa untuk menelan orang-orang yang menyerah untuk ditelannya. Tuhan menolong anda semua.
Sumber: https://renungan.org/artikel-kristen/bersabar-sedikit-lebih-lama-menunggu-janji-allah/
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
Siapa yang tidak pernah mendengar atau menyanyikan lagu Bila Topan K’ras Melanda Hidupmu? Saya rasa hampir semua dari kita pernah mendengarkannya. Lirik lagu Kidung Jemaat (KJ) 439 ini cepat dan bersemangat, namun punya makna yang sangat mendalam bagi kita. Terutama bagi kita yang sedang berada di dalam masalah atau pergumulan. Lagu ini memiliki judul asli “Count Your Blessing” atau “Berkat Tuhan Mari Hitunglah”, seperti lirik lagu di bagian refrein. Lagu ini diciptakan pada tahun 1897 oleh Johnson Oatman Jr. dan Edwin Othello Excel sebagai komponisnya. Johnson Oatman juga yang menciptakan lagu “Kudaki Jalan Mulia” (KJ 400).
Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu,
berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ’kan kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.”
Adakah beban membuat kau penat, salib yang kaupikul menekan berat?
Hitunglah berkatNya, pasti kau lega dan bernyanyi t’rus penuh bahagia!
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ’kan kagum oleh kasih-Nya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya.”
Bila kau memandang harta orang lain, ingat janji Kristus yang lebih permai;
hitunglah berkat yang tidak terbeli milikmu di sorga tiada terperi.
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.
Lagu ini adalah nyanyian pujian yang sangat berkesan, dengan setiap bagian dimulai dengan berbagai macam tantangan: topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu (bait 1), beban membuat kau penat, salib yang kaupikul menekan berat (bait 2), memandang harta orang lain (bait 3). Tantangan-tantangan itu tidak berakhir begitu saja, kita diingatkan bahwa ada berkat Tuhan yang tidak boleh dilupakan. Lebih dari itu, kita akan kagum oleh kasih-Nya (bait 1), lega dan bernyanyi terus bahagia (bait 2), janji Kristus dan sorga yang kekal (bait 3).
Ada banyak orang menjalani hidup dengan tujuan mencari tahu apa yang belum mereka miliki, yang kurang, atau yang membuat mereka nampak lebih senang. Lagu ini mengajak kita untuk berpikir luas: kita sudah memiliki banyak hal dalam hidup ini. Itulah berkat Tuhan yang harus kita hitung dan syukuri. Tidak salah untuk berjuang dan berupaya mancari apa yang belum kita miliki, namun, jangan sampai itu menutup mata kita akan hal-hal yang sudah ada pada kita. Semua berkat yang sudah Tuhan berikan: keluarga yang baik, teman dan pasangan yang mendukung, pekerjaan yang kita miliki, anak-anak yang bisa membanggakan orangtua, kesehatan dan langkah tegap, serta banyak berkat Tuhan yang lainnya.
Saya ingin menutup renungan dengan bait keempat lagu ini. Bait yang paling berkesan bagi saya pribadi. Di dalam pergumulan dan masalah kita di dunia saat ini, mari kita terus menghitung berkat Tuhan. Di tengah kesulitan dan pandemi yang mungkin berdampak hebat pada kehidupan kita, jangan kuatir dan yakinlah bahwa Tuhan tetaplah Tuhan yang menyertai dan mengasihi kita.
Dalam pergumulanmu di dunia janganlah kuatir, Tuhan adalah!
Hitunglah berkat sepanjang hidupmu, yakinlah, malaikat menyertaimu!
Berkat Tuhan, mari hitunglah, kau ‘kan kagum oleh kasihNya.
Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasihNya.
Penulis: Daniel Nugroho
Sumber: Berkat Tuhan Mari Hitunglah
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
Banyak orang berpendapat, bahwa "dusta" itu - seperti halnya sate atau soto - ada banyak jenisnya, meski satu saja esensinya. Esensi atau intinya, saya yakin, kita semua pasti tahu. Berdusta adalah mengutarakan sesuatu, yang diketahui tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.
Apa misalnya? Misalnya sudah jelas-jelas alkitab mengatakan, bahwa tak seorang pun mengetahui dengan pasti kapan persisnya Yesus akan datang kembali. Ini, semua pendeta yang tidak buta huruf, dan pernah membaca Alkitab, pasti tahu. Eee, lha kok ya bisa bisanya ada pendeta yang mengatakan, konon melulu berdasarkan "bisikan", bahwa Ia akan datang pada tanggal 10 November 2003. Lalu ketika terbukti bahwa ramalan tersebut meleset, astaga, masih tidak malu-malunya si pendeta itu ngeyel lagi. Mengatakan bahwa, karena satu dan lain hal, kedatangan-Nya ditunda sampai 10 November 2007. Tragis! Namun demikian, toh ada yang lebih menyedihkan. Yaitu, bahwa banyak orang mempercayainya. Rela di "dusta"i - untuk kesekian kali; berkali-kali.
TAPI "dusta", memang benar, ada bermacam-macam bentuknya. Bisa dilakukan dengan cara mengatakan hal yang tidak benar. Sebaliknya bisa terjadi dalam bentuk bungkam seribu bahasa, sengaja tak mau mengungkapkan kebenaran. Tapi dapat pula dengan menyampaikan hanya "setengah" kebenaran. Berbeda-beda. Walaupun dalam satu hal ini, semuanya sama. Yaitu bahwa setiap "dusta" selalu dilakukan dengan sadar dan sengaja.
Ada cerita tentang seorang yang baru saja tiba dari Amerika, yang berkunjung ke Minahasa. Kepada orang yang menemaninya dalam perjalanan itu, ia berpesan wanti-wanti agar diberitahu, bila dalam jamuan makan disajikan erwe atau daging anjing. Dan agar lebih yakin, permintaan ini ia ulang-ulangi setiap kali sebelum mengambil makanan. Sampai suatu ketika ia melihat makanan yang "aneh" tapi menarik. "Ini bukan erwe, 'kan?," ia bertanya. "O, bukan," jawab yang ditanya. Lalu ia mencicipinya. Mula-mula sedikit, tapi karena terasa enak, ia mengambil lagi lebih banyak. Dalam perjalanan pulang, ia bertanya, "Daging tadi rasanya enak betul. Daging apa itu?". "Itu daging paniki," jawab si teman. "Apa itu paniki?" "Kalong," jawab si teman. Si tamu Amerika itu terbelalak. "Kalong? Daging kalong?", suaranya setengah tercekik, "Mengapa Anda tidak memberitahu saya?" "Lho, yang Anda tanya 'kan apakah itu daging anjing. Anda tak pernah bicara soal kalong."
Berdustakah si pemandu? Jawab saya adalah "ya", sekalipun ia tidak mengatakan yang tidak benar. Ia berdusta, karena secara sadar dan sengaja ia tidak mengatakan, apa yang ia tahu harus ia katakan. Ia berdusta karena dengan itu ia mengelabui temannya. Membuat temannya melakukan sesuatu, yang -- sekiranya diberitahu -- tak akan pernah mungkin ia lakukan. Ia berdusta bukan karena mengatakan ketidak-benaran, tetapi karena sengaja tidak mengatakan seluruh kebenaran.
KATA "iblis" berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani, "diabolos". Dan makna asli dari "diabolos", adalah "pemfitnah". "Tukang fitnah" atau "juru fitnah"! Itulah memang keahlian, kekhasan, dan senjata Iblis yang paling menonjol, dan yang paling banyak menimbulkan korban.
Apa "fitnah" itu, kita tahu. "Fitnah" adalah "dusta" dalam kadar yang paling tinggi. Kalau diibaratkan emas, ia emas murni. 24 karat. Kalau teknologi, ia "top"nya. Mengapa? Karena dalam "fitnah" semua unsur kejahatan dari "dusta" lengkap terwakili. Di situ ada unsur kesengajaan mengatakan sesuatu yang tidak benar. Di situ ada maksud dan tujuan yang destruktif; niat untuk menghancurkan. Dan di situ ada bentuk penipuan yang sedemikian pintarnya, membuat korban sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnyalah ia sedang didustai atau diperdayai.
Anda ingat bagaimana ibu Hawa -- mewakili segenap keturunan manusia -- ketika terjerat ke dalam perangkap Iblis? Ini terjadi sama sekali bukan karena ia kurang pengetahuan tentang apa yang dikehendaki Allah. Mengenai ini, o, lebih dari kebanyakan kita, ibu kita ini hafal di luar kepala. Kejatuhannya juga tidak disebabkan karena ia berhati jahat atau kurang gigih dalam berusaha untuk taat. Sama sekali tidak! Mengenai ini, o, lebih dari kebanyakan kita, ia telah berusaha sekuat tenaga untuk melawan bujukan Iblis. Tapi mengapa akhirnya Hawa toh jatuh juga? Pertanyaan yang tepat! Jawabnya adalah, karena ia termakan oleh fitnah Iblis. "Sekali-kali kamu tidak akan mati. Tetapi Allah mengatahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat" (Kejadian 3:4-5). Iblis, seperti biasa, tidak sepenuhnya memutar-balikkan kenyataan. Yang ia lakukan adalah memutar-balikkan cara pandang orang. Tapi justru inilah, bentuk "fitnah" dengan kualitas nomor satu! Yaitu ketika Iblis, melalui manuvernya itu, dengan cerdiknya memutar-balikkan cara pandang manusia terhadap Allah.
Semula dengan tanpa protes, manusia menaati larangan Allah, sebab yakin bahwa setiap kehendak Allah pasti benar dan baik. Kini, oleh Iblis, sudut pandang ini mulai digoyang. Citra Allah sebagai bapa yang "maha baik" mulai digugat. Sebuah sudut pandang baru mulai disuntikkan pelan-pelan ke pembuluh darah. Yaitu gambaran Allah sebagai yang semena-mena mau memonopoli kekuasaan; Allah yang tidak mau disamai, sebab ingin terus memperlakukan manusia sebagai obyek semata. Toh bagi Iblis, ini hanya "sasaran antara" belaka. Tujuan yang lebih jauh adalah, begitu kebaikan Allah diragukan, maka roh pemberontakan pun mulai membara. Allah akan dipandang sebagai penindas, sedang Iblis justru dirangkul sebagai pembebas.
Demikianlah sebuah contoh lagi, betapa dosa "dusta" tidak hanya terjadi ketika orang mengatakan sesuatu yang tidak benar. "Dusta" terjadi, setiap kali maksud jahat disajikan, walau dalam bungkus kain sutera "setengah kebenaran" sekalipun. "DUSTA" adalah salah satu contoh, di mana "dosa" tidak terletak pada tindakan itu sendiri an sich, melainkan lebih banyak ditentukan oleh "motivasi" dan "akibat" dari tindakan yang bersangkutan. Mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang sebenarnya, tidak serta merta membuat sebuah tindakan pantas disebut sebagai "dosa dusta".
Bayangkan, misalnya, di suatu siang Anda bertamu ke kantor seseorang untuk menjajaki kemungkinan kerjasama usaha. Anda disambut dengan ramah-tamah, tapi tetap formal. Maklum, baru kenal. "Anda berkenan minum panas atau dingin? Atau barangkali makan siang?" Perut Anda sebenarnya menyambut dengan gembira tawaran ini. Tapi saya yakin, sesuai dengan tata krama, Anda tahu bahwa jawaban yang paling bijaksana adalah, kira-kira, "O terima kasih banyak! Tapi saya ingin menghormati waktu Anda yang sangat terbatas dan amat berharga. Lagi pula perut saya belum lapar benar. Karena itu, mungkin air putih dingin sudah cukup untuk saya". Nah, berdustakah Anda?
Atau ini. Anda secara khusus dipanggil oleh dokter yang memeriksa nenek Anda. Dokter itu menjelaskan bahwa di samping penyakit jantung kronis, nenek Anda ternyata juga mengidap kanker ganas dalam stadium yang cukup lanjut. Dan ia sudah terlalu tua untuk menjalani operasi atau pun kemoterapi. Apa jawab Anda ketika nenek Anda bertanya, "Apa kata dokter? Apa saya akan sembuh?" Apakah Anda - agar tidak dinyatakan berdusta - akan mengatakan, "Kata dokter, nenek masih punya peluang hidup 2-3 bulan lagi. Karena itu, nenek ingin makan apa, mumpung masih bisa makan"? Atau, demi maksud baik, Anda berpikir lebih bijaksanalah bila Anda menjawab, kira-kira, "Kata dokter, dalam dua atau tiga hari ini, nenek sudah diperbolehkan pulang. Dokter sedang berusaha untuk mencari obat yang tepat untuk nenek. Jadi sementara ini, nenek nikmati sajalah apa yang ingin nenek nikmati. Terutama, mendekatlah kepada Tuhan". Artinya, dengan sengaja Anda tidak mengatakan seluruh kebenaran.
KARENA kasus-kasus sejenis itulah, orang lalu membedakan antara "dusta hitam" dan "dusta putih". Saya sendiri lebih suka memakai istilah "berbohong" dan "menipu". Kedua-duanya sama-sama "berdusta". Tetapi yang satu dilakukan demi kebaikan, sedang yang lain dirancang untuk kejahatan. Tapi benarkah pembedaan itu? Saya persilakan Anda yang menjawabnya. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa sejak manusia jatuh ke dalam dosa, maka manusia tak dapat lagi "telanjang" di hadapan yang lain. Manusia tak dapat lagi terbuka sepenuhnya di hadapan yang lain. Selalu saja ada ketelanjangan yang perlu ditutupi. Karena itu, terlepas dari soal benar-salahnya, "dusta" lebih merupakan sesuatu yang tak terhindarkan. Sebab itu, yang kemudian lebih menentukan adalah "motivasi" dan "konsekuensinya"; bukan "boleh-tidak"nya. Namun demikian toh perlu saya tekankan, bahwa secara umum kejujuran tetap merupakan kebijakan yang terbaik. Honesty is still the best policy. Bahwa kemudian, setelah diupayakan sepenuh tenaga, situasi menuntut yang lain, ini adalah soal lain. ***
Penulis: Eka Darmaputera