by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
"enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan" (Keluaran 20:9-10)
Perintah ini bukan perintah untuk beristirahat, tetapi juga perintah untuk bekerja. Perintah untuk bekerja, dan perintah untuk beristirahat. Keduanya -- "bekerja" dan "beristirahat" -- ternyata tidak berlawanan, dan jangan dipertentangkan. Keduanya bukan merupakan pilihan "ini atau itu"; "bekerja atau beristirahat". Tapi komplementer. Saling melengkapi. Yang satu tak mungkin tanpa yang lain.
Tidak mungkin orang hanya terus-menerus bekerja, tanpa beristirahat. Tapi mustahil pula, bila orang hanya mau beristirahat tanpa bekerja- kecuali bila yang bersangkutan sakit parah. Kinerja yang bermutu hanya dapat dihasilkan oleh mereka yang cukup beristirahat. Sebaliknya, istirahat yang paling nikmat adalah untuk mereka yang telah bekerja paling penat.
Bukankah perintah Tuhan ini adalah koreksi terhadap gaya hidup banyak orang khususnya sebagian besar pegawai negeri kita? Yaitu pada waktu semestinya bekerja, eee malah bersantai ria dan bermalas-malasan, sungguh menyebalkan! Sebaliknya tatkala seharusnya sudah bisa beristirahat, terpaksa bekerja keras untuk mengejar ketinggalan.
Yang Tuhan kehendaki adalah, hidup yang DISIPLIN dan SEIMBANG. Bekerja pada waktu bekerja. Beristirahat pada waktu istirahat. Baik dalam melakukan pekerjaan sekuler kita, maupun ketika melaksanakan tugas misioner kita. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, " kata Yesus, "selama hari masih siang; (sebab) akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja" (Yohanes 9:4) Menurut Yesus, waktu tidak berjalan siklis (= melingkar) melainkan linear (= lurus). Untuk masing-masing ada waktunya. Ada waktunya bekerja, ada waktunya beristirahat. Setiap saat adalah kesempatan. Peluang yang kadang-kadang cuma sekali datang, lalu tak pernah terulang.
Jadi selama Anda masih diberi kesempatan bekerja, bekerjalah sekeras-kerasnya dan sebaik-baiknya! Sebab satu saat "akan datang malam, di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja". Dan bila "malam" itu datang, maka betapa pun Anda ingin, yang akan tersedia cuma penyesalan. Penyesalan tanpa obat.
Penulis: Pdt. Dr. Eka Darmaputera
Sumber: http://www.glorianet.org/ekadarmaputera/ekadhakb.html
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 7 Sep 2025 | Artikel, Renungan
Keluaran 32:7-14. Mazmur 51:1-10. 1Timotius 1:12-17. Lukas 15:1-10
Lihatlah sekelilingmu pandanglah ke ladang-ladang, adalah sebuah penggalan bait di Kidung Jemaat 428. Sikap melihat sekeliling dengan kepekaan semakin jarang kita jumpai. Kagum sesaat, tertegun sejenak, mungkin juga terkejut atau marah adalah ekspresi yang mungkin kita alami pada saat kita melihat sekeliling. Lalu setelah itu apakah yang kita lakukan? Meneruskan perjalanan atau terlibat lebih dalam? Pilihan mudah adalah meneruskan perjalanan, kembali tenggelam dalam kepentingan dan tujuan yang hendak saya capai. Pilihan kedua yaitu terlibat lebih dalam menuntut pengorbanan, ketekunan, kerelaan dan kerendahan hati, dan itu adalah pilihan sulit.
Halangan terbesar lainnya untuk dapat terlibat lebih jauh adalah perasaan kecil, tidak bisa apa-apa dan tidak layak. Perasaan itu membuat kita tidak berdaya untuk berbuat sesuatu dalam konteks di sekeli-ling kita. Akhirnya kita pun memilih untuk terus melanjutkan perjalanan sambil menyimpan apa yang kita lihat dalam benak, yang sesaat kemudian terlupakan.
Di lain sisi, Allah mengutus sekaligus memercayakan kita untuk melakukan sesuatu di sekeliling kita. Kehadiran kita di konteks tertentu memuat tugas panggilan khusus dari Allah sebab Allah ingin kehadiran kita, baik secara personal dan komunitas, menjadi bermakna bagi sekeliling. Tugas ini tidak menuntut kehebatan tetapi kemurahan hati. Tugas ini tidak menuntut kesempurnaan tetapi kemauan untuk berbela rasa. Paulus mendata kelemahannya (ayat 13) tetapi kelemahan itu tidak menghalangi kepercayaan yang Allah berikan kepadanya. Paulus mempergunakan kesempatan itu untuk hadir menjadi berkat di sekelilingnya sebagai persembahan cintanya kepada Allah. Ia merasa yang paling berdosa dan di titik yang sama Ia merasakan cinta Allah yang besar, memercayainya dan memberkatinya. Mari lihat sekeliling kita, bergerak dan bertindaklah sekarang untuk berbuat sesuatu dalam pertolongan Allah. Membangun pelayanan, menciptakan persekutuan, menghadirkan kebaikan sebab Tuhan memercayakan pelayanan ini kepada kita.
Sumber: Tuhan Memercayakan Pelayanan Kepada Kita - GKI Pondok Indah
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 6 Oct 2024 | Artikel, Keuangan
Tantangan keuangan adalah bagian dari kehidupan yang sering kali tidak terhindarkan. Namun, dengan iman, umat Kristen dapat menghadapinya dengan tenang dan penuh keyakinan. Alkitab memberikan banyak contoh tentang bagaimana iman dapat membantu mengatasi kesulitan finansial dan memberikan kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan.
Pertama, iman membantu kita untuk tetap tenang dan tidak khawatir. Dalam Matius 6:31-33, Yesus mengingatkan kita untuk tidak khawatir tentang kebutuhan sehari-hari, tetapi mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita. Dengan mempercayakan segala kebutuhan kita kepada Tuhan, kita dapat mengatasi rasa cemas dan fokus pada solusi yang ada.
Kedua, iman memberikan kita kekuatan untuk bertahan dalam situasi sulit. Dalam Filipi 4:13, Paulus menulis, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” Ayat ini mengingatkan kita bahwa dengan iman, kita dapat menghadapi segala tantangan, termasuk masalah keuangan, karena Tuhan memberikan kekuatan yang kita butuhkan.
Ketiga, iman mendorong kita untuk mencari hikmat dan bimbingan Tuhan dalam mengelola keuangan. Dalam Yakobus 1:5, Alkitab mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Dengan berdoa dan mencari bimbingan Tuhan, kita dapat membuat keputusan keuangan yang bijak dan sesuai dengan kehendak-Nya.
Dengan demikian, mengatasi tantangan keuangan dengan iman adalah langkah penting dalam kehidupan Kristen. Iman membantu kita untuk tetap tenang, memberikan kekuatan, dan mendorong kita untuk mencari hikmat Tuhan. Dengan iman, kita dapat mengelola keuangan kita dengan cara yang memuliakan Tuhan dan membawa damai sejahtera dalam hidup kita.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 6 Oct 2024 | Artikel, Keuangan
Doa adalah bagian integral dari kehidupan Kristen, termasuk dalam manajemen keuangan. Melalui doa, umat Kristen dapat mencari hikmat dan bimbingan Tuhan dalam mengelola keuangan mereka. Doa juga membantu menjaga hati tetap fokus pada Tuhan dan bukan pada kekayaan materi.
Pertama, doa memberikan kita hikmat untuk membuat keputusan keuangan yang bijak. Dalam Yakobus 1:5, Alkitab mengatakan, “Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit, maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Dengan berdoa, kita dapat meminta hikmat dari Tuhan untuk mengelola keuangan kita dengan bijaksana dan sesuai dengan kehendak-Nya.
Kedua, doa membantu kita untuk tetap bersyukur dan puas dengan apa yang kita miliki. Dalam Filipi 4:6-7, kita diajarkan untuk tidak khawatir tentang apapun, tetapi dalam segala hal menyampaikan permohonan kita kepada Tuhan dengan ucapan syukur. Dengan berdoa, kita dapat mengatasi rasa cemas tentang keuangan dan belajar untuk bersyukur atas berkat yang telah kita terima.
Ketiga, doa memperkuat iman kita dalam menghadapi tantangan keuangan. Dalam Matius 6:31-33, Yesus mengingatkan kita untuk tidak khawatir tentang kebutuhan sehari-hari, tetapi mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita. Dengan berdoa, kita dapat mempercayakan segala kebutuhan kita kepada Tuhan dan yakin bahwa Dia akan menyediakan apa yang kita perlukan.
Dengan demikian, doa memainkan peran penting dalam manajemen keuangan Kristen. Ini membantu kita untuk membuat keputusan yang bijak, tetap bersyukur, dan memperkuat iman kita dalam menghadapi tantangan keuangan. Dengan mengandalkan doa, kita dapat mengelola keuangan kita dengan cara yang memuliakan Tuhan dan membawa damai sejahtera dalam hidup kita.
by PKA STAN Prodip Keuangan | Sun, 6 Oct 2024 | Artikel, Keuangan
Setiap berkat yang diterima adalah tanggung jawab yang harus dikelola dengan bijak. Dalam perspektif Kristen, mengelola berkat dengan bijak berarti menggunakan sumber daya yang telah Tuhan berikan untuk kebaikan dan kemuliaan-Nya. Prinsip ini melibatkan beberapa aspek penting yang dapat membantu umat Kristen dalam pengelolaan berkat mereka.
Pertama, kita diajarkan untuk bersyukur atas setiap berkat yang diterima. Dalam 1 Tesalonika 5:18, Alkitab mengatakan, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Rasa syukur ini mendorong kita untuk menghargai dan menggunakan berkat dengan bijak, serta tidak menyia-nyiakannya.
Kedua, mengelola berkat dengan bijak berarti menggunakan sumber daya untuk kebaikan. Ini termasuk mendukung pelayanan gereja, membantu mereka yang membutuhkan, dan berkontribusi pada kegiatan amal. Dalam 1 Timotius 6:18, kita diingatkan untuk “berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.” Dengan demikian, kita dapat menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Ketiga, kita harus mengelola berkat dengan tanggung jawab. Ini berarti membuat keputusan keuangan yang bijak, seperti menabung, berinvestasi dengan bijak, dan menghindari utang yang tidak perlu. Dalam Lukas 16:10, Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.” Dengan mengelola berkat dengan tanggung jawab, kita menunjukkan bahwa kita dapat dipercaya dengan lebih banyak berkat di masa depan.
Dengan demikian, mengelola berkat dengan bijak adalah bagian integral dari manajemen keuangan Kristen. Ini membantu kita untuk hidup sesuai dengan ajaran Alkitab, menjadi berkat bagi orang lain, dan memuliakan Tuhan melalui setiap keputusan yang kita buat. Dengan mengelola berkat dengan bijak, kita dapat mengalami sukacita dan kepuasan spiritual yang sejati.