by PKA STAN Prodip Keuangan | Thu, 24 Sep 2026 | Renungan
“Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihannya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Luk. 18:7).
Apakah ada orang Kristen yang doanya tidak konstan atau labil, dengan kata lain tidak tekun? Ada seseorang pernah berkata, “Sepertinya saya sudah kehilangan semangat untuk berdoa. Habis, sudah sekian lama saya berdoa dan bergumul minta Tuhan buka jalan, sampai hari ini, tidak ada tanda-tanda jawaban.” Tidak mudah juga untuk segera meresponi pernyataan semacam ini, bukan? Bila dia dinasihati, mungkin dia akan berkata, “Coba anda yang mengalaminya, bagaimana?”
Memang setiap orang percaya diuji juga, lewat permintaan doa yang belum dijawab oleh Tuhan. Akibatnya bisa terjebak pada konsep “mengukur” jawaban Tuhan yang supranatural, dengan standar berpikir manusiawi yang natural. Mungkin bahasa yang lebih bebas lagi, seolah-olah ‘mengatur’ atau ‘mempertanyakan’ Tuhan, mengapa tidak menjawab doa. Bagi orang percaya yang benar, ia mengerti kedaulatan Tuhan dalam menjawab doa, sehingga ia belajar untuk “berserah” kepada-Nya, karena Dia tahu kehendak Tuhan yang terbaik.
Gambaran Yesus tentang sikap seorang hakim yang tak takut akan Tuhan, tetapi akhirnya ia menjawab juga, untuk menunjukkan suatu perbandingan yang kontras (argumentum fortiori - AI), apalagi Allah sendiri, Bapa yang adil dan penuh kasih, yang pasti bertindak membela janda, yang tak kenal putus asa itu. Gambaran dengan mengambil contoh yang ekstrim itu, untuk menekankan prinsip (dalam ayat 7); bahwa Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya, yang terus bertekun (tak jemu-jemu) dalam berdoa dihadapan-Nya. Melalui 1 Tesalonika 5:17, “Tetaplah berdoa” - yang dikenal sebagai ayat tersingkat tetapi sangat padat muatannya itu, Paulus juga mau menekankan prinsip yang sama. Seorang anak Tuhan sadar bahwa, berdoa bukan sekedar terus meminta, tetapi senantiasa membangun komunikasi dengan Bapanya. Ia tidak berdoa dalam rangka kepentingannya sendiri, tetapi bagi kemuliaan Allah juga. Itulah sebabnya mengapa dalam Doa Bapa Kami (the Lord’s Prayer), dengan jelas Yesus memulai dengan “Bapa kami yang di sorga, dikuduskanlah nama-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.” Monika, lama berdoa dengan gigih dan menangis selama 17 tahun bagi anaknya Agustinus, yang kala itu mulai jauh dari Tuhan dan terjebak oleh ajaran yang sesat (Manikheisme). Konon setelah Agustinus bertobat, tidak lama kemudian Monika meninggal di Roma (387M). Seolah dia mau berkata: “Anakku sudah kembali, saatnya aku pulang ke sorga.”
Apakah kita adalah orang yang tetap bertekun dalam doa, meskipun ‘tampaknya’ doa kita belum dijawab? Ingat, sikap kita yang benar dalam hal berdoa, menunjukkan kematangan rohani kita juga. “Keep on praying all the time.”
Inspirasi: Tidak ada alasan bagi seorang yang mengasihi Tuhan untuk berhenti berdoa. Baginya, makin banyak tekanan, justru makin banyak berdoa.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Wed, 23 Sep 2026 | Renungan
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (1 Yoh. 3:18)
Kalau ada kasih yang aktif, apakah berarti ada kasih yang pasif? Apakah kasih yang pasif itu maksudnya orang yang hanya bicara mengasihi tanpa perbuatan nyata? Mungkin saja, dan memang dalam kenyataan, seperti itulah yang terlihat. Orang bilang, kalau mengajar orang lain hebat, tetapi bagaimana dengan dia sendiri? Ada lagi orang, kelihatan mengasihi (aktif), tapi hanya berpura-pura, tidak tulus, punya motivasi supaya dilihat orang. Kalau yang ini bagaimana lagi?
Yang jelas Alkitab berbicara soal kasih yang tulus dan benar, dengan motivasi yang murni. Tuhan sendiri yang menilai dan memberkati setiap orang yang mengasihi dengan kesungguhan hati. Yohanes mengulangi bahwa mengasihi saudara adalah suatu keharusan, karena hal itu adalah perintah (ay. 11 - cf. Mat.22:39). Suatu perintah selalu menuntut kepatuhan, karena itu adalah sifat atau karakter setiap anak Tuhan. “Love, however, is incomplete alone; it requires action.” (Bill Bright). Bukan seperti Kain yang tanpa kasih, tega menghabisi nyawa adiknya sendiri. Kebenciannya yang begitu membara, sampai membunuh Habel yang tak bersalah itu. Benar-benar hatinya telah menjadi gelap, karena si jahat (Iblis), telah mengambil alih tahta hatinya. Yohanes mengingatkan agar jemaat waktu itu tidak berperilaku seperti itu. Hingga hari ini, tabiat “benci” akan kebenaran, semakin membara dalam hati orang yang belum mengerti dan percaya kepada Kristus. Namun dapatlah dimaklumi, seperti doa Yesus, orang-orang semacam itu tidak tahu apa yang diperbuatnya (Luk. 23:34). Seperti juga Paulus pernah mengakui bahwa apa yang ia perbuat, itu tanpa pengetahuan yaitu di luar iman (1 Tim. 1:13). Kasih yang dibicarakan Alkitab adalah kasih yang tanpa syarat (unconditional love), yaitu “kasih yang walaupun” bukan “kasih kalau.” Bicara soal kasih ini, William Barclay menulis, “Itulah suatu kewajiban yang telah dimasukkan dan diajarkan terus menerus di dalam kekristenan, mulai dari saat pertama seseorang masuk ke dalam gereja. Etika Kristen dapat diikhtisarkan dalam satu kata kasih, dan sejak seseorang mengangkat sumpah untuk mengikut Kristus, maka ia menempatkan dirinya sendiri untuk menjadikan kasih sebagai dorongan utama dari kehidupannya.”
Kita sendiri bagaimana? Entah berapa kali kita pernah mengingatkan atau mengajar orang untuk mengasihi, bukan? Dan mungkin orang yang kita ajari, malah sudah melakukannya lebih dari kita sendiri. Tentu saja ironis. Namun masih ada kesempatan bagi kita untuk menyatakan kasih kita pada mereka, yang harus kita kasihi. Mungkin itu dalam keluarga, dalam komunitas pelayanan dan profesi kita, bahkan dengan mereka yang ‘memusuhi’ kita sekalipun.
Inspirasi: Dunia di sekitar kita, ingin melihat kasih yang visible (nyata di mata mereka), bukan kasih yang verbal, yang hanya audible, yang segera berlalu.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Tue, 22 Sep 2026 | Renungan
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18)
Saat kecelakaan, dahi kanan saya terluka dan harus dijahit 12 jahitan. Saya sedih sekali, berdoa agar dimampukan untuk bersyukur, cepat sembuh dan bekas jahitan bisa bagus. Pada saat bersyukur, proses pengobatan berjalan wajar dan bekas jahitan hampir 9 tahun pun tidak hilang. Namun rasa syukur membuat hati lebih damai sejahtera menerima kenyataan yang tidak menyenangkan. Dalam segala hal yang sulit dipahami, Allah setia menolong. Saat semua kondusif pekerjaan berhasil, studi lancar, sehat, dll mudah sekali kita bersyukur. Tetapi ketika keadaan berubah usaha macet, sakit, proyek gagal dll, sering kali berat hati untuk mengucap syukur.
Paulus mengajarkan: “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” Bukan: “… karena semua hal.” Artinya, ketika kita sedang sakit, usaha berantakan, proyek mangkrak, studi terhambat, dll tidak perlu berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Kita boleh sedih. kecewa. menangis. namun secepatnya mengucap syukur dalam segala keadaan sepahit apapun, sebab Allah selalu setia menolong. Ketika kita bersyukur, kita sedang mempercayai Allah yang peduli.
Surat 1 Tesalonika ditulis Paulus untuk jemaat di Tesalonika yang sedang mengalami tantangan dan tekanan karena iman mereka. Paulus menguatkan mereka agar tetap hidup dalam iman, kasih, pengharapan, dan kekudusan sambil menantikan kedatangan Tuhan. Di dalam nasihat tersebut ada tiga kalimat pendek yang sangat kuat: “Bersukacitalah senantiasa.” “Tetaplah berdoa.” “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” Sukacita mengarahkan hati kepada pengharapan. Doa menjaga komunikasi dengan Allah. Ucapan syukur menolong kita melihat karya dan penyertaan Allah.
Ayat 16–18, tiga perintah yang saling berkaitan. Bersukacita → Berdoa → Bersyukur. Ayat 18, “Dalam segala hal, bersyukurlah.” Kita harus mengucap syukur, berterima kasih, atau menyatakan rasa syukur. Sedangkan ἐν παντί (en panti) berarti: “dalam segala hal” atau “dalam setiap keadaan.” Paulus tidak mengatakan bahwa semua hal yang terjadi adalah baik. Ada penderitaan yang tidak baik, ketidakadilan, kehilangan yang menyakitkan, kegagalan yang melukai. Paulus mengajarkan bahwa: Dalam keadaan apa pun, kita tetap harus bersyukur kepada Allah. Keadaan bisa berubah, tetapi Allah tidak pernah berubah. Mengucap syukur adalah ekspresi iman kepada Allah yang setia dalam segala hal.
1 Tesalonika 5:18, ada dua bagian penting: “Mengucap syukurlah dalam segala keadaan.” dan: ” Sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kamu dalam Kristus Yesus. Jadi ucapan syukur bukan sekadar kebiasaan positif dan optimis, tapi merupakan kehendak Allah yang harus ditaati. Ketika kita bersyukur, kita sedang mengakui, bahwa hidup kita tidak hanya ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi oleh kasih dan kuasa Allah.” Bersyukur bukan berarti menolak kesulitan dan penderitaan, tidak boleh sedih, pura-pura bahagia, semua masalah pasti langsung selesai, dll. Namun bersyukur adalah meyakini bahwa Allah selalu baik dan setia menopang. Mungkin kita belum memahami semua rencana Tuhan, tetapi kita harus tetap percaya bahwa Ia menolong tepat pada waktu-Nya.” Rancangan-Nya pasti yang terbaik.
Inspirasi: Mengucap syukur dalam segala keadaan membuat hati kita damai merasakan kekuatan, penghiburan, kebaikan, dan pertolongan Allah.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Mon, 21 Sep 2026 | Renungan
"Dengan Allah kita akan melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita." (Mazmur 108:14, TB)
Pernahkah Saudara merasa bahwa perjuangan hidup dan pelayanan yang sedang Anda hadapi terlalu besar untuk dimenangkan? Di tengah tekanan finansial, konflik relasi, atau rasa lelah dalam memuridkan, hati kita sering kali diliputi kecemasan dan keputusasaan.
Kitab Mazmur memuat doa-doa umat Allah dalam berbagai realitas kehidupan. Mazmur 108 unik karena Daud menggabungkan dua mazmur sebelumnya (Mazmur 57:8-12 dan Mazmur 60:7-14) menjadi satu doa yang utuh. Konteks perikop ini adalah situasi ketika bangsa Israel berhadapan dengan musuh-musuh besar seperti Edom. Daud menyadari kegagalan pertolongan manusia (shaw’ / kesia-siaan), sehingga ia berpaling kepada kedaulatan Allah yang berjanji atas tanah pusaka-Nya. Istilah bahasa Ibrani untuk "melakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa" ('asah chayil) merujuk pada keberanian yang bersumber sepenuhnya dari kuasa dan kesetiaan janji Allah, bukan kekuatan militer manusia. Kemenangan sejati yang digambarkan Daud menunjuk secara ultimate pada karya Kristus di kayu salib, di mana Ia menaklukkan kuasa dosa dan musuh terbesar kita.
Kemenangan dalam mengikut Kristus dan melayani-Nya tidak ditentukan oleh besarnya tantangan yang kita hadapi, melainkan oleh besarnya penyertaan Allah yang kita andalkan.
Hari ini, bawa satu pergumulan terbesar dalam pelayanan atau pekerjaan Saudara ke dalam doa, lalu ambillah satu langkah iman konkret tanpa mengandalkan kekuatan diri sendiri.
Inspirasi: Melangkah bersama Allah mengubah kegentaran menjadi kemenangan bagi kemuliaan-Nya.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 20 Sep 2026 | Renungan
“Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11: 6)
Bapak tua itu setiap pagi pergi ke ladang. Ia menaburkan benih ke tanah (jagung, kacang panjang, tomat, cabe, terong, dll). Setelah benih ditabur, ia tidak dapat melihat apa yang terjadi di dalam tanah, tidak dapat memerintahkan benih supaya tumbuh, tidak bisa memaksa hujan turun, tidak dapat memastikan apakah setiap benih itu menghasilkan panen besar. Ia tetap setia menabur, sebagai bentuk tanggung jawab. Pertumbuhan benih tersebut ada dalam kuasa-Nya.
Nats hari ini, mengajarkan kita agar tidak pasif. Justru sebaliknya, kita harus bertindak bijaksana dalam pimpinan-Nya, meskipun masa depan masih misteri. Pengkhotbah 11: 1-6,
Ayat 1, “Lemparkanlah rotimu ke air…” seperti tindakan yang sia-sia. Namun tidak ada yang sia-sia di dalam Tuhan.
Ayat 2, “… tidak tahu malapetaka apa yang akan terjadi di atas bumi.” Bencana alam bisa saja tiba-tiba melanda dengan dahsyat menghancurkan semuanya.
Ayat 3, …tidak tahu kapan hujan turun.” Musim berubah tidak bisa diprediksi, kadang kemarau sangat lama dan kekeringan panjang. Atau tiba-tiba hujan turun sangat deras banjir dimana-mana.
Ayat 5, “…tidak tahu bagaimana angin bergerak. Tidak tahu bagaimana kehidupan terbentuk dalam Rahim.” Semua misteri di tangan-Nya.
Ayat 6, “..tidak tahu mana yang akan berhasil.” Jadi yang utama adalah hidup dalam kuasa-Nya, ketika semua tidak ada kepastian.
Ayat 6 menjadi puncak nasihat: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari...” Ini adalah gambaran tentang ketekunan, keberanian, dan kesetiaan, meskipun kita belum tahu hasil akhirnya. Kita dipanggil untuk setia menabur, apapun hasilnya ada dalam kedaulatan Nya. Iman tidak hanya berkata dan berharap, tetapi harus bertindak dengan cermat. “Janganlah memberi istirahat kepada tanganmu” Ini kegigihan, bukan berarti tidak boleh beristirahat secara fisik, tetapi jangan berhenti melakukan tanggung jawab dan kebaikan meski hasilnya belum terlihat. Ada waktu untuk menabur, menunggu, dan menuai. Ketidakpastian tidak boleh menghentikan kerja keras untuk menabur. Kita tidak tahu apakah ini atau itu yang akan berhasil” Inilah realitas kehidupan, tidak semuanya bisa diketahui. Seorang mahasiswa belajar hari ini, tetapi belum tahu bagaimana masa depannya. Orang bekerja dengan jujur, belum tentu langsung melihat hasil perjuangannya. Namun semua tidak sia-sia di dalam Tuhan. Kita harus setia dan bertanggung jawab untuk menabur. Jangan malas. Allah berdaulat penuh atas pertumbuhan dan hasilnya (bd.1 Korintus 3:6). Allah memberi pertumbuhan pada waktu Nya seturut kehendak-Nya yang terbaik.
Inspirasi: Benih yang belum terlihat bukan berarti tidak bertumbuh. Tetap setia menabur, Allah berdaulat penuh memberi pertumbuhan yang menakjubkan.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sat, 19 Sep 2026 | Renungan
“Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” — Lukas 5:10
Bacaan kita hari ini menceritakan perjumpaan Yesus dengan Simon Petrus dan kawan-kawannya. Mereka telah bekerja keras sepanjang malam, tetapi tidak mendapatkan apa-apa. Di tengah kegagalan itu, Yesus datang dan meminta mereka bertolak ke tempat yang lebih dalam. Ketika mereka taat, mereka mengalami mujizat.
Namun, mujizat ikan bukanlah akhir dari cerita. Yesus kemudian memberikan panggilan yang jauh lebih besar kepada Petrus: menjadi penjala manusia. Yesus tidak memanggil Petrus dan teman2-nya hanya untuk mendapatkan banyak ikan. Ia mengubah arah hidupnya. Dari seorang yang mencari ikan menjadi seorang yang akan membawa manusia kepada Tuhan. Menjadi penjala manusia berarti menggunakan kehidupan kita untuk memperkenalkan kasih Kristus kepada orang lain melalui perkataan, sikap, pelayanan, dan kesaksian hidup.
Ketika Petrus menyadari siapa Yesus, ia berkata, “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Petrus menyadari kelemahannya. Tetapi Yesus tidak menolaknya. Yesus berkata, “Jangan takut.” Ini penting: Tuhan mengetahui kelemahan dan kekurangan kita, tetapi Ia tetap dapat memakai kita. Panggilan Tuhan bukan diberikan kepada orang yang sempurna, melainkan kepada orang yang bersedia menyerahkan hidupnya kepada-Nya.
Seorang nelayan tidak hanya pergi ke laut untuk menikmati pemandangan. Ia pergi dengan tujuan menangkap ikan. Demikian juga orang percaya. Kita memang hidup di tengah dunia, bekerja, belajar, berkeluarga, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Tetapi kita memiliki tujuan yang lebih besar: menjadi saksi Kristus dan membawa orang mengenal kasih Tuhan. Di tempat kita berada—di keluarga, tempat kerja, sekolah, lingkungan, dan masyarakat—Tuhan menempatkan kita sebagai “penjala manusia.”
Inspirasi : Hari ini Tuhan juga berkata kepada kita: “Mari menjadi penjala manusia” - bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan kasih, teladan, ketaatan, dan kuasa Roh Kudus. Biarlah melalui kehidupan kita, semakin banyak orang mengenal dan datang kepada Kristus.